Mengapa Gurita Bayi Tidak Boleh Lagi Digunakan? Ini Penjelasan Medisnya

Manfaat gurita bayi tidak terbukti secara ilmiah
Penggunaan gurita bayi dianggap dapat mengatasi bodong dan kembung pada bayi

Di Indonesia, penggunaan gurita bayi bukanlah hal yang aneh. Bahkan, kebiasaan ini dianggap sebagai tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya karena memiliki banyak manfaat. Benarkah demikian?

Gurita bayi merupakan kain panjang yang terbuat dari katun dengan ukuran standar 41 cm x 12,5 cm. Gurita bayi tradisional biasanya berwujud tanpa corak (polos), dengan ujung seperti robekan kain sebanyak 4-5 helai yang bisa disatukan bersama ujung lainnya dengan cara diikat di atas perut bayi.

Dalam perkembangannya, kini gurita bayi dijual dengan berbagai motif dan warna yang menggemaskan. Penggunaannya pun semakin praktis karena dilengkapi dengan perekat di tengah sehingga orangtua tidak perlu lagi mengikat tali gurita tersebut.

Waspada bahaya penggunaan gurita bayi

Penggunaan gurita bayi dipercaya banyak orang bisa mendatangkan banyak manfaat bagi bayi, misalnya mengecilkan perut buncit pada bayi, memperkecil risiko bayi mengalami gumoh, mencegah pusar bayi bodong, hingga mencegah masuk angin. Padahal, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) maupun Kementerian Kesehatan berpendapat sebaliknya.

Gurita bayi bukanlah jenis pakaian yang disarankan untuk dipakaikan kepada bayi. IDAI dan Kemenkes sependapat bahwa gurita bayi dapat mendatangkan bahaya bagi bayi, misalnya:

  • Membuat bayi sesak napas

Pemakaian gurita bayi dapat menekan lambung buah hati Anda sehingga membatasi pernapasannya. Bayi masih banyak bernapas lewat otot-otot perut sehingga membatasi pergerakan perutnya akan mengakibatkan ia sulit bernapas.

Orangtua juga sebaiknya tidak panik ketika melihat bayi bernapas dengan sangat cepat karena jumlah napas bayi memang lebih banyak dibanding orang dewasa. Rata-rata bayi bernapas sebanyak 40-60 kali per menit dan bisa melambat hingga 30-40 kali per menit ketika tidur.

Anda mungkin melihat bayi bernapas lebih cepat selama beberapa waktu, kemudian melambat selama kurang dari 10 detik, lalu bernapas normal kembali. Hal ini pun masih tergolong normal dan dinamakan bernapas periodik.

Jika Anda mencemaskan irama napas bayi yang terlalu cepat atau terlalu lambat, konsultasikan dengan dokter. Menggunakan gurita bayi untuk menormalkan kembali jalan napas bayi baru lahir bukanlah solusi.

  • Meningkatkan risiko bayi mengalami gumoh

Gumoh pada bayi sebetulnya hal yang biasa dan tidak berbahaya, serta dapat berkurang seiring pertambahan usia bayi. Gumoh pun bisa disebabkan oleh berbagai hal, misalnya posisi menyusu yang tidak tepat hingga belum sempurnanya katup antara lambung dan kerongkongan bayi.

Pemakaian gurita bayi pun bisa meningkatkan risiko bayi mengalami gumoh karena benda tersebut membuat lambung bayi tertekan. Bila dalam kondisi tersebut bayi dipaksa minum, maka lambungnya akan tertekan sehingga mengakibatkan cairan kembali ke mulut alias gumoh.

  • Tidak terbukti dapat mencegah perut kembung

Orangtua mungkin merasa khawatir pada perut bayi yang terlihat besar, misalnya karena kembung dan masuk angin. Tak pelak, memakaikan gurita bayi pun dianggap sebagai jalan keluar, padahal faktanya tidak demikian.

Sebagian besar bayi memang memiliki perut yang gendut, apalagi setelah menyusu dalam jumlah banyak. Jangan heran juga jika perut bayi setelah menyusu akan terasa keras, tapi biasanya kembali lunak dalam beberapa jam setelahnya dan itu bukan pertanda bayi mengalami kembung.

Sebaliknya, Anda perlu mewaspadai jika perut bayi yang terlihat bengkak dan keras diikuti dengan konstipasi maupun sering muntah. Periksakan bayi ke dokter jika mengalami ini.

Sebagai langkah pencegahan bayi kembung, menggunakan gurita bayi bukanlah cara yang direkomendasikan. Sebaliknya, Anda dapat memposisikan kepala bayi lebih tinggi saat menyusu, menyendawakannya setelah menyusu, maupun sesekali menggerakkan kaki bayi seakan ia tengah menggenjot sepeda, agar tidak ada gas yang terperangkap di lambungnya.

  • Tidak terbukti dapat mencegah pusar bayi bodong

Memiliki pusar bodong seringkali dianggap sebagai aib bagi sebagian orangtua. Oleh karena itu, banyak orangtua yang menempelkan koin di pusar bayi dan memakaikan gurita bayi kencang-kencang untuk mencegahnya. Meski demikian, cara ini tidak terbukti secara medis dapat mencegah pusar bayi bodong di kemudian hari.

Dalam dunia medis, pusar bodong dikenal dengan sebutan hernia umbilikal. Kondisi ini sangat normal ditemui pada bayi baru lahir, apalagi bayi prematur, tapi umumnya tidak berbahaya dan mayoritas akan membaik ketika anak berusia 3-4 tahun.

Dari paparan di atas, terbukti bahwa penggunaan gurita bayi justru mendatangkan lebih banyak bahaya daripada manfaat untuk bayi Anda. Bila Anda memiliki pertanyaan seputar penggunaan gurita bayi maupun tindakan pencegahan seputar masalah kesehatan yang berhubungan dengan gurita bayi, konsultasikan dengan dokter yang menangani buah hati Anda.

IDAI. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/pengasuhan-anak/perawatan-bayi-baru-lahir
Diakses pada 25 Februari 2020

Kementerian Kesehatan. http://kesga.kemkes.go.id/images/pedoman/Buku-Saku-Pelayanan-Kesehatan-Neonatal-Esensial.pdf
Diakses pada 25 Februari 2020

Healthy Children by AAP. https://www.healthychildren.org/English/ages-stages/baby/Pages/Common-Conditions-in-Newborns.aspx
Diakses pada 25 Februari 2020

Stanford Children’s Health. https://www.stanfordchildrens.org/en/topic/default?id=breathing-problems-90-P02666
Diakses pada 25 Februari 2020

Stikes MHK. https://ejurnal.stikesmhk.ac.id/index.php/maternal/article/download/490/444
Diakses pada 25 Februari 2020

WebMD. https://www.webmd.com/parenting/baby/features/infant-gas
Diakses pada 25 Februari 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/189580
Diakses pada 25 Februari 2020

Artikel Terkait