Mengenal 3 Jenis Stressor dan Reaksi Tubuh Terhadapnya

Pemicu stres atau stressor ada banyak jenisnya
Seorang wanita tengah mengalami stres saat bekerja

Ada beragam penyebab yang membuat seseorang mengalami stres. Berbagai kejadian yang memicu stres, baik itu secara eksternal maupun internal, disebut sebagai stressor.

Ketika Anda mengalami stres, kondisi tersebut merupakan respons biologis alami tubuh saat menghadapi situasi tertekan atau berbagai jenis stressor.

Penting untuk memahami berbagai jenis stressor ini. Dengan memahaminya, Anda dapat mengidentifikasi penyebab stres yang sedang dialami. Sehingga, Anda dapat melakukan langkah-langkah antisipasi untuk meredakan stres dan mengurangi efek samping yang ditimbulkan masalah ini.

Mengenal jenis stressor

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, stressor dalam kehidupan manusia terbagi atas:

  • Stressor fisik
  • Stressor psikologi
  • Stressor sosial budaya.

Untuk memahami lebih lanjut mengenai berbagai stressor di atas, berikut penjelasan yang bisa Anda simak.

1. Stressor fisik

Stressor fisik atau stressor jasmaniah merupakan kondisi fisik yang membuat seseorang mengalami stres. Penyebab stres ini dapat berupa rasa nyeri, kelelahan fisik, maupun jenis penyakit yang menyebabkan Anda merasa tertekan dan mengalami stres.

2. Stressor psikologis

Stressor psikologis merupakan kondisi psikologis atau kejiwaan yang membuat Anda mengalami stres. Penyebab stres ini dapat berupa patah hati, konflik, dendam, iri hati, maupun berbagai jenis konflik batin lainnya.

3. Stressor sosial budaya

Stressor sosial budaya umumnya berasal dari keadaan sosial maupun lingkungan yang memicu munculnya stress pada seseorang.

Beberapa kategori stressor sosial budaya, di antaranya pensiun, PHK, menganggur, perceraian, dan sejumlah kondisi eksternal yang dapat menyebabkan seseorang mengalami stres.

Reaksi tubuh terhadap stressor

Ketika tubuh mengalami stres akibat berbagai jenis stressor, kelenjar hipotalamus di dasar otak bereaksi dengan menghasilkan berbagai hormon, termasuk hormon kortisol dan adrenalin. Berikut penjelasan mengenai kedua hormon ini

1. Hormon kortisol

Hormon kortisol merupakan hormon stres utama yang berperan penting saat Anda menghadapi berbagai stressor. Hormon ini pada dasarnya berfungsi untuk:

  • Meningkatkan jumlah glukosa dalam aliran darah
  • Membantu otak menggunakan glukosa secara lebih efektif
  • Meningkatkan aksesibilitas zat yang membantu proses perbaikan jaringan
  • Mengubah respons sistem imun
  • Memengaruhi sistem reproduksi dan menyebabkan gangguan seperti menstruasi tidak teratur, gairah seks menurun, impotensi, hingga penurunan produksi sperma
  • Memengaruhi bagian otak yang mengendalikan rasa takut

Hormon kortisol dapat membantu Anda menghadapi situasi stres berat secara lebih efektif. Namun, jika stres tidak dapat dikelola dengan baik dan kadar hormon kortisol tetap tinggi dalam waktu yang lama, kondisi ini dapat menyebabkan masalah, seperti:

  • Penambahan berat badan
  • Gangguan tidur
  • Kekurangan energi
  • Tekanan darah tinggi
  • Diabetes tipe 2
  • Osteoporosis
  • Penurunan daya ingat
  • Sistem kekebalan tubuh melemah sehingga Anda lebih rentan terhadap berbagai penyakit.

Selain itu, tingginya kadar hormon kortisol dapat menyebabkan masalah psikologis, seperti kecemasan dan kekhawatiran berlebih. Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan gangguan kejiwaan serius.

2. Hormon adrenalin

Selain hormon kortisol, tubuh juga menghasilkan hormon adrenalin saat merespons berbagai stressor. Pada dasarnya hormon ini berfungsi untuk:

  • Meningkatkan detak jantung dan laju pernapasan
  • Membuat otot lebih mudah menyerap glukosa
  • Melancarkan aliran darah ke otot
  • Merangsang produksi keringat
  • Menghambat produksi insulin.

Meski demikian, peningkatan hormon adrenalin secara rutin akibat stres dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti:

  • Rusaknya pembuluh darah
  • Hipertensi atau tekanan darah tinggi
  • Sakit kepala
  • Memperbesar risiko serangan jantung dan stroke
  • Kecemasan
  • Insomnia
  • Peningkatan berat badan.

Sebagai upaya menghindari masalah-masalah kesehatan yang diakibatkan oleh berbagai stressor, Anda dapat belajar untuk mengelola stres yang dialami, misalnya dengan berolahraga, meditasi, liburan, dan semacamnya. Jika stres masih menghantui, Anda bisa berkonsultasi kepada psikolog untuk menemukan jalan keluarnya.

Science Direct.
https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/physiological-stress
Diakses pada 20 April 2020

Kemkes RI
http://p2ptm.kemkes.go.id/infographic-p2ptm/stress/page/4/stressor-dalam-kehidupan-manusia
Diakses pada 20 April 2020

NCBI.
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4564342/
Diakses pada 20 April 2020

Web MD.
https://www.webmd.com/balance/stress-management/stress-level-too-high#1
Diakses pada 20 April 2020

Healthline.
https://www.healthline.com/health/stress
Diakses pada 20 April 2020

Healthline.
https://www.healthline.com/health/psychological-stress
Diakses pada 20 April 2020

Artikel Terkait