Memahami Preeklamsia dan Eklamsia, Komplikasi Kehamilan yang Perlu Diwaspadai


Gejala preeklampsia atau tekanan darah tinggi semasa hamil, seperti kenaikan berat badan drastis dan munculnya pembengkakan pada wajah serta anggota tubuh lainnya. Mencegah preeklampsia dapat dilakukan dengan mengontrol kesehatan secara rutin, serta mengonsumi obat dan suplemen yang tepat

(0)
14 May 2019|Aby Rachman
Gejala preeklamsia dan eklamsia dapat diawasi dengan memerhatikan kenaikan berat badanPreeklamsia dan eklamsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang dapat terjadi
Preeklamsia dan eklamsia adalah komplikasi kehamilan darah tinggi yang bisa mengancam nyawa. Preeklampsia adalah salah satu komplikasi kehamilan yang terjadi karena tekanan darah terlalu tinggi semasa mengandung bayi.Sedangkan eklampsia adalah komplikasi lanjut dari preeklampsia berupa gejala kejang, sakit kepala, penurunan produksi air seni, dan beberapa kondisi medis lain.Tidak peduli sejarah tekanan darah Anda yang normal sebelumnya, preeklampsia dan eklampsia bisa berakibat fatal baik terhadap ibu dan bayi. Lantas adakah perbedaan di antara keduanya?

Adakah perbedaan preeklampsia dan eklampsia?

Preeklamsia dan eklamsia pada dasarnya adalah dua komplikasi kehamilan yang bisa saja saling berhubungan. Preeklampsia merupakan kondisi darah tinggi yang terjadi pada ibu hamil. Meski jarang, preeklampsia dapat berkembang menjadi eklampsia jika sudah memengaruhi otak Anda.Eklampsia adalah komplikasi parah dari penyakit preeklampsia pada ibu hamil. Kondisi ini bukan hanya ditandai dengan tekanan darah yang tinggi, namun juga kejang, koma, atau bahkan penyebab kematian ibu hamil. Meski tidak memiliki riwayat kejang, namun Anda dapat mengalaminya jika terkena eklampsia.Jika Anda pernah atau sedang mengalami preeklampsia, maka Anda juga mungkin berisiko mengalami eklampsia. Sama halnya dengan preeklampsia, eklampsia juga dapat memengaruhi plasenta sehingga menyebabkan bayi lahir dengan berat badan yang rendah, kelahiran prematur, kerusakan hati (sindrom HELLP) hingga lahir mati.Baca juga: Hati-Hati, 11 Tanda Bahaya Kehamilan Ini Perlu Diwaspadai Ibu Hamil

Apa gejala preeklamsia dan eklamsia?

Ibu hamil yang rajin kontrol ke dokter kandungan pasti akan memerhatikan satu hal utama yang dilakukan dokter pada saat kunjungan. Dokter biasanya akan memulai dengan mengukur tekanan darah untuk memastikan tekanan darah ibu hamil normal.Dikutip dari Mayo Clinic, karena naik turunnya tekanan darah tidak bisa diketahui tanpa alat ukur, maka gejala preeklampsia juga dapat diawasi dengan memperhatikan hal-hal berikut ini:
  • Mual muntah
  • Sakit kepala berat
  • Produksi urin menurun
  • Kenaikan berat badan drastis sehingga 1-2,5 kg dalam seminggu
  • Pembengkakan wajah dan anggota tubuh, terutama tangan
  • Tekanan darah lebih dari 140/90 mm Hg
Jika gejala preeklampsia berlanjut, Anda mungkin akan merasakan beberapa gejala eklampsia, antara lain:
  • Sakit kepala
  • Pandangan kabur atau berganda
  • Sakit bagian perut, terutama bagian atas kanan atau tengah
  • Sulit bernapas
  • Merasa bingung, sulit berkonsentrasi
  • Ditemukan kadar protein berlebih pada urine atau gejala masalah ginjal lainnya
  • Kejang
Kejang akibat eklamsia bisa terjadi sebelum, selama atau setelah persalinan. Kondisi ini terjadi dalam dua fase. Fase pertama, kejang bisa terjadi selama 15-20 detik disertai dengan kedutan pada wajah.Kemudian, ketika masuk fase kedua, kedutan mulai terasa pada rahang, otot muka, kelopak mata hingga menyebar ke seluruh tubuh selama 60 detik. Kejang di fase ini akan membuat otot kontraksi dan rileks secara berulang-ulang dalam waktu yang cepat.Baca juga: Jenis-jenis Hipertensi dalam Kehamilan dan Perbedaannya

Apa saja penyebab preeklamsia dan eklamsia?

Penyebab preeklamsia dan eklamsia belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli meyakini penyebab preeklampsia disebabkan oleh beberapa faktor, tetapi penyebab utama berawal dari bagian plasenta atau organ yang dibentuk dari jaringan pembuluh darah dan merupakan jalur nutrisi untuk bayi.Pada kasus preeklampsia, jaringan-jaringan pembuluh darah ini mungkin tidak terbentuk atau berfungsi dengan sempurna. Selain ukurannya yang lebih kecil daripada jaringan pembuluh darah normal, jaringan ini juga tidak bereaksi normal terhadap sinyal hormon. Akibatnya, aliran darah tidak bisa mengalir sempurna pada bagian ini.Jika sampai terjadi kondisi ini, ada beberapa masalah medis yang mungkin timbul:
  • Darah yang tidak mengalir penuh ke rahim
  • Kerusakan pada jaringan pembuluh darah
  • Masalah imunitas tubuh
  • Kerusakan gen
Sedangkan penyebab eklamsia pada ibu hamil diduga kuat diakibatkan oleh adanya kelainan bentuk dan fungsi pada plasenta. Faktor lain yang mungkin menjadi pemicunya adalah tidak lain karena menderita preeklamsia pada kehamilan sebelumnya.Selain kedua faktor di atas, kondisi lain yang dapat menyebabkan eklampsia saat hamil adalah:
  • Memiliki riwayat penyakit hipertensi kronis atau hipertensi saat hamil
  • Hamil pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
  • Mengalami kondisi dan penyakit tertentu, seperti diabetes, penyakit ginjal, anemia sel sabit, obesitas, serta penyakit autoimun, seperti lupus dan sindrom antifosfolipid (APS)
  • Mengalami kondisi tertentu dalam kehamilan, seperti hamil kembar atau lebih dari satu janin atau hamil dengan program bayi tabung (IVF)
Dilihat dari gejala dan penyebabnya, dapat disimpulkan bahwa preeklamsia dan eklamsia memang saling berkaitan. 

Apakah saya berpotensi mengidap preeklampsia dan eklampsia?

Preeklampsia dan eklampsia adalah salah satu gangguan kehamilan yang serius dan bisa mengancam nyawa. Jika Anda mengalami kondisi-kondisi berikut, disarankan untuk rutin kontrol dan mengawasi tekanan darah tinggi selama kehamilan, seperti:
  • Sejarah preeklampsia pada diri atau keluarga.
  • Hipertensi kronis, sebelum kehamilan.
  • Kehamilan pertama (lebih berisiko dibanding kehamilan lanjutan)
  • Paternal baru atau ayah bayi yang berbeda dari kehamilan sebelumnya
  • Usia kehamilan, karena preeklampsia dan eklampsia rentan menyerang ibu usia muda atau mereka yang berusia di atas 40 tahun
  • Obesitas
  • Kehamilan kembar atau lebih
  • Jeda antar kehamilan (misalnya di bawah 2 tahun atau lebih dari 10 tahun)
  • Sejarah kesehatan, seperti masalah ginjal, lupus, penggumpalan darah, migrain, dan lain-lain
Belum ada cara yang terbukti secara medis dalam mencegah preeklampsia dan eklamsia. Pemeriksaan kehamilan secara rutin, resep obat-obatan yang tepat, menerapkan gaya hidup sehat dan pola makan teratur serta mengonsumsi suplemen kalsium sesuai anjuran dokter adalah langkah-langkah yang efektif untuk setidaknya mengurangi potensi serangan preeklampsia selama hamil.Jika Anda ingin berkonsultasi langsung pada dokter, Anda bisa chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.
Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
preeklampsia
WebMD. https://www.webmd.com/baby/guide/preeclampsia-eclampsia
Diakses pada Oktober 2018
MayoClinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/preeclampsia/symptoms-causes/syc-20355745
Diakses pada Oktober 2018
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait