Meskipun memiliki gejala yang serupa, namun radang vagina tidak menyebabkan pendarahan pada vagina seperti kanker serviks
Berbeda dengan kanker serviks, radang vagina tidak menyebabkan perdarahan pada vagina

Kanker serviks atau kanker rahim menimbulkan rasa takut di kalangan para wanita. Pada tahapan awalnya, kanker serviks tidak menimbulkan gejala yang jelas sehingga sulit untuk dideteksi sampai akhirnya menjadi bertambah parah.

Wajar jika para wanita menjadi mudah khawatir jika ada keanehan pada organ intimnya. Namun, gejala-gejala yang dialami bisa saja bukan karena kanker rahim, melainkan karena radang vagina atau vaginitis

Perbedaan kanker serviks dan radang vagina

Sekilas gejala yang dialami tampak sama, karena gejala pada kanker serviks juga melibatkan adanya cairan yang keluar dari vagina. Namun, cairan yang keluar dari vagina bisa saja mengandung darah dan berbau busuk.

Perdarahan pada vagina juga dapat terjadi pada penderita kanker serviks, tetapi perdarahan yang terjadi dapat dialami saat melakukan hubungan seksual, saat tidak sedang menstruasi atau saat sudah mengalami menopause.

Penderita kanker serviks juga dapat mengalami rasa sakit saat berhubungan seksual. Berbeda dengan radang vagina, penyebab kanker serviks belum diketahui secara jelas, tetapi virus HPV diketahui dapat memicu kanker serviks.

Kanker serviks dan bakteri sneathia

Penelitian yang dilakukan pada tahun 2018 menemukan bakteri sneathia pada penderita kanker serviks. Bakteri sneathia merupakan salah satu bakteri yang menyebabkan radang vagina.

Semakin bertumbuhnya sel kanker, maka semakin bertambah pula bakteri sneathia yang muncul. Selain itu, bakteri sneathia juga ditemukan pada penderita infeksi HPV.

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara pertumbuhan bakteri sneathia dengan kanker serviks.

Namun, hubungan tersebut belum terlalu jelas dan masih perlu penelitian lebih lanjut untuk dapat mengetahui hubungan dari bakteri sneathia dengan kanker serviks.

Berkenalan dengan radang vagina

Radang vagina atau vaginitis umumnya disebabkan oleh infeksi atau ketidakseimbangan bakteri pada vagina. Radang vagina memiliki beberapa gejala yang serupa dengan kanker serviks dan radang serviks.

Gejala yang mungkin dialami adalah rasa sakit saat berhubungan seksual atau dispareunia, rasa gatal dan iritasi pada vagina, rasa sakit saat buang air kecil, vagina yang berbau amis, kemerahan dan pembengkakan pada vagina, serta perdarahan ringan pada vagina.

Gejala lain yang dapat dialami perubahan pada warna dan jumlah cairan yang keluar dari vagina. Warna dan bau cairan yang keluar dari vagina dapat mendeteksi penyebab dari radang vagina yang dialami.

Penyebab radang vagina

Penyebab dari radang vagina dapat diketahui melalui cairan vagina yang dikeluarkan. Jika Anda mengeluarkan cairan yang berwarna putih keabu-abuan dan memiliki bau yang amis, Anda mungkin mengalami infeksi bakteri atau vaginosis bakterial.

Jika Anda mengeluarkan cairan yang berwarna hijau kekuningan serta berbusa, kemungkinan penyebab radang vagina adalah karena trikomoniasis. Sementara jika cairan yang dikeluarkan berwarna putih dan kental, penyebabnya bisa jadi karena infeksi jamur.

Namun, radang vagina juga dapat disebabkan oleh penyakit kelamin lainnya, seperti gonore, klamidia, herpes, dan sebagainya. Radang vagina juga dapat dialami oleh remaja yang baru memasuki pubertas karena kurang menjaga kebersihan.

Iritasi dan reaksi alergi juga dapat memicu radang vagina. Iritasi dan reaksi alergi dapat disebabkan oleh penggunaan tampon, pelumas, sabun, parfum, dan sebagainya.

Pencegahan radang vagina

Radang vagina bukanlah suatu kondisi yang tidak bisa dicegah. Kunci dari menghindari terserang radang vagina adalah dengan menjaga kebersihan tubuh. Menghindari zat-zat yang mampu mengiritasi organ intim, bila Anda membersihkan organ intim dengan sabun, bilaslah hingga bersih. 

Sebaiknya gunakan sabun yang lembut untuk organ intim tanpa kandungan deodoran dan antibakteri. Hindari juga pemakaian sabun yang menimbulkan banyak busa.

Jika Anda sering menggunakan tisu untuk mengelap organ intim Anda sehabis buang air kecil atau besar, maka akan lebih baik untuk mengelap dari bagian depan ke belakang untuk menghindari bakteri dari dubur masuk ke dalam organ intim.

Gunakanlah celana dalam berbahan katun untuk mencegah organ intim menjadi lembab. Saat berhubungan seksual, gunakanlah kondom berbahan lateks untuk mencegah penularan infeksi yang bisa memicu radang vagina.

Anda tidak perlu terus-menerus membersihkan dan mencuci organ intim secara berlebih, karena mandi seperti biasa sudah cukup untuk membersihkan organ intim. Mencuci secara berlebih bisa menganggu keseimbangan organisme pada organ intim dan meningkatkan risiko radang vagina.

Apa yang harus dilakukan?

Selalu konsultasikan ke dokter jika Anda mengalami masalah dengan organ intim Anda untuk mendapatkan pemeriksaan yang akurat dan penanganan yang tepat.

Pencegahan dapat dilakukan dengan menggunakan alat kontrasepsi saat melakukan aktivitas seksual, melakukan pemeriksaan pap smear secara rutin, tidak merokok, serta mengikuti imunisasi HPV

Pencegahan lainnya adalah dengan menjaga kebersihan organ intim, menggunakan sabun yang tidak mengiritasi kulit, menggunakan celana dalam berbahan katun, dan menghindari mengelap anus dari belakang ke depan agar bakteri dari anus tidak masuk ke vagina.

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed