Memahami Pengertian Tuna Daksa dan Pilihan Pendidikannya

(0)
17 Aug 2020|Asni Harismi
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Salah satu bentuk dari tuna daksa adalah cerebral palsyCerebral palsy adalah salah satu bentuk dari tuna daksa
Mendidik anak tuna daksa merupakan tantangan tersendiri bagi tenaga pendidik maupun orangtua anak tersebut. Haruskah Anda memasukkan anak dengan kondisi ini ke sekolah khusus untuk memastikan tumbuh kembangnya tetap optimal?Tuna daksa adalah kondisi anak yang memiliki anggota tubuh tidak sempurna. Ketidaksempurnaan ini hanyalah secara fisik (tulang, sendi otot), sedangkan fungsi pancaindra penderita tuna daksa masih normal sehingga kelainan ini kerap disebut juga sebagai cacat tubuh, disabilitas fisik, atau orthopedically handicapped. Anak bisa menjadi tuna daksa karena tiga hal, yaitu:
  • Faktor prenatal (sebelum kelahiran): tuna daksa yang diperoleh ketika janin masih di dalam kandungan, seperti faktor genetik dan kerusakan pada sistem saraf pusat.
  • Faktor neonatal (saat lahir): tuna daksa yang terjadi karena adanya kendala saat ibu melahirkan, seperti memaksakan persalinan normal saat posisi bayi sungsang atau bentuk pinggul ibu terlalu sempit, pendarahan di otak, hingga penggunaan anestesi yang berlebihan.
  • Faktor postnatal (setelah lahir): beberapa kondisi yang terjadi setelah bayi dilahirkan juga bisa mengkibatkan tuna daksa, seperti penyakit radang selaput otak (meningitis), radang otak (ensefalitis), maupun saat ada benturan keras di kepala anak misalnya saat ia terjatuh.

Macam-macam jenis anak tuna daksa

Klasifikasi anak tunadaksa biasanya dibagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:

1. Kelainan pada sistem serebral

Seorang anak dikatakan menderita tuna daksa serebral ketika penyebab kondisi itu ada pada gangguan sistem saraf pusat, yakni otak atau sumsum tulang belakang. Kerusakan pada sistem saraf pusat ini mengakibatkan bentuk kelainan yang krusial dan sangat memengaruhi kehidupan anak secara keseluruhan.Pasalnya, otak maupun sumsum tulang belakang merupakan pusat aktivitas manusia, mulai dari kesadaran, kecerdasan, hingga kemampuan motorik kasar dan halus. Kendati demikian, derajat kecacatan fisik pada penderita kelainan ini cukup beragam, mulai dari ringan, sedang, hingga berat seperti dalam kondisi lumpuh otak atau cerebral palsy.Anak dengan tuna daksa serebral mungkin masih memiliki anggota tubuh yang utuh, namun ada beberapa bagian yang lumpuh atau tidak bisa digerakkan. Bisa juga, anak tersebut mengalami masalah kondisi, seperti sering kejang, kaku otot, maupun hilang keseimbangan.

2. Kelainan pada sistem otot dan rangka

Anak tuna daksa dalam kelompok ini adalah mereka yang memiliki kelainan pada anggota tubuh, seperti kaki, tangan, sendi, dan tulang. Kelainan pada sistem otot dan rangka ini dibagi lagi menjadi dua kelompok besar, yaitu:
  • Poliomielitis, yaitu kondisi otot yang mengecil akibat serangan virus polio sehingga anak menjadi lemah dan tidak bertenaga.
  • Distrofi otot, yaitu terjadinya kelumpuhan pada fungsi otot dan sifatnya progresif alias memburuk seiring bertambahnya usia anak.

Apakah anak tuna daksa harus belajar di sekolah khusus?

Idealnya, anak tuna daksa memang disarankan untuk bersekolah di Sekolah Luar Biasa bagian D. Namun, dalam beberapa kasus ada anak dengan keterbatasan fisik yang tidak terlalu signifikan (seperti poliomielitis) yang bisa bersekolah di sekolah umum.Dengan kata lain, orangtua memiliki fleksibilitas dalam menentukan tempat sekolah anak tuna daksa sesuai dengan kebutuhannya. Dilihat dari kondisinya, anak tuna daksa dapat mengikuti pendidikan di tempat-tempat, seperti:
  • Sekolah khusus berasrama: untuk anak tuna daksa yang derajat kelainannya berat dan sangat berat.
  • Sekolah khusus tanpa asrama: untuk anak tunadaksa yang bisa pulang/pergi ke sekolah karena tempat tinggal mereka tidak jauh dari sekolah.
  • Kelas khusus penuh: diperuntukkan bagi anak dengan tingkat kecacatan ringan dan kecerdasan homogen.
  • Kelas reguler dan khusus: digunakan untuk menyatukan anak tuna daksa dengan anak normal pada mata pelajaran tertentu.
  • Kelas reguler dibantu oleh guru khusus: di sini, anak tuna daksa bersekolah bersama dengan anak normal di sekolah umum dengan bantuan guru khusus apabila anak mengalami kesulitan.
  • Kelas biasa dengan layanan konsultasi: anak tuna daksa belajar bersama dengan anak normal di sekolah umum dengan bantuan guru umum (bukan spesial menangani anak berkebutuhan khusus). Namun untuk membantu kelancaran pembelajaran, ada guru kunjung sebagai konsultan guru umum.
  • Kelas biasa: anak tuna daksa dengan kecerdasan normal serta memiliki potensi dan kemampuan untuk dapat belajar bersama-sama dengan anak normal bisa bersekolah di kelas biasa sekolah reguler.
Secara umum, materi pembelajaran anak tuna daksa di sekolah luar biasa mirip dengan sekolah pada umumnya. Di jenjang Taman Kanak-Kanak misalnya, Si Kecil akan diajarkan kemampuan dasar, termasuk agama, pendidikan jasmani, hingga pengembangan bahasa, daya pikir, dan kreativitas.Begitu pula di tingkat Sekolah Dasar Luar Biasa (SDLB) dan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama Luar Biasa (SLTPLB) yang memiliki kurikulum sama dengan sekolah reguler. Baru di jenjang Sekolah Menengah Luar Biasa (SMLB), anak akan diberi bekal keterampilan khusus agar bisa menjadi bekal bagi hidupnya.
cacat lahircacat bawaan
Media Neliti. https://media.neliti.com/media/publications/285797-membebaskan-anak-tunadaksa-dalam-mewujud-fa6b27c0.pdf
Diakses pada 4 Agustus 2020
Universitas Sanata Dharma. https://www.usd.ac.id/pusat/psibk/category/artikel/tunadaksa/
Diakses pada 4 Agustus 2020
Library UI. http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/123669-006%2009%20Bat%20m%20-%20Manajemen%20job-Literatur.pdf
Diakses pada 4 Agustus 2020
File UPI. http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/194808011974032-ASTATI/Karakteristik_Pend_ATD-ATL.pdf
Diakses pada 4 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait