Memahami Keamanan Cara Berotot untuk Anak-anak


Cara berotot untuk anak-anak sebaiknya tidak dilakukan hingga ia memasuki masa pubertas. Sebab, melakukan latihan terlalu dini dikhawatirkan bisa mengganggu pertumbuhannya.

0,0
05 Oct 2021|Dina Rahmawati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Cara berotot untuk anak tidak boleh dilakukan sembaranganCara berotot untuk anak harus menimbang kesiapan tubuhnya
Sebagian anak mungkin berpikir bahwa memiliki otot yang besar bisa membuat penampilannya menjadi lebih menarik. Tak jarang, mereka pun tertarik melakukan olahraga yang dapat membentuk otot, terutama di area lengan dan perut. Akan tetapi, cara berotot untuk anak-anak tidak boleh dilakukan sembarangan, apalagi jika usianya masih terlalu dini. Sebab, hal tersebut dikhawatirkan bisa mengganggu pertumbuhannya. 

Anak-anak ingin berotot, boleh atau tidak?

Jika anak ingin berotot, ada beberapa hal yang harus Anda pahami. Sebelum masa pubertas, tubuh anak-anak dianggap belum siap atau tidak mampu membangun massa otot yang signifikan. Bukan hanya melakukan latihan angkat beban atau ketahanan saja, ada dua hormon penting yang diperlukan untuk mengembangkan otot, yaitu hormon pertumbuhan dan testosteron. Sayangnya, tubuh anak-anak tidak cukup memproduksi hormon tersebut sebelum masa pubertas. Ketika tidak memiliki hormon yang cukup, segala latihan yang dilakukan pun tidak mampu menghasilkan banyak otot pada anak-anak.Latihan angkat beban sebelum masa pubertas juga tidak dianjurkan karena dikhawatirkan dapat menghambat pertumbuhan anak dengan menempatkan beban berat dan memberikan tekanan pada tulang anak yang sedang tumbuh. Selain itu, membangun otot besar di usia yang terlalu muda bisa memberi ketegangan pada otot-otot muda, tendon, dan area tulang rawan anak. Kondisi ini dapat menimbulkan ketidaknyamanan, bahkan hingga nyeri.Anak-anak juga dapat mengalami cedera jika latihan membentuk otot tidak dilakukan secara tepat. Cedera-cedera yang dimaksud meliputi saraf terjepit, otot tegang, otot robekt, patah tulang, cedera lempeng pertumbuhan, dan kerusakan tulang rawan. Oleh sebab itu, berbagai cara berotot untuk anak-anak tidak dianjurkan.

Kapan waktu yang tepat untuk mulai latihan membentuk otot anak?

Anak mulai dapat membangun otot setelah menunjukkan tanda-tanda pubertas, seperti tubuh semakin tinggi, bahu melebar, muncul jerawat, atau tumbuh kumis. Hal tersebut menandakan bahwa pubertas dimulai dan pembentukan otot mungkin terjadi karena telah ada hormon testosteron.Akan tetapi, usia pubertas setiap anak mungkin berbeda-beda, bisa lebih cepat atau lebih lambat. Ada yang pubertasnya dimulai pada usia 9 tahun, ada pula yang baru terjadi di akhir usia 15 tahun.
anak rutin berolahraga
Rutin berolahraga menjadi kebiasaan yang baik untuk anak
Walaupun sebelum masa pubertas cara berotot untuk anak-anak dinilai tidak signifikan hasilnya, olahraga yang dilakukan tidak akan sia-sia. Rutin berolahraga merupakan kebiasaan baik yang harus diterapkan agar tubuh anak tetap bugar. Batas umur pembentukan otot pun sebaiknya dilakukan di antara usia 15-25 tahun supaya tubuh anak sudah lebih kuat untuk menahan beban. Selain itu, cara membuat perut sixpack untuk anak-anak pun mulai bisa dilakukan. Namun, berbagai latihan yang dilakukan tentunya harus berkelanjutan karena seseorang bisa kehilangan massa ototnya jika tidak melakukan latihan dengan konsisten.

Adakah jenis latihan untuk membesarkan otot anak?

Seperti telah disebutkan sebelumnya, latihan membesarkan otot paling aman dilakukan setelah masa remaja, tepatnya ketika tulang anak telah selesai tumbuh. Namun, anak-anak dapat melakukan latihan kekuatan untuk meningkatkan kekuatan dan daya tahan ototnya.Latihan ringan dan gerakan terkontrol merupakan pilihan yang baik untuk anak-anak. Mereka dapat melakukan latihan kekuatan dengan berat badannya sendiri, seperti sit up dan push up, di bawah pengawasan orangtua atau instruktur agar lebih aman.Sit up disinyalir juga merupakan salah satu cara membuat perut sixpack untuk anak-anak. Namun, manfaat utama latihan ini adalah membantu menguatkan otot perut.Anak-anak usia sekolah dianjurkan untuk melakukan aktivitas fisik setiap hari selama 60 menit atau lebih. Sementara itu, latihan penguatan otot dan tulang bisa dilakukan setidaknya 3 kali dalam seminggu.
bermain lompat tali
Lompat tali mendukung perkembangan otot dan tulang anak
Alih-alih melakukan cara berotot untuk anak-anak, mereka dapat mencoba olahraga lain yang mendukung pertumbuhan maupun perkembangan otot dan tulangnya, seperti berjalan, berlari, berenang, bermain bola, gimnastik (senam), dan lompat tali.Sebelum melakukan olahraga, ada baiknya Anda memastikan beberapa hal berikut pada anak-anak.
  • Melakukan peregangan

Sebelum mulai berolahraga, pastikan anak melakukan peregangan selama 5-10 menit. Peregangan dapat membantu mempersiapkan otot agar lebih kuat saat berolahraga sehingga terhindar dari cedera.
  • Latihan ringan

Alih-alih melakukan olahraga berat yang berisiko bagi anak, sebaiknya lakukan latihan ringan. Misalnya, jika ingin melakukan latihan otot, anak bisa melakukan push up sebanyak 12-15 kali. Di sela-sela olahraga, anak juga harus beristirahat dan banyak minum.
  • Anak mendapat pengawasan

Pastikan anak tidak olahraga sendirian. Orangtua atau instruktur harus mengawasi anak agar teknik latihan dilakukan dengan tepat. Selain itu, pengawasan juga membantu anak terhindar dari kecelakaan saat berolahraga.Selain olahraga, anak-anak juga harus mengonsumsi makanan bergizi seimbang untuk menunjang tumbuh kembangnya.Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut seputar cara berotot untuk anak-anak, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
olahraga anaktumbuh kembang anakperkembangan anak
Live Strong. https://www.livestrong.com/article/372819-can-you-gain-muscle-before-puberty/
Diakses pada 21 September 2021
Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/tween-and-teen-health/in-depth/strength-training/art-20047758
Diakses pada 21 September 2021
Healthy Children. https://www.healthychildren.org/English/healthy-living/fitness/Pages/Weight-Training-Risk-of-Injury.aspx
Diakses pada 21 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait