Memahami Spastisitas atau Spastik Otot yang Dapat Terjadi Setelah Stroke


Spastisitas atau spastik adalah kondisi otot menegang atau mengencang sehingga mencegah aliran cairan di dalam tubuh bekerja dengan normal. Kondisi ini dapat terjadi setelah stroke dan menyebabkan penderitanya sulit bergerak, berbicara, hingga nyeri.

0,0
27 Sep 2021|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Spastisitas atau spastik otot dapat menyebabkan penderitanya sulit bergerak dan berbicaraPenderita stroke dapat langsung mengalami spastisitas
Spastisitas atau spastik adalah kondisi otot menegang atau mengencang sehingga mencegah aliran cairan di dalam tubuh bekerja dengan normal. Penegangan otot yang tidak normal ini dipicu oleh kontraksi otot berkepanjangan. Saat spastisitas terjadi, otot-otot tetap berkontraksi dan menolak diregangkan sehingga mempengaruhi gerakan, cara bicara, hingga gaya berjalan penderitanya. Spastisitas adalah gejala yang terkait dengan kerusakan pada otak, sumsum tulang belakang, atau saraf motorik. Kondisi ini juga dapat dialami oleh individu dengan kondisi neurologis tertentu.

Penyebab spastik atau spastisitas

Spastisitas umumnya disebabkan oleh kerusakan atau gangguan pada area otak dan sumsum tulang belakang yang bertanggung jawab untuk mengontrol gerakan otot.Gangguan ini dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan sinyal yang dikirim ke otot sehingga menyebabkan otot terkunci (tegang). Penderita cedera otak, cedera sumsum tulang belakang, cerebral palsy, stroke, hingga multiple sclerosis, dapat memiliki tingkat keparahan spastik otot yang berbeda-beda.

Gejala spastisitas

Gejala spastisitas dapat bervariasi, mulai dari ketegangan otot yang ringan hingga kejang otot yang menyakitkan dan tidak terkendali. Nyeri di persendian atau sesak juga merupakan gejala spastik otot yang sering terjadi.Beberapa kemungkinan gejala spastisitas adalah:
  • Kekakuan otot yang dapat menyebabkan penderitanya kesulitan dalam melakukan berbagai gerakan.
  • Kesulitan dalam mengendalikan otot yang diperlukan untuk melakukan tugas atau fungsi tertentu, seperti berjalan atau berbicara.
  • Kejang otot yang dapat menyebabkan kontraksi otot tidak terkendali dan sering kali menyakitkan.
  • Kelelahan otot
  • Deformitas otot dan sendi
  • Menyilangkan kaki tanpa disengaja
  • Pertumbuhan otot longitudinal dan sintesis protein dalam sel otot yang terhambat.
Gejala-gejala di atas dapat berkembang saat spastisitas mengalami komplikasi. Beberapa kemungkinan komplikasi spastik adalah infeksi saluran kemih (ISK), sembelit kronis, sendi kaku, sakit saat ditekan, serta demam atau penyakit sistemik lainnya.

Spastisitas pada stroke

Saat mengalami stroke, seseorang dapat menunjukkan gejala ketegangan otot di berbagai bagian tubuh yang berbeda. Kondisi ini dapat membaik seiring dengan kesembuhan stroke.Stroke dapat menyebabkan bagian otak yang mengirimkan sinyal kontrol mengalami kerusakan sehingga otot menjadi terlalu aktif. Kondisi inilah yang dikenal sebagai spastisitas pada stroke. Dilansir dari Stroke Foundation, sekitar 30 persen penderita stroke akan mengalami beberapa bentuk spastik otot. Sebagian orang dapat langsung mengalami spastisitas setelah stroke terjadi, tapi kondisi ini juga dapat terjadi di lain waktu. 

Spastisitas pada cerebral palsy

Spastisitas pada penderita cerebral palsy disebabkan oleh kerusakan di bagian otak yang mengontrol tonus otot dan gerakan. Anak-anak yang menderita cerebral palsy mungkin tidak menunjukkan adanya gejala spastisitas saat baru lahir. Namun, masalah ini bisa semakin jelas seiring berjalannya waktu dan pertumbuhan anak. Pada penderita cerebral palsy, bagian tubuh yang umumnya mengalami spastik adalah otot lengan dan kaki. 

Pengobatan spastik otot

Pengobatan untuk menangani spastisitas harus mempertimbangkan tingkat keparahannya, kondisi kesehatan secara menyeluruh, dan berbagai faktor lainnya. Berbagai kondisi ini dapat menentukan jenis pengobatan yang akan diberikan.Beberapa pilihan perawatan untuk penderita spastisitas adalah: 

1. Terapi fisik

Fisioterapis dapat membantu penderita spastisitas dalam melakukan atau menganjurkan latihan fisik dan peregangan untuk membantu mempertahankan rentang gerak penuh dan mencegah pemendekan otot secara permanen.

2. Pemasangan brace

Dilansir dari Stroke.org, tujuan pemasangan brace bagi penderita spastik adalah untuk menahan otot dalam posisi normal sehingga tidak berkontraksi.

3. Pengobatan

Spastisitas juga dapat ditangani dengan pemberian obat-obatan. Berikut adalah beberapa metode pemberian obat yang bisa dijalani:
  • Pemberian obat-obatan oral (minum) yang bertujuan untuk membantu mengendurkan saraf agar tidak terus-menerus mengirim pesan pada otot untuk berkontraksi. Obat ini dapat menyebabkan beberapa efek samping, seperti mengantuk, lemas, atau mual.
  • Terapi intratekal baclofen (ITB) yang dilakukan dengan menanamkan sebuah pompa kecil melalui pembedahan untuk memasok obat baclofen ke sumsum tulang belakang. Ini cara memberikan obat yang paling efektif dan meminimalisir efek samping yang sering menyertai obat oral.
  • Beberapa jenis obat untuk memblokir saraf dapat disuntikkan. Tujuannya untuk membantu meredakan spastik pada kelompok otot tertentu dengan melemahkan otot yang terlalu aktif. Efek sampingnya tergolong minimal, tetapi mungkin dapat terasa sakit saat disuntikkan.
Spastisitas adalah gangguan kesehatan yang bisa terjadi secara tiba-tiba tanpa diketahui penyebabnya. Sebaiknya Anda segera mencari bantuan medis saat spastik terjadi pertama kali, mengalami perburukan, atau terjadi lebih sering dari biasanya. Spastisitas berkepanjangan yang tidak diobati dapat menyebabkan terjadinya komplikasi yang memerlukan penanganan lebih rumit.Apabila Anda memiliki pertanyaan seputar masalah kesehatan, Anda bisa bertanya langsung dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh aplikasi SehatQ sekarang di App Store atau Google Play.
gejala strokestrokecerebral palsy
Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/conditions-and-diseases/spasticity
Diakses 14 September 2021
Web MD. https://www.webmd.com/pain-management/pain-management-spasticity
Diakses 14 September 2021
AANS. https://www.aans.org/Patients/Neurosurgical-Conditions-and-Treatments/Spasticity
Diakses 14 September 2021
Cerebral Palsy. https://cerebralpalsy.org.au/our-research/about-cerebral-palsy/what-is-cerebral-palsy/types-of-cerebral-palsy/spastic-cerebral-palsy/
Diakses 14 September 2021
Stroke.org. https://www.stroke.org/en/about-stroke/effects-of-stroke/physical-effects-of-stroke/physical-impact/spasticity
Diakses 14 September 2021
Stroke Foundation. https://strokefoundation.org.au/About-Stroke/Help-after-stroke/Stroke-resources-and-fact-sheets/Muscle-spasticity-after-stroke-fact-sheet#
Diakses 14 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait