Bagaimana Menangani Penyakit Suka Mencuri alias Kleptomania?

Penderita kleptomania merasa lega dan senang saat mencuri
Penyakit suka mencuri alias kleptomania diakibatkan oleh adanya gangguan psikologis.

Kleptomania atau dikenal sebagai penyakit suka mencuri merupakan sebuah penyakit mental. Penderita kleptomania memiliki keinginan yang tidak dapat dikontrol untuk mencuri barang-barang. Kondisi ini menimbulkan kecemasan dalam diri penderita.

Penyakit suka mencuri ini kebanyakan dialami oleh kaum wanita daripada laki-laki. Dari semua kasus pencurian yang terjadi di toko, hanya 5% pelaku yang menderita kleptomania.

Kleptomania merupakan sesuatu yang nyata terjadi dan menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap penderitanya.

Penderita penyakit suka mencuri ini biasanya juga mengalami gangguan psikologi lain seperti depresi, gangguan kecemasan, dan bahkan memiliki potensi untuk melakukan bunuh diri.

Bagaimana menangani penderita kleptomania?

Jika orang terdekat Anda memiliki “penyakit suka mencuri” atau kleptomania, terdapat beberapa hal yang dapat dilakukan, yaitu:

  • Mencoba untuk mengerti apa yang dialami oleh penderita dan menyadari bahwa dorongan yang dirasakan penderita bukanlah sesuatu yang dapat dikendalikan.
  • Jangan menuduh ataupun menyalahkan penderita atas kondisi yang dialami olehnya.
  • Cobalah untuk membuat penderita mengerti bahwa Anda peduli dengan kesehatan penderita dan khawatir bahwa penderita akan ditangkap, kehilangan pekerjaan, dan sebagainya.
  • Rujuk penderita ke dokter dan ahli kesehatan mental agar penderita bisa segera mendapatkan penanganan.

Apa saja gejala kleptomania?

Gangguan kleptomania memang identik dengan hasrat yang tidak tertahankan untuk mencuri, tetapi terdapat beberapa gejala lainnya, seperti:

  • Merasa lega dan senang ketika mencuri
  • Merasa cemas, tertekan, dan bergairah menjelang aksi pencurian
  • Tidak mampu menahan keinginan untuk mencuri barang-barang yang tidak dibutuhkan
  • Hasrat ingin mencuri kerap muncul kembali dan menjadi sebuah siklus
  • Merasa bersalah, malu, takut ditangkap, dan membenci diri sendiri seusai mencuri

Penyakit suka mencuri yang berbeda dengan mencuri

Berbeda dengan pencuri biasa, penderita kleptomania tidak didorong oleh motivasi finansial, tetapi didasari oleh keinginan untuk menghilangkan kecemasan akibat dari dorongan mencuri barang yang dirasakan.

Keinginan yang dirasakan tidak dapat dikontrol dan seringkali setelah mencuri, penderita akan merasa takut dan menyesal telah mencuri. Namun, keinginan tersebut akan muncul kembali dan akhirnya mendorong penderita untuk mencuri kembali.

Bukanlah hal yang tepat untuk menyebut kleptomania sebagai “penyakit suka mencuri” karena meskipun penderita merasa lega dan senang saat mencuri, tetapi setelahnya, penderita seringnya merasa takut dan menyesal.

Terkadang barang yang dicuri oleh penderita kleptomania merupakan barang yang tidak bernilai atau bahkan dapat dibeli oleh penderita. Benda yang dicuri juga biasanya hanya disimpan atau diberikan kepada orang lain. Bahkan, terkadang barang yang dicuri dikembalikan lagi oleh penderita.

Penderita tidak hanya mencuri di toko-toko ataupun pusat-pusat perbelanjaan. Penderita juga dapat mencuri dari teman atau kerabatnya. Biasanya penderita secara diam-diam akan mengembalikan barang yang dicuri dari teman atau kerabatnya.

Apa yang dialami oleh penderita kleptomania?

Pencurian yang dilakukan oleh penderita karena “penyakit suka mencuri” yang dialami biasanya terjadi tanpa direncanakan atau secara spontan.

Sebelum mulai mencuri, penderita akan merasa cemas dan tegang karena keinginannya yang tidak dapat dikendalikan. Saat mencuri penderita merasa lega dan senang karena dapat memenuhi dorongan yang muncul dalam dirinya.

Namun, setelahnya, pencerita akan merasa takut tertangkap, malu pada dirinya, dan merasa bersalah. Nantinya, dorongan tersebut akan muncul kembali.

Dorongan untuk mencuri yang dirasakan penderita sangat sulit untuk dikendalikan dan akhirnya siklus mencuri terjadi secara terus-menerus dan membuat penderita tidak dapat keluar dari lingkaran tersebut.

Beberapa penderita tidak mencari bantuan karena merasa malu dengan apa yang telah dilakukan dan akhirnya menyembunyikan masalah yang dialami dari orang-orang terdekatnya.

Konsultasikan ke psikolog atau psikiater

Gangguan kleptomania tidak boleh disepelekan, karena kleptomania dapat menimbulkan masalah di pekerjaan, hubungan dengan keluarga, emosional, finansial, dan hukum. Tidak hanya itu, gangguan kleptomania dapat menimbulkan komplikasi lainnya, seperti:

Oleh karenanya, segera konsultasikan ke psikolog atau psikiater bila Anda atau kerabat mengalami gangguan kleptomania agar dapat diberikan penanganan yang tepat, terutama jika gangguan kleptomania yang dialami menganggu kehidupan atau aktivitas sehari-hari.

Irishhealth.com. http://www.irishhealth.com/article.html?id=2410
Diakses pada 18 April 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/kleptomania/symptoms-causes/syc-20364732
Diakses pada 18 April 2019

Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/what-you-should-know-about-kleptomania-4137660
Diakses pada 18 April 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed