Mencegah Penyakit ISPA di Tengah Paparan Polusi Udara

Penyakit ISPA adalah salah satu dampak polusi udara yang memburuk belakangan ini.
Polusi udara membuat masyarakat semakin rentan terhadap ISPA

Tahukah Anda bahwa infeksi saluran pernapasan atas alias ISPA adalah keluhan terbanyak yang membawa seorang pasien menemui dokter? Ya, infeksi yang menyerang rongga hidung hingga tenggorokan ini memang kerap merebak terutama di musim penghujan atau lingkungan yang kotor.

Namun, apakah Anda tahu apa itu ISPA sebenarnya? Dalam bahasa yang lebih sederhana, ISPA hanyalah meriang (common cold), disebabkan oleh virus yang masuk ke saluran pernapasan melalui hidung atau mulut, dan biasanya sembuh sendiri dalam waktu 3 hingga 14 hari.

Meskipun demikian, ISPA bisa menjadi masalah kesehatan yang serius ketika penderitanya memiliki masalah pernapasan lain, seperti asma. ISPA juga dapat berkembang menjadi infeksi sinus (sinusitis) atau pneumonia.

ISPA dan polusi udara

ISPA memang tidak tergolong sebagai penyakit gawat darurat. Akan tetapi, penyakit ISPA merupakan masalah kesehatan yang paling sering terjadi dan bisa menyerang orang pada segala tingkatan usia sehingga segala penyebab ISPA tidak boleh diabaikan.

Berdasarkan penelitian, polusi udara memainkan faktor penting akan banyaknya penderita ISPA maupun alergi. Polusi udara juga ini dapat menimbulkan berbagai masalah pernapasan yang lebih serius, seperti asma, penyakit paru-paru obstruktif kronis, maupun pneumonia.

Sementara dalam jangka pendek, kelompok umur yang paling rawan mengidap ISPA akibat polusi udara adalah anak-anak (0-14 tahun). Paparan gas nitrogen dioksida (NO2) adalah polutan yang paling sering menyebabkan seorang anak memeriksakan diri ke rumah sakit.

Anak-anak memang lebih rentan terkena ISPA mengingat sistem imun mereka belum sempurna dan masih terus berkembang seiring pertambahan usia. Jika orang dewasa bisa menderita 2 hingga 3 kali ISPA per tahun, maka anak-anak bisa lebih dari itu, apalagi bayi.

Di Indonesia, penyakit ISPA identik dengan kondisi udara yang kotor, termasuk karena polusi. Di Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta, misalnya, penderita ISPA dilaporkan terus meningkat selama periode 2016-2018, yakni dari 1.801.968 kasus pada 2016 menjadi 1.817.579 kasus pada 2018. Tahun ini, Dinas Kesehatan DKI Jakarta mencatat penderita ISPA periode Januari hingga Mei 2019 saja sudah mencapai 905.270 kasus.

Memang, hubungan polusi udara dengan ISPA cukup pelik untuk dijabarkan secara rinci. Hanya saja, Dinkes DKI mengakui bahwa kualitas udara yang buruk menjadi penyumbang tebesar dalam jumlah ISPA di Ibukota, yakni sampai 40%.

Bukan hanya Jakarta, laporan mengenai ISPA yang diakibatkan oleh polusi udara juga diperoleh dari kota-kota lain, seperti Bekasi dan Riau. Oleh karena itu, pemerintah daerah setempat meminta masyarakat untuk waspada terhadap ISPA, terutama pada anak-anak.

Seseorang yang mengidap ISPA akan menunjukkan gejala-gejala, seperti:

  • Batuk
  • Bersin
  • Hidung mengeluarkan cairan
  • Hidung tersumbat
  • Pilek
  • Demam
  • Tenggorokan gatal atau terasa kering

Dalam beberapa kasus, penderita ISPA juga merasakan sakit kepala, napas menjadi bau, pegal linu, hiposmia (kehilangan kemampuan untuk mencium bau), dan mata gatal. Gejala ini memang membuat penderitanya merasa tidak nyaman, namun Anda hanya perlu beristirahat sambil menjaga asupan untuk meningkatkan sistem imun hingga gejala ISPA mereda.

ISPA biasanya disebabkan oleh virus yang akan mati sendiri sehingga konsumsi antibiotik tidak diperlukan. Tetapi, dokter bisa meresepkan antibiotik bila mencurigai ISPA Anda dikarenakan infeksi bakteri.

Bagaimana cara mencegah ISPA?

Sebetulnya, tidak ada cara spesifik untuk mencegah terjadinya ISPA yang disebabkan oleh polusi udara. Hanya saja, Anda bisa menggunakan masker antipolusi dengan catatan:

  • Pilih masker yang setidaknya memiliki level N95 alias mampu menyaring 95% partikel debu di udara
  • Pastikan masker sesuai dengan kontur wajah Anda
  • Pastikan masker tetap bisa membuat Anda bernapas dengan baik, bukan malah membuat pengap atau sesak napas
  • Pastikan masker bisa menyaring partikel debu halus, misalnya PM2.5 berukuran kurang dari 25 mikron)

Selain itu, Anda juga bisa melakukan berbagai langkah pencegahan ISPA pada umumnya, seperti:

  • Tidak merokok atau menghindari paparan asap rokok
  • Hindari berada di dalam kerumunan, apalagi di ruang tertutup
  • Hindari menukar alat makan dengan orang lain
  • Bersihkan terlebih dahulu barang-barang yang digunakan bersama
  • Tutup mulut dan hidung ketika Anda bersin atau batuk
  • Makan makanan yang bergizi
  • Cuci tangan dengan sabun
  • Berolahraga secara teratur

Dengan melakukan tindakan pencegahan di atas, Anda dapat mengurangi risiko terkena ISPA secara signifikan. Usahakan untuk melakukan tindakan-tindakan pencegahan ini secara teratur, agar kesehatan Anda senantiasa terjaga.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/323886.php
Diakses pada 22 Agustus 2019

European Respiratory Journal. https://erj.ersjournals.com/content/38/Suppl_55/p1048
Diakses pada 22 Agustus 2019

Pub Med. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29408194
Diakses pada 22 Agustus 2019

Pub Med. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3272333/
Diakses pada 22 Agustus 2019

Medicine Net. https://www.medicinenet.com/upper_respiratory_infection/article.htm
Diakses pada 22 Agustus 2019

CNN Indonesia. https://www.cnnindonesia.com/nasional/20190730181324-20-416867/dinkes-dki-sebut-tren-penderita-ispa-meningkat-2016-2018
Diakses pada 22 Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed