Membedah Hipokondria, Rasa Cemas Berlebihan Terhadap Penyakit Serius

(0)
06 Sep 2020|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Hipokondria adalah kondisi kecemasan berlebihan terhadap penyakit seriusPenderita hipokondria kerap mencari informasi secara online mengenai penyakit
Hipokondria, yang disebut juga sebagai illness anxiety, adalah salah satu bentuk dari gangguan kecemasan. Pengidap hipokondria memiliki kecemasan berlebihan  pada pemikiran bahwa dirinya sedang mengidap penyakit serius. Walaupun secara medis hal tersebut tidak terbukti, penderita hipokondria akan berpikir penyakit tersebut tidak terdeteksi.Biasanya, tidak ada gejala fisik yang signifikan pada penderita hipokondria. Sensasi normal atau gejala kecil pada tubuh, seperti perut berbunyi, bersin, atau batuk, akan membuat penderitanya yakin sedang mengidap penyakit berat.Bahkan hasil pemeriksaan dokter yang tidak menunjukkan penyakit serius pun tidak dapat menenangkan pikiran penderitanya sehingga mereka cenderung sering memeriksakan diri untuk mendapatkan opini berbeda.

Penyebab hipokondria

Penyebab dari hipokondria belum dapat dipastikan. Biasanya kondisi ini muncul pada awal usia dewasa. Beberapa faktor yang dianggap turut berperan memunculkan kondisi gangguan hipokondria, di antaranya:
  • Merasa sulit menerima ketidakpastian tentang sensasi tidak nyaman atau tidak biasa pada tubuh. Sehingga penderitanya salah mengartikan sensasi tersebut sebagai hal yang serius dan mencari-cari bukti untuk mengonfirmasi apa yang ia pikirkan.
  • Dibesarkan oleh orangtua yang memiliki kekhawatiran berlebihan terkait kesehatan mereka atau kesehatan dirinya.
  • Pernah mengidap penyakit serius di masa kecil sehingga gejala kecil pada tubuh dapat membuat penderitanya mengalami ketakutan berlebihan.
  • Pernah melihat atau mengenal seseorang yang pernah mengalami atau telah meninggal dikarenakan sebuah kondisi medis yang serius.

Gejala hipokondria

Jika seseorang mengalami hipokondria, berikut adalah gejala-gejala yang bisa muncul:
  • Terobsesi dengan pemikiran bahwa Anda mengidap penyakit serius. Ini adalah gejala utama dari hipokondria.
  • Mengkhawatirkan sensasi biasa atau gejala kecil sebagai pertanda penyakit serius.
  • Mudah cemas jika berkaitan dengan kondisi kesehatan
  • Ketakutan berlebihan akan datangnya penyakit setidaknya selama enam bulan, tetapi pada penyakit tertentu dapat berubah seiring waktu
  • Tidak dapat diyakinkan oleh dokter saat hasil pemeriksaan negatif.
  • Kecemasan berlebihan sedang mengidap kondisi medis tertentu atau mengkhawatirkan kemungkinan risiko mengidap penyakit tertentu karena faktor keturunan.
  • Mengalami perasaan tertekan yang berlebihan mengenai penyakit yang dikhawatirkan sehingga penderitanya tidak dapat menjalankan aktivitas dengan baik.
  • Berkali-kali memeriksa kondisi tubuh untuk mencari-cari tanda sakit atau penyakit.
  • Sering membuat janji temu dengan dokter untuk meyakinkan mengidap penyakit tertentu, atau malah menghindari perawatan medis karena takut didiagnosis terkena penyakit serius.
  • Menghindari melakukan suatu hal tertentu karena mengkhawatirkan risiko kesehatan yang sebenarnya belum tentu dimiliki.
  • Terus-menerus bicara mengenai kondisi kesehatan dan kemungkinan menderita penyakit.
  • Sering berselancar di internet untuk mencari tahu mengenai gejala atau kemungkinan risiko penyakit tertentu.
Penderita hipokondria dapat mengalami penurunan kualitas hidup dalam berbagai hal dikarenakan rasa khawatir yang berlebihan. Mulai dari rusaknya hubungan hingga munculnya masalah keluarga. Hal ini dikarenakan kondisi ini juga dapat membuat frustrasi orang-orang yang berada di sekitar penderitanya.Saat menderita hipokondria, performa kerja penderitanya juga dapat menurun, Mereka umumnya mengalami kesulitan berfungsi secara normal dalam keseharian, mengalami masalah ekonomi karena seringnya berkunjung ke dokter, hingga mungkin memiliki gangguan lainnya akibat komplikasi dari hipokondria.

Penanganan hipokondria

Untuk menangani kondisi hipokondria, ada beberapa cara mandiri sebagai langkah awal membantu diri sendri.
  • Belajar manajemen stres dan teknik relaksasi.
  • Hindari menghabiskan waktu untuk mencari informasi online guna mengait-ngaitkan sebuah gejala ringan dengan penyakit kritis tertentu.
  • Sebaiknya luangkan waktu untuk aktivitas di luar rumah dan menikmati hobi yang dapat menyenangkan hati.
  • Menghindari alkohol dan obat terlarang yang dapat meningkatkan kecemasan.
  • Berusaha meyakinkan diri sendiri bahwa gejala fisik yang dirasakan tidak membahayakan, melainkan hanya kondisi tubuh yang normal.
Jika cara di atas tidak mampu mengatasi hipokondria, cobalah berkonsultasi dengan dokter untuk membicarakan masalah kesehatan yang dikhawatirkan. Dokter akan melakukan beberapa evaluasi sebelum mengeluarkan diagnosisnya.Apabila dokter mendiagnosis kemungkinan hipokondria atau kesehatan mental lainnya, ia akan merujuk ke ahli kejiwaan. Sementara itu, penanganan profesional untuk hipokondria meliputi:
  • Terapi perilaku kognitif atau Cognitive Behavioral Therapy (CBT). Terapi ini dapat membantu mengurangi rasa takut berlebihan yang dirasakan. Terapi ini akan mengajarkan untuk mengenali dan memahami kesalahpahaman dalam meyakini sesuatu yang menjadi penyebab kecemasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CBT berhasil mengajarkan penderita hipokondria untuk mengenali apa yang memicu perilaku mereka dan mengajarkan kemampuan untuk menangani kondisi tersebut.
  • Behavioral stress management atau exposure therapy mungkin juga dapat membantu mengatasi hipokondria.
  • Obat-obatan psikotropika, misalnya antidepresan, terkadang juga diberikan untuk mengatasi masalah kecemasan akan kondisi kesehatan.
Apabila Anda mengenali seseorang yang mungkin memiliki gejala-gejala tersebut, meyakinkan bahwa mereka baik-baik saja tidak akan cukup.Sebaiknya, yakinkan mereka untuk mencari pertolongan profesional agar segala kecemasan mereka dapat segera teratasi sebelum kualitas hidupnya mengalami penurunan.
gangguan mentalgangguan kecemasan
Center for Anxiety Disorders
https://centerforanxietydisorders.com/hypochondriac-signs/
Diakses 24 Agustus 2020
Mayo Clinic
https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/illness-anxiety-disorder/symptoms-causes/syc-20373782
Diakses 24 Agustus 2020
Cleveland Clinic
https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/9886-illness-anxiety-disorder-beyond-hypochondriasis
Diakses 24 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait