logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Parenting

Memahami Sibling Rivalry, Persaingan Saudara Kandung yang Bisa Berdampak Buruk

open-summary

Sibling rivalry adalah persaingan antara saudara kandung yang sering terjadi. Penyebabnya beragam, mulai dari perubahan besar dalam hidup anak, rasa cemburu, hingga dinamika keluarga. Untuk mengatasinya, orangtua bisa mengajari anak untuk menyelesaikan konflik dengan baik hingga menebarkan keharmonisan di antara kakak dan adik.


close-summary

5

(1)

14 Mar 2022

| Fadli Adzani

Ditinjau oleh dr. Reni Utari

Orangtua disarankan untuk bisa mencegah sibling rivalry atau persaingan antarsaudara kandung.

Sibling rivalry atau persaingan antarsaudara kandung dapat terjadi di dalam keluarga.

Table of Content

  • Penyebab sibling rivalry yang sering tak disadari
  • Cara mengatasi sibling rivalry agar keharmonisan kakak dan adik terjaga
  • Cara mencegah sibling rivalry
  • Hal-hal yang perlu dihindari dalam menghadapi sibling rivalry
  • Catatan dari SehatQ

Adik sering bertengkar dengan kakaknya? Waspadai adanya sibling rivalry. Sibling rivalry adalah persaingan antarsaudara kandung yang dapat ditandai dengan perkelahian (verbal atau fisik), ejekan, berkompetisi untuk mendapatkan perhatian, hingga perasaan cemburu. 

Advertisement

Namun, sebagian orangtua mungkin belum memahami arti sibling rivalry. Padahal ini merupakan masalah yang umum terjadi dalam keluarga. Untuk menjaga keharmonisan kakak dan adik, kenali berbagai penyebab dan cara mengatasi sibling rivalry.

Penyebab sibling rivalry yang sering tak disadari

Selain memahami apa arti sibling rivalry, orangtua juga disarankan untuk peka terhadap berbagai faktor yang menyebabkan munculnya persaingan antarsaudara kandung sehingga solusinya bisa dicari.

Berikut adalah sejumlah kemungkinan penyebab sibling rivalry yang perlu Anda ketahui.

1. Perubahan besar dalam hidup

Sedang sibuk pindahan rumah, menunggu kelahiran adik baru, hingga perceraian orangtua adalah perubahan besar dalam hidup yang bisa membuat anak-anak merasa stres.

Mereka cenderung akan meluapkan rasa stresnya kepada orang terdekat, baik itu adik atau kakaknya. Hal ini dapat menyebabkan konflik di antara mereka.

2. Rasa cemburu

adik dan kakak bertengkar
Rasa cemburu bisa memicu sibling rivalry di antara kakak dan adik

Saat orangtua memberikan perhatian dan pujian lebih terhadap kakak, sang adik bisa merasakan kecemburuan, begitupun sebaliknya. Rasa cemburu ini dapat memicu sibling rivalry di antara mereka.

3. Sering melihat orangtuanya bertengkar

Saat orangtua bertengkar untuk menyelesaikan masalah, anak-anak dapat mencontohnya. Misalnya, ketika sang kakak sedang memiliki masalah dengan adiknya, maka keduanya bisa saja bertengkar untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Anda juga perlu memahami bahwa anak-anak belum mengetahui cara menyelesaikan konflik dengan baik.

4. Dinamika keluarga

Jika sang adik mengidap kondisi medis tertentu atau terlahir dengan kebutuhan khusus, tentu orangtua akan memberikan perhatian lebih kepadanya. Hal ini juga dinilai bisa memicu sibling rivalry di antara kakak dan adik.

5. Individualitas

Anak-anak memiliki kecenderungan alami untuk memisahkan diri dari orang lain, termasuk kakak dan adiknya. 

Individualitas ini dapat ditandai dengan berbagai macam ‘kompetisi,’ contohnya persaingan siapa yang bisa membangun gedung balok paling tinggi, atau mengonsumsi paling banyak sayur. Hal ini diyakini dapat memicu sibling rivalry di antara mereka.

Cara mengatasi sibling rivalry agar keharmonisan kakak dan adik terjaga

Apa pun penyebabnya, orangtua perlu mengetahui cara untuk mengatasi sibling rivalry ehingga keharmonisan kakak dan adik tetap terjaga.

1. Ajari mereka cara mengatasi konflik yang baik

Langkah pertama yang bisa dilakukan orangtua adalah mengajari anak-anak tentang cara mengatasi konflik yang baik. Misalnya, Anda bisa meminta sang kakak untuk mau mendengar opini adiknya dengan sabar.

Menurut sebuah riset, hal ini akan membuat anak belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang positif.

2. Tebarkan keharmonisan di antara kakak dan adik

Jelaskan pada anak-anak bahwa keluarga adalah sebuah tim, di mana ayah, ibu, kakak, dan adik harus bekerja sama untuk mendapatkan keharmonisan di dalam rumah.

Kasih sayang dan perhatian orangtua sangat diperlukan. Ingatkan juga bahwa perkelahian di antara kakak dan adik tak hanya menyakiti perasaan mereka, tapi juga anggota keluarga lainnya.

3. Habiskan waktu bersama

Quality time bersama keluarga
Quality time bersama keluarga dapat cegah sibling rivalry

Menghabiskan waktu bersama keluarga, seperti saat makan malam atau bermain di luar rumah, dapat menjadi cara untuk memperkuat tali persaudaraan antara anak pertama, anak kedua, atau seterusnya.

Momen-momen bonding ini dapat membuat kakak dan adik memilih jalan yang lebih positif saat mereka sedang ada masalah.

4. Turun tangan jika konflik sibling rivalry semakin parah

Sibling rivalry tidak boleh diabaikan begitu saja. Saat persaingan antara kakak dan adik sudah menunjukkan kekerasan fisik atau verbal, Anda disarankan untuk segera menjadi penengah untuk mencegah hal-hal yang tak diinginkan.

Ajaklah mereka untuk duduk bersama dan menceritakan masalahnya. Selain itu, tegaskan juga bahwa kekerasan bukanlah jalan keluar yang baik.

5. Menjadi pendengar yang baik

Jadilah pendengar yang baik saat kakak dan adik sedang berkonflik. Jangan hanya mendengarkan apa yang diceritakan oleh sang kakak saja. Anda juga harus mau mendengarkan apa yang diceritakan oleh si adik.

Saat sedang mendengarkan cerita dari kedua sisi, jangan menginterupsi apalagi menghakimi. Biarkan mereka menyelesaikan ceritanya terlebih dahulu.

Anak-anak akan merasa lebih baik dan tenang saat orangtuanya mau mendengar ceritanya dengan adil.

6. Tetap tenang saat mengatasi persaingan antar saudara

Saat kakak dan adik sedang menyelesaikan masalahnya, Anda disarankan untuk memperhatikan kondisinya dan tetap tenang. Jika situasi memanas, Anda harus segera turun tangan.

Ketenangan orangtua dalam menyelesaikan masalah ini dapat dicontoh oleh anak-anak sehingga mereka bisa belajar untuk menyelesaikan konflik dengan cara yang baik.

7. Buat peraturan yang harus dipatuhi tanpa kompromi

Untuk mencegah adanya kekerasan dalam sibling rivalry, orangtua perlu membuat peraturan yang harus dipatuhi tanpa kompromi.

Misalnya, buatlah peraturan untuk tidak mengejek atau bertindak kasar saat kakak dan adik sedang berkonflik. Selain itu, Anda bisa membuat peraturan yang mengharuskan kakak atau adik saling mendengar opininya masing-masing.

Jika peraturan ini dilanggar, Anda perlu membuat hukuman yang dapat membuat mereka berperilaku baik.

8. Menjadi panutan yang baik

Anak-anak akan memperhatikan dan belajar dari perlakuan orangtuanya. Maka dari itu, cobalah jadi panutan yang baik agar sibling rivalry di antara kakak dan adik tidak dipenuhi dengan kekerasan.

Tunjukan pada anak-anak bahwa setiap masalah dapat diselesaikan dengan cara yang lebih positif. Nantinya, mereka dapat mulai belajar untuk menyelesaikan masalah dengan cara yang lembut dan penuh rasa sayang.

9. Mengadakan pertemuan keluarga

Salah satu cara mengatasi atau mencegah sibling rivalry adalah mengadakan pertemuan keluarga.

Baca Juga

Baca Juga

  • Fungsi dan Peran Keluarga dalam Proses Sosialisasi serta Pendidikan Anak
  • Film Anak-anak Ini Cocok Ditonton Bersama Si Kecil di Rumah
  • Berbagai Gejala Campak pada Anak dan Cara Mengatasinya

Cara mencegah sibling rivalry

Persaingan antarsaudara kandung harus dicegah agar tidak menimbulkan konflik. Berikut adalah cara mencegah sibling rivalry yang bisa orangtua lakukan:

1. Jangan membandingkan anak

Jangan membanding-bandingkan anak dengan kakak atau adiknya karena hal ini bisa mendorong persaingan di antara mereka. Sebaiknya, orangtua mengajarkan anak untuk bekerja sama dan berkompromi.

2. Contohkan cara berinteraksi dengan baik 

Ketika Anda dan pasangan sedang bermasalah, hindari membanting pintu atau berargumen dengan kata-kata yang kasar karena anak bisa menirunya. Contohkan interaksi yang baik dalam menyelesaikan masalah untuk mencegahnya semakin berlarut-larut.

3. Tidak membela salah satu anak secara khusus

Membela salah satu anak secara khusus bisa memicu kecemburuan dan kebencian. Jadi, hindari melakukan hal tersebut. Setiap anak harus merasa disayangi dengan adil oleh orangtuanya. Jika perlu, sesekali lakukan hal yang menyenangkan bersama masing-masing anak.

4. Memperlakukan anak dengan adil

Adil bukan selalu berarti sama. Hukuman dan penghargaan harus disesuaikan dengan kebutuhan anak. Misalnya, Anda tidak perlu memberi kedua anak mainan yang sama. 

Sebaiknya, berilah mainan yang berbeda sesuai dengan usia dan minatnya. Keadilan seperti ini akan membantu menghindari terjadinya sibling rivalry.

5. Buat setiap anak merasa aman dan dicintai

Perubahan dalam hidup bisa memicu anak meluapkan stresnya pada orang terdekat, termasuk kakak atau adik. Untuk mencegah hal tersebut, buat setiap anak merasa aman dan dicintai. 

Beri pengertian pada anak walaupun ada perubahan dalam hidup mereka, misalnya memiliki adik baru, ia tetap dicintai dan dilindungi.

Hal-hal yang perlu dihindari dalam menghadapi sibling rivalry

Menurut Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), terdapat sejumlah hal yang sebaiknya dihindari oleh orangtua saat menghadapi sibling rivalry di dalam keluarga, di antaranya:

  • Jangan membanding-bandingkan anak dengan kakak, adik, atau teman-temannya.
  • Jangan membela salah satu anak secara khusus. Memiliki kedekatan tertentu dengan salah satu anak memang dianggap wajar, tetapi jangan tunjukkan kedekatan itu secara terang-terangan karena bisa menimbulkan kecemburuan atau bahkan kebencian pada anak yang lain.
  • Jangan memberikan privasi berlebihan pada anak, seperti memberikan akses televisi pada masing-masing kamar anak. Hal ini dipercaya bisa menghilangkan kesempatan anak dalam belajar memecahkan masalah dan bernegosiasi.
  • Jangan memaksakan anak untuk memiliki teman yang sama. Dorong anak untuk memiliki hubungan pertemanan sendiri.
  • Jangan memaksa anak untuk minta maaf jika ia tak merasa bersalah. Hal ini dipercaya bisa mendorong anak untuk berbohong. Sebaliknya, orangtua disarankan untuk memberikan waktu agar amarah anak mereda sehingga ia bisa mencari solusi dari masalahnya.

Masih menurut IDAI, sibling rivalry yang parah dan melibatkan perilaku agresif seperti kebiasaan berteriak terus-menerus, melempar barang, menyakiti secara fisik, atau menghina, memerlukan penanganan oleh dokter ahli kejiwaan.

Ingatlah, sibling rivalry yang tidak diatasi dapat meningkatkan risiko depresi, kecemasan, dan kemarahan ketika anak beranjak dewasa.

Catatan dari SehatQ

Orangtua perlu menyikapi sibling rivalry secara serius supaya persaingan tidak sehat ini tak terbawa hingga anak-anak beranjak dewasa.

Jika Anda memiliki pertanyaan seputar kesehatan anak, jangan ragu untuk bertanya dengan dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ secara gratis. Unduh di App Store atau Google Play sekarang juga!

Advertisement

tips parentingkesehatan anakparenting stress

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved