Mengapa Kita Bisa Bermimpi? Ini 4 Teori yang Bisa Menjelaskan

(0)
08 Oct 2020|Azelia Trifiana
Apa yang menyebabkan kita bisa bermimpi?Ada banyak teori mengapa kita bisa bermimpi
Saat terbangun di pagi hari, terkadang masih melekat jelas di ingatan mimpi yang mampir saat tidur semalam. Entah itu mimpi buruk, mimpi indah, bahkan mimpi basah semuanya bisa datang tanpa terduga. Salah satu alasan mengapa kita bisa bermimpi adalah bagian dari aktivitas otak memproses segala informasi.Seseorang bisa bermimpi kapan saja saat tertidur. Namun, mimpi akan terasa paling nyata saat berada di tahapan tidur REM atau rapid eye movement. Ini adalah fase ketika otak bekerja paling aktif.

Mengapa kita bisa bermimpi?

seorang anak sedang tertidur
Penyebab mimpi masih perlu digali lebih jauh lagi
Sebenarnya hingga saat ini para pakar masih merumuskan mengapa kita bisa bermimpi. Penjelasannya tidak bisa semudah mendefinisikan cara kerja organ tubuh ketika terlelap.Terkait dengan mengapa kita bisa bermimpi, ada banyak versi yang berbeda-beda, seperti:
  • Cerita dan gambaran yang dibuat oleh pikiran saat tertidur
  • Peningkatan aktivitas di bagian otak tertentu saat tidur
  • Jika kerap mimpi buruk, bisa jadi ada masalah di alam bawah sadar
  • Pusat pengendali emosi di otak bekerja dengan aktif
Terlepas dari berbagai versi di atas, ada beberapa teori yang bisa memberi penjelasan mengapa kita bisa bermimpi:

1. Saluran emosi

Mimpi bisa menjadi cara menenangkan emosi fluktuatif dalam kehidupan seseorang. Ini mungkin saja terjadi karena otak beroperasi lebih emosional saat tidak tidur. Artinya, saat tidur otak bisa membuat koneksi atas perasaan-perasaan yang tidak bisa tersalurkan saat sedang sadar.

2. Fight or flight

Salah satu bagian otak yang paling aktif saat bermimpi adalah amygdala. Ini adalah bagian otak yang mengatur kemampuan bertahan diri, termasuk respons fight-or-flight.Menurut salah satu teori, aktifnya amygdala saat tidur ini membuat seseorang lebih siap menghadapi ancaman. Untungnya, batang otak membuat otok menjadi lebih rileks saat tahapan tidur REM. Itulah mengapa meski bermimpi sedang berlari pun, normalnya seseorang tidak ikut terbangun dan melakukannya.

3. Saluran kreativitas

Teori lain yang dapat menjawab mengapa kita bisa bermimpi adalah mimpi mewadahi kreativitas seseorang. Banyak seniman yang mengaku terinspirasi dari mimpi mereka, bukan? Ini bisa terjadi karena tidak ada filter logika seperti yang biasa digunakan ketika sedang terjaga. Dengan demikian, kreativitas bisa mengalir sebebas-bebasnya saat terlelap.

4. Menyusun memori

Mimpi juga disebut sebagai media untuk menyusun memori. Mana yang perlu disimpan, mana pula yang sudah saatnya dibuang. Fase tidur membantu seseorang menyimpan memori. Diduga kuat mimpi membantu otak menyimpan informasi penting secara lebih efisien tanpa intervensi apapun.Selain teori-teori di atas, ada juga yang menyebut mimpi murni sebagai bunga tidur dan tidak bermakna apapun.

Mimpi, banyak faktor yang berpengaruh

Bagaimana kondisi seseorang saat terjaga juga bisa berpengaruh pada mimpi, seperti:
  • Kondisi kesehatan

Salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap mimpi adalah kualitas tidur seseorang. Contohnya orang yang akhirnya tidur setelah dua hari begadang tentu bisa memiliki mimpi lebih jelas saat memasuki tahapan tidur REM. Selain itu, ketika sedang hamil seseorang juga bisa mengalami mimpi yang lebih jelas atau vivid dreaming. Penyebabnya adalah tingginya hormon yang berpengaruh terhadap cara otak memproses emosi dan cara berpikir.Tak kalah menarik, jenis-jenis gangguan psikologis seperti depresi, cemas berlebih, atau kepribadian ganda juga dapat membuat seseorang mengalami mimpi lebih intens. Kerap kali, mimpi ini berkaitan dengan hal yang buruk dan mengganggu. Konsumsi obat anti-depresan juga meningkatkan risiko mengalami mimpi buruk.
  • Makanan

Meski tidak ada bukti secara ilmiah, makanan juga diduga berpengaruh terhadap cara seseorang bermimpi. Contohnya makanan tinggi karbohidrat membuat seseorang berenergi secara instan namun kembali lesu sesaat kemudian. Apa yang dikonsumsi saat terjaga dapat berpengaruh terhadap kualitas tidur.Selain itu, makanan yang membuat seseorang kerap terbangun saat tidur di malam hari juga berpengaruh terhadap mimpi. Terbangun di fase REM akan membuat mimpi dapat diingat lebih jelas saat sudah terjaga.
  • Aktivitas

Aktivitas fisik seperti berolahraga di pagi hari berdampak positif terhadap kualitas tidur seseorang. Ini juga berpengaruh terhadap kadar stres seseorang. Semakin efektif seseorang mengelola stresnya dengan beraktitivas, kemungkinan membawa rasa cemas hingga tidur pun berkurang.

Catatan dari SehatQ

Alasan mengapa seseorang tak bisa mengingat mimpinya dengan jelas adalah karena zat kimia yang berhubungan dengan daya ingat atau norepinephrine berada di level terendah saat bermimpi. Itulah mengapa orang kerap tak mengingat sama sekali mimpinya ketika sudah terbangun.Namun, ada cara yang bisa diupayakan jika ingin mengingat mimpi lebih jelas. Apabila Anda ingin tahu lebih banyak tentang hal ini, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
tidurhidup sehatpola hidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/health/why-do-we-dream
Diakses pada 24 September 2020
Cleveland Clinic. https://health.clevelandclinic.org/why-do-we-dream-a-sleep-expert-answers-5-questions/
Diakses pada 24 September 2020
American Physiological Society. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3768102/
Diakses pada 24 September 2020
WebMD. https://www.webmd.com/sleep-disorders/dreaming-overview
Diakses pada 24 September 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait