Memahami Glasgow Coma Scale (GCS), Nilai Tingkat Kesadaran Manusia

GCS digunakan untuk menilai tingkat kesadaran pasien
Tingkat kesadaran pasien bisa dinilai dengan Glasgow Coma Scale (GCS)

Tingkat keparahan dampak benturan atau trauma yang dialami seseorang, bisa dilihat dari berbagai sisi. Dari sisi fisik misalnya, kita bisa melihat secara kasat mata banyaknya darah yang keluar, atau besarnya luka yang ada. Lalu, dari sisi tingkat kesadaran, pengukuran menggunakan Glasgow Coma Scale (GCS) lah yang umumnya dilakukan.

GCS adalah skala yang digunakan para tenaga medis, untuk melihat tingkat kesadaran seseorang berdasarkan respons yang diberikan pasien tersebut. GCS juga bisa menentukan seorang pasien sudah masuk ke tahap koma, atau belum.

GCS banyak digunakan oleh para tenaga medis karena metode ini sederhana, dapat dipercaya, dan hasilnya sejalan dengan target perawatan yang ingin dicapai.

Lebih lanjut tentang GCS untuk mengukur tingkat kesadaran

Pengukuran menggunakan GCS dilakukan oleh para tenaga medis untuk melihat tingkat kesadaran pasien yang mengalami cedera otak akibat benturan. Bisa dibilang, pengukuran ini dilakukan untuk mengetahui tingkat keparahan cedera yang dialami pasien.

Tingkat kesadaran pasien dinilai dari tiga aspek, yaitu respons mata, respons verbal atau suara, dan respons motorik atau gerakan. Masing-masing aspek, dinilai menggunakan angka 1 untuk yang paling buruk, hingga 4 pada mata, 5 pada verbal, dan 6 pada motorik, untuk yang paling baik.

1. Pemeriksaan respons mata

Nilai yang diberikan untuk melihat respons mata, adalah sebagai berikut.

  • Nilai 4: pasien bisa membuka mata secara spontan, disertai kedipan.
  • Nilai 3: pasien bisa membuka mata setelah menerima rangsang suara seperti teriakan atau panggilan.
  • Nilai 2: pasien hanya bisa membuka mata setelah mendapat rangsang nyeri seperti cubitan.
  • Nilai 1: pasien sama sekali tidak dapat membuka mata meski telah menerima berbagai rangsang

2. Pemeriksaan respons suara

Nilai yang diberikan untuk melihat respons suara, adalah sebagai berikut.

  • Nilai 5: pasien bisa berbicara dengan baik dan terarah.
  • Nilai 4: pasien bingung dengan arah pembicaraannya, tapi masih bisa menjawab pertanyaan.
  • Nilai 3: pasien tidak bisa memberikan jawaban yang sesuai, hanya bisa mengeluarkan kata-kata yang masih bisa dipahami, bukan berupa kalimat.
  • Nilai 2: pasien tidak dapat mengeluarkan kata-kata secara jelas, hanya terdengar seperti rintihan.
  • Nilai 1: pasien benar-benar diam dan tidak bisa bersuara.

3. Pengkuran respons gerakan

Nilai yang diberikan untuk melihat respons gerakan, adalah sebagai berikut.

  • Nilai 6: pasien dapat melakukan gerakan sesuai arahan.
  • Nilai 5: pasien bisa bergerak secara terkontrol apabila memperoleh rangsang nyeri.
  • Nilai 4: pasien bisa bergerak secara refleks menjauhi sumber rangsang nyeri.
  • Nilai 3: tubuh pasien menekuk dengan kaku, sehingga hanya bergerak sedikit saat memperoleh rangsang nyeri.
  • Nilai 2: seluruh tubuh pasien kaku, sehingga respons yang diberikan terhadap rangsang nyeri hampir tidak ada.
  • Nilai 1: sama sekali tidak ada respons terhadap rangsang nyeri.

Membaca tingkat kesadaran dari hasil GCS

Untuk menilai tingkat kesadaran pasien, hasil dari masing-masing respons akan dijumlahkan. Nilai 3 adalah yang paling buruk dan nilai 15 adalah yang paling baik. Pasien dengan nilai GCS 3-8, dapat dikategorikan dalam kondisi koma.

Semakin rendah nilai GCS, maka kemungkinan keberhasilan perawatannya pun akan semakin kecil. Pasien yang memiliki nilai GCS tinggi, berpotensi lebih besar untuk sembuh.

Pasien dengan nilai GCS hanya berkisar 3-5, memiliki kondisi yang sudah fatal, terutama jika pupil mata sudah tidak dapat bergerak lagi.

GCS untuk mengukur tingkat kesadaran anak

GCS tidak dapat digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran pada anak-anak yang berusia di bawah 5 tahun. Sebab, respons secara verbal akan sulit untuk dilakukan, meski anak tersebut sehat.

Untuk itu, pada pasien anak, pengukuran tingkat kesadaran dilakukan dengan modifikasi pada nilai GCS. Penilaian respons mata dan motorik pada anak, tidak berbeda dari orang dewasa. Perbedaan penilaian terletak pada respons verbal.

Nilai yang diberikan untuk melihat respons mata pada pasien verbal, adalah sebagai berikut.

  • Nilai 5: anak dapat mengeluarkan suara dan mengoceh seperti biasa.
  • Nilai 4: anak menangis dan terlihat bingung.
  • Nilai 3: anak menangis saat diberi rangsang nyeri.
  • Nilai 2: anak hanya sedikit mendesah apabila diberi rangsang nyeri.
  • Nilai 1: anak tidak memberikan respons apapun.

Keterbatasan pengukuran tingkat kesadaran menggunakan GCS

Meski sudah sering digunakan untuk mengukur tingkat kesadaran, sistem GCS juga masih memiliki banyak kekurangan, seperti berikut ini.

  • Keterbatasan bahasa, yang bisa membuat penilaian verbal sulit dilakukan
  • Tingkat kecerdasan yang mungkin akan menjadi bias dalam respons verbal dan respon terhadap instruksi
  • Gangguan pendengaran, yang bisa membuat rangsang suara sulit diberikan.
  • Keterbatasan pasien yang berada di inkubator atau tidak bisa berbicara, sehingga evaluasi terpaksa hanya bisa dilakukan pada respons mata dan motorik.
  • Pengukuran GCS sulit dilakukan, jika pasien sudah mendapat sedasi atau dibius dan sudah mengalami kelumpuhan.
  • Adanya gangguan di tubuh pasien sebelumnya, yang membuat respons motorik terhambat.

Catatan dari SehatQ

GCS digunakan oleh para tenaga kesehatan untuk mengukur tingkat kesadaran pada orang yang mengalami cedera otak akibat benturan. Hasil nilai GCS dari masing-masing aspek, akan dijumlahkan. GCS dengan nilai total 3 adalah yang paling buruk dan 15 adalah yang paling baik.

Selain tingkat kesadaran, nilai GCS juga bisa dijadikan acuan untuk tingkat keberhasilan perawatan. Nilai GCS di atas 8, menunjukkan kemungkinan kesembuhan pasien yang cukup tinggi.

Brainline. https://www.brainline.org/article/what-glasgow-coma-scale
Diakses pada 5 November 2019

Brain Injury Alliance Utah. https://biau.org/about-brain-injuries/what-to-expect/coma-patient-score-glasgow/
Diakses pada 5 November 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK513298/
Diakses pada 5 November 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed