Penanganan Kejang pada Ibu Hamil yang Perlu Anda Ketahui

Kejang pada masa kehamilan merupakan kondisi serius yang bisa membahayakan ibu dan bayi
Jika tidak segera diatasi, kejang pada ibu hamil bisa memicu eklampsia.

Preeklampsia merupakan kondisi yang ditandai dengan terjadinya kenaikan tekanan darah pada ibu hamil. Apabila tidak segera diatasi, kondisi ini dapat berkembang lebih parah menjadi eklampsia. Dalam kondisi eklampsia, tekanan darah tinggi yang dialami ibu hamil dapat menyebabkan kejang.

Kejang pada ibu hamil merupakan kondisi yang serius, dan dapat membahayakan bayi maupun ibu. Karena itu, penting bagi Anda untuk memahami lebih jauh mengenai penanganan kejang yang tepat dan aman untuk ibu hamil, maupun janin.

Mengapa Kejang pada Ibu Hamil Berbahaya?

Kejang pada ibu hamil dapat berbahaya bagi ibu maupun bayi di dalam kandungan. Sebab saat kejang, pasokan oksigen ke janin dapat mengalami penurunan drastis. Selain itu, kejang juga dapat merusak saraf di otak ibu hamil.

Kerusakan tersebut dapat menyebabkan stroke, perdarahan di otak, pembengkakan otak, hingga herniasi otak. Kejang yang terjadi saat hamil juga berisiko meningkatkan risiko epilepsi pada ibu, maupun penurunan kemampuan kognitif, seperti gangguan daya ingat.

Karena itu, penanganan kejang pada ibu hamil perlu mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat. Berikut ini ciri-ciri kejang pada ibu hamil yang perlu Anda kenali.

  • Ibu hamil yang mengalami kejang, awalnya akan terlihat seperti orang yang sedang tidak sadarkan diri.
  • Selama 15 hingga 30 detik pertama terjadinya kejang, seluruh tubuh akan menjadi kaku akibat kontraksi otot.
  • Kontraksi juga akan terjadi pada pita suara, sehingga ibu hamil yang kejang akan terlihat seperti menangis.
  • Tubuh dapat berubah menjadi biru, apabila terjadi kesulitan bernapas.
  • Selama 30 hingga 45 detik selanjutnya, tubuh akan kejang dengan ritme yang teratur. Saat masa ini, penderita kejang dapat menggigit lidah atau buang air secara tidak sadar.
  • Kejang umumnya kan terjadi selama 1 hingga 2 menit.

Apabila ada ibu hamil yang mengalami ciri-ciri seperti di atas, maka penanganan yang tepat perlu segera dilakukan. Pada kondisi yang parah, kejang pada ibu hamil dapat menyebabkan kematian keduanya, baik ibu maupun bayi di dalam kandungan.

Penanganan Kejang pada Ibu Hamil

Ibu hamil yang mengalami kejang harus segera dibawa ke rumah sakit. Dokter akan melakukan langkah-langkah untuk segera menurunkan tekanan darah serta mempersiapkan prosedur agar ibu hamil tersebut dapat segera melahirkan.

1. Pemberian Magnesium Sulfat

Pada pasien dengan eklampsia maupun preeklampsia yang parah, dokter akan memberikan magnesium sulfat melalui infus. Oleh beberapa dokter, pemberian magnesium sulfat juga dilakukan saat proses melahirkan, meski preeklampsia yang dialami masih tergolong ringan.

2. Penanganan di ICU dan Unit Bersalin

Pemberian obat ini terus dilakukan selama 24 hingga 48 jam setelah kejang terjadi, dan dapat dilakukan di Intensive Care Unit (ICU) maupun unit bersalin. Selama pemberian magnesium, ibu hamil akan dipantau secara ketat.

Pemberian magnesium sulfat hanya dapat dilakukan oleh dokter. Sebab, ibu hamil yang menerima obat ini dapat mengalami overdosis, terutama jika memiliki riwayat gangguan fungsi ginjal.

Penanganan kejang pada ibu hamil harus dilakukan dengan cepat, tapi tetap berhati-hati, agar tidak membahayakan keselamatan ibu maupun bayi. Jangan lalai untuk rutin memeriksakan kandungan Anda, agar tanda-tanda awal preeklampsia dapat segera terdeteksi, sebelum bertambah parah.

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3119563/
Diakses pada 18 April 2019

Michigan Medicine, University of Michigan. https://www.uofmhealth.org/health-library/tn5187
Diakses pada 18 April 2019

Preeclampsia Foundation. https://www.preeclampsia.org/health-information/faqs/
Diakses pada 18 April 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed