Memahami Kesiapan Sekolah Anak Berdasarkan Sudut Pandang Psikolog Anak

Orangtua perlu mempertimbangkan aspek-aspek kesiapan sekolah anak sebelum memasukkan mereka ke sekolah
Kesiapan sekolah anak perlu dipertimbangkan orangtua

“Wah.. kamu sudah lancar berhitung dan membaca ya, Dek. Sudah siap dong buat masuk SD?” celetuk seorang ibu yang sedang mengajarkan anaknya belajar.

Kalimat di atas mungkin seringkali Anda dengar di lingkungan sekitar. Anak yang sudah bisa membaca, menulis, dan berhitung biasanya dianggap sudah pintar dan siap untuk masuk Sekolah Dasar (SD).

Namun, jika hal tersebut masih menjadi acuan utama untuk menetapkan kesiapan anak untuk sekolah, maka sangatlah disayangkan karena aspek-aspek yang lain kerapkali tidak diperhatikan.

Aspek-aspek kesiapan sekolah pada anak

Perlu Anda ketahui bahwa kesiapan anak untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SD bukan hanya dilihat dari kelancarannya membaca atau berhitung. Melainkan terdapat banyak aspek yang harus Anda lihat, seperti:

  • Aspek motorik: keterampilan yang melibatkan koordinasi gerak fisik, meliputi motorik kasar dan motorik halus
  • Aspek kognitif: kemampuan berpikir, seperti mengingat, menangkap informasi
  • Aspek sosial-emosional: keterampilan dalam meregulasi emosi dan menjalin interaksi dengan lingkungan sosial
  • Aspek kemandirian: berusaha melakukan sendiri tanpa meminta bantuan orang lain

Contoh kasus tentang kesiapan sekolah pada anak terjadi pada Ameylia (disamarkan). Di usianya yang masih 5 tahun 10 bulan, Ameylia sudah bisa membaca, berhitung, dan menulis kata. Namun, pada kemampuan lain, seperti konsentrasi, daya tahan, regulasi emosi, serta kemandirian masih belum terlihat dengan baik. Ketika memiliki suatu keinginan, hal tersebut harus dipenuhi, jika tidak ia dapat menyakiti orang lain (memukul, menendang).

Perilaku yang terjadi pada Ameylia dapat menjadi kendala jika anak masuk ke jenjang Sekolah Dasar (SD). Oleh sebab itu, aspek-aspek tersebut harus dioptimalkan terlebih dahulu sehingga anak benar-benar siap untuk bersekolah.

Kapan usia yang tepat untuk memasukkan anak ke Sekolah Dasar (SD)?

Anak baru diwajibkan melanjutkan pendidikan di jenjang SD pada usia 7 tahun, sebab pada usia tersebut anak dianggap sudah matang.

Hal ini sesuai dengan aturan pemerintah yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 6 ayat (1) yang berbunyi: “Setiap warga negara yang berusia tujuh sampai lima belas tahun wajib mengikuti pendidikan dasar.”          

Selain itu, menurut teori perkembangan dari Piaget, pada usia 7 tahun, perkembangan kognitif anak berada pada level operasional konkret dan mulai menggunakan operasi mental serta berpikir untuk menyelesaikan suatu permasalahan. Pada level operasional konkret anak mampu:

  • Mengerjakan lebih dari satu aspek tugas atau serangkaian tugas yang diberikan
  • Mengklasifikasikan suatu objek ke dalam suatu kelompok ataupun subkelompok
  • Mengingat dan berpikir secara logis
  • Membuat pernyataan dengan pertimbangan
  • Melakukan pembelajaran spasial yang berkaitan dengan ruang

Namun, banyak orangtua yang memasukkan anaknya ke Play Group sejak dini (sekitar usia 2-3 tahun), kemudian dilanjutkan ke Taman Kanak-kanak (TK) sehingga ketika anak berusia 5 tahun, orangtua merasa khawatir dan berpikir bahwa anaknya terlalu tua jika belum dimasukkan ke SD.

Padahal jika usia anak masih atau berada di bawah usia 5 tahun, ada baiknya orangtua mempertimbangkan terlebih dahulu dan memeriksa kembali apakah kemampuan anak di seluruh aspek perkembangannya sudah benar-benar matang untuk melanjutkan pendidikan ke SD.

Jangan sampai orangtua merasa anak siap, namun kenyataannya masih ada aspek-aspek yang perlu dioptimalkan kembali pada anak.

Tes kesiapan sekolah untuk anak           

Tes kesiapan sekolah perlu dilakukan untuk mengetahui kematangan pada anak dengan cara melakukan penilaian dalam beberapa aspek yang telah disebutkan sebelumnya.

Hal ini dapat dilakukan dengan bantuan profesional dari psikolog yang akan mewawancarai orangtua mengenai perkembangan anak, informasi dari guru di TK, dan observasi serta interaksi langsung dengan anak.

Selain itu, dapat pula dilakukan tes inteligensi untuk mengetahui kemampuan kognitif anak. Dengan demikian, nantinya dapat diperoleh informasi mengenai perkembangan diri anak dan rekomendasi apakah anak dapat dikatakan sudah matang untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SD atau tidak.    

Pada umumnya, anak sudah matang atau siap untuk sekolah pada usia 6 atau 7 tahun. Terkecuali bagi anak yang memiliki permasalahan, seperti hambatan kognitif, masalah tumbuh kembang, atau sebagainya, maka perlu mendapat penanganan khusus terlebih dulu.

Akan tetapi, perlu Anda ketahui juga bahwa secara individu tingkat kematangan pada anak tentunya berbeda-beda. Hal ini dapat dipengaruhi oleh:

  • Usia
  • Tingkat kemampuan kognitif    
  • Temperamen
  • Pola pengasuhan
  • Cara belajar anak
  • Kematangan emosi
  • Faktor lingkungan sekitar

Penilaian keseluruhan aspek pada tes kesiapan sekolah sangatlah diperlukan sehingga tidak hanya satu aspek saja yang dinilai. Jika anak dikatakan sudah matang/siap masuk SD, namun masih ada catatan mengenai beberapa aspek yang belum matang/siap, maka orangtua perlu bekerja sama dengan pihak sekolah untuk mengoptimalkan aspek yang masih kurang tersebut.

Misalnya, jika pada aspek kemandirian anak masih belum siap, maka tugas untuk orangtua di rumah adalah memberikan peran bagi anak agar bisa mandiri dengan memberinya tugas sehari-hari di rumah, seperti membawakan baju kotor seluruh anggota keluarga ke keranjang cucian setiap hari.

Hal ini dapat menjadi kebiasaan yang menumbuhkan kemandirian dan tanggung jawab pada diri anak. Saat di sekolah, guru juga dapat memberikan peran bagi anak di kelas, misalnya bertugas untuk memimpin doa di pagi hari.

Sejak dini, orangtua memang perlu memerhatikan aspek perkembangan anak dan menentukan pembelajaran yang sesuai dengan usia, potensi serta kemampuan yang dimiliki oleh anak.

Dengan begitu, anak dapat merasakan bahwa belajar adalah hal yang menyenangkan dan menarik, seperti halnya kegiatan bermain. Selain itu, anak juga dapat lebih siap dari segala aspek untuk bersekolah ketika usianya sudah cukup.

Penulis:
Finda Diftrianita, M.Psi.
Psikolog Anak RS AZRA Bogor

RS AZRA Bogor.

Simplypsychology. https://www.simplypsychology.org/piaget.html
Diakses pada Agustus 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed