Memahami Proses Pembentukan Tulang Manusia

(0)
17 Aug 2020|Nenti Resna
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Proses pembentukan tulang meliputi dua halProses pembentukan tulang tergolong cukup rumit
Tulang merupakan jaringan tubuh kaku yang terdiri dari sel-sel dalam bahan antarsel yang keras. Kolagen dan kalsium fosfat merupakan dua komponen utama yang membedakan tulang dari jaringan keras lainnya, seperti kitin, enamel, dan cangkang.Jaringan tulang membentuk tulang-tulang individu pada sistem kerangka manusia dan kerangka makhluk vertebrata lainnya. Untuk memahami seputar proses pembentukan tulang, berikut penjelasan yang bisa Anda simak.

Proses pembentukan tulang

Proses pembentukan tulang dikenal juga dengan istilah osteogenesis dan osifikasi. Pada akhir minggu kedelapan setelah pembuahan, pola kerangka terbentuk dalam tulang rawan dan membran jaringan ikat kemudian osifikasi dimulai.Osteoblas, osteosit, dan osteoklas merupakan tiga jenis sel yang terlibat dalam pengembangan, pertumbuhan dan remodeling tulang. Osteoblas adalah sel pembentuk tulang, osteosit adalah sel tulang dewasa, dan osteoklas berfungsi memecah dan menyerap kembali tulang yang rusak.Ada dua jenis osifikasi, yakni osifikasi intramembran dan osifikasi endokondral. Berikut penjelasan mengenai kedua hal ini.

1. Osifikasi intramembran

Osifikasi intramembran adalah proses pembentukan tulang tengkorak dan tulang cangkang. Selama osfikasi intramembran di tengkorak, sel-sel mesenkhimal yang berasal dari perkembangan saraf menjadi nodul padat. Proses ini diawali dengan sel punca mesenkimal (sel yang dapat berdiferensiasi) yang berkumpul dan membentuk osteoblas. Saat inilah osifikasi dimulai dan mencakup tahap-tahap berikut:
  • Osetoblas kemudian menghasilkan osteoid (tulang yang belum termineralisasi) atau matriks.
  • Sel punca mesenkimal terus berdiferensiasi.
  • Osteoblas bermigrasi ke membran dan menyimpan matriks tulang di sekitar mereka.
  • Osteoblas yang dikelilingi oleh matriks kemudian berdiferensiasi menjadi osteosit.
  • Osteosit kemudian mengeras dalam hitungan hari.

2. Osifikasi endokondral

Osifikasi endokondral melibatkan penggantian tulang rawan hialin dengan jaringan tulang. Sebagian besar tulang kerangka dibentuk dengan cara ini. Tulang-tulang ini disebut tulang endokondral.Dalam proses ini, tulang rawan hialin merupakan model atau cetak biru tulang yang akan dibentuk.
  • Pada bulan ketiga setelah pembuahan, perikondrium yang mengelilingi ‘model’ tulang rawan hialin terinfiltrasi dengan pembuluh darah dan osteoblas kemudian berubah menjadi periosteum.
  • Osteoblas berkumpul pada dinding diafisis dan membentuk bone collar.
  • Pada saat yang sama, tulang rawan di tengah diafisis mulai hancur.
  • Osteoblas menembus tulang rawan yang hancur dan menggantinya dengan tulang spons. Proses ini membentuk pusat osifikasi primer.
  • Osifikasi berlanjut dari pusat ke ujung tulang. Setelah tulang spons terbentuk dalam diafisis, osteoklas memecah tulang yang baru terbentuk untuk membuka rongga meduler.
  • Tulang rawan di epifisis terus tumbuh sehingga tulang berkembang bertambah panjang.
Biasanya setelah kelahiran, pusat osifikasi sekunder terbentuk pada epifisis. Osifikasi di epifisis mirip dengan diafisis. Hanya saja tulang spons tetap dipertahankan. Ketika osifikasi sekunder selesai, tulang rawan hialin sepenuhnya digantikan oleh tulang keras, kecuali pada dua area:
  • Bagian dari tulang rawan hialin yang tetap berada di atas permukaan epifisis sebagai tulang rawan artikular.
  • Bagian tulang rawan lainnya berada antara epifisis dan diafisis. Ini merupakan lempeng epifisis atau daerah pertumbuhan.

Proses pertumbuhan tulang

Tulang tumbuh panjang di lempeng epifisis dengan proses yang mirip dengan osifikasi endokhondral. Tulang rawan di daerah lempeng epifisis terus tumbuh secara mitosis. Kondrosit yang berada di area sebelah diafisis kemudian menua dan berdegenerasi.Osteoblas bergerak dan mengeraskan matriks untuk membentuk tulang. Proses ini berlanjut hingga pertumbuhan tulang rawan melambat dan akhirnya berhenti.Pertumbuhan tulang rawan biasanya berhenti pada awal usia 20-an. Saat itu, lempeng epifisis telah benar-benar mengeras hingga hanya garis epifisis tipis yang tersisa. Dengan demikian, tulang tidak bisa lagi tumbuh panjang.Meskipun tulang berhenti tumbuh panjang, kepadatan atau diameter tulang dapat terus meningkat sepanjang hidup. Khususnya sebagai tanggapan terhadap stres fisik akibat peningkatan aktivitas otot atau kondisi berat badan. Peningkatan diameter ini disebut dengan pertumbuhan apposisional.
  • Osteoblas di periosteum membentuk tulang padat di sekitar permukaan tulang luar.
  • Pada saat yang sama, osteoklas di endosteum memecah tulang pada permukaan tulang internal, di sekitar rongga meduler.
Kedua proses tersebut meningkatkan diameter tulang namun pada saat yang sama, menjaga tulang tidak terlalu berat dan besar.Itulah penjelasan seputar proses pembentukan tulang dan pertumbuhannya. Semoga penjelasan di atas dapat membantu Anda memahami bagaimana terbentuknya tulang dan proses pertumbuhannya.
kesehatan tulang
Britannica
https://www.britannica.com/science/bone-anatomy
https://www.britannica.com/science/bone-formation
Diakses 3 Agustus 2020
National Cancer Institute SEER Training Modules
https://training.seer.cancer.gov/anatomy/skeletal/growth.html
Diakses 3 Agustus 2020
NCBI
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK10056/
Diakses 3 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait