Mengenal Gejala dan Cara Mengatasi Otot Tegang

(0)
09 May 2019|Aby Rachman
Ditinjau olehdr. Indra Wijaya
Gejala otot tegangOtot tegang terjadi karena otot mengalami peregangan berlebihan
Otot tegang merupakan kondisi cedera otot yang terjadi karena otot mengalami peregangan yang berlebihan akibat aktivitas fisik. Selain peregangan yang berlebihan, otot tegang juga dapat disebabkan adanya kerusakan pada tendon. Secara umum, hal ini terjadi akibat tekanan dan aktivitas berat yang lebih dari biasanya. Kerusakan ini dapat berupa robekan sebagian atau robekan secara keseluruhan pada serabut otot dan tendon yang menempel pada otot. Robekan otot juga dapat merusak pembuluh darah kecil, menyebabkan pendarahan lokal hingga memunculkan memar dan rasa sakit akibat iritasi ujung saraf di daerah tersebut.

Gejala otot tegang

Cedera otot tegang dapat diamati dengan munculnya gejala-gejala berikut ini:
  • Pembengkakan, memar, atau kemerahan karena cedera
  • Nyeri saat istirahat
  • Nyeri saat bagian tubuh yang cedera digunakan
  • Berkurangnya kekuatan otot dan tendon
  • Ketidakmampuan untuk menggunakan otot

Cara mengobati otot tegang

Jika Anda mengalami cedera otot yang cukup parah, segera hubungi dokter untuk mendapatkan perawatan intensif. Selain itu, apabila Anda mendengar suara "pop" saat kecelakaan berlangsung, kesulitan dalam berjalan, muncul pembengkakan, rasa sakit, demam, dan adanya luka terbuka yang signifikan, Anda harus segera mengunjungi bagian gawat darurat rumah sakit. Biasanya, dokter akan mengambil melakukan pemeriksaan fisik untuk menentukan apakah otot robek sebagian atau seluruhnya. Dengan begitu, akan ditentukan cara pengobatan yang tepat dan sesuai, apakah dengan operasi atau metode pemulihan lain. Namun, jika dokter mengatakan bahwa tidak ada hal yang serius dan Anda dapat pulih dalam waktu dekat, Anda dapat melakukan perawatan cedera di rumah dengan melakukan langkah P.R.I.C.E, yang terdiri dari:

1. Protection

Pastikan untuk melakukan gerakan yang aman pada bagian tubuh yang cedera untuk menghindari otot yang tegang mengalami cedera lebih lanjut.

2. Rest

Istirahatkan otot yang tegang. Hindari kegiatan yang menyebabkan ketegangan dan aktivitas lain yang membebani bagian tubuh yang cedera.

3. Ice

Kompres bagian tubuh yang cedera dengan es. Cara ini penting sebagai tindakan antiinflamasi dan pereda nyeri yang sangat efektif. Lakukan hingga nyeri dan bengkak hilang.

4. Compression

Gunakan perban untuk menghindari pembengkakan berlebihan pada bagian tubuh yang mengalami cedera. Ingat, jangan terlalu ketat membungkus agar aliran darah dapat tetap lancar.

5. Elevate

Posisikan bagian tubuh yang cedera di area yang tinggi. Cara ini penting untuk mengurangi ketegangan otot.Setelah itu, pastikan Anda tetap beristirahat dari berbagai aktivitas yang meningkatkan nyeri otot atau membutuhkan kerja keras pada bagian tubuh yang mengalami cedera. Setidaknya hingga rasa sakit sudah benar-benar tidak lagi dirasakan.

Rekomendasi obat untuk mengatasi nyeri otot

Menurut ahli, nyeri otot umumnya hanya memengaruhi area tubuh dalam lingkup terbatas. Rasa sakit yang dirasakan pun berawal dari yang terasa ringan dan hanya bisa dirasakan setelah melakukan aktivitas tertentu.Namun apabila rasa sakitnya sudah tidak tertahankan, berikut beberapa pilihan obat pereda nyeri otot yang perlu Anda diketahui:

1. Paracetamol

Paracetamol atau asetaminofen adalah obat pereda nyeri yang aman untuk digunakan meringankan rasa sakit pada otot. Tak hanya mampu meredakan sakit otot ringan, obat ini pun juga dapat mengurangi demam.

2. Antinyeri NSAID

Obat antinyeri golongan NSAID bekerja dengan cara menghalangi enzim siklooksigenase (COX-1 dan COX-2) untuk memproduksi prostaglandin, hormon yang memicu rasa sakit. NSAID bekerja sebagai obat pereda nyeri otot yang disebabkan oleh cedera serta ketegangan (otot keseleo atau terkilir).Diskusikan dengan dokter atau apoteker mengenai takaran dosis dan aturan pakai yang tepat sesuai kondisi Anda.

3. COX-2 inhibitor

Obat COX-2 inhibitor merupakan jenis baru obat antiinflamasi nonsteroid (NSAID). NSAID dapat meringankan rasa sakit dan peradangan dengan cara menghambat enzim yang dikenal sebagai cyclooxygenase-2 (COX-2).Para peneliti menemukan bahwa golongan obat ini bisa mengurangi rasa nyeri pada otot. Obat-obatan yang termasuk COX-2 inhibitor adalah celecoxib dan etoricoxib.

4. Kortikosteroid

Kortikosteroid adalah obat anti radang yang umumnya digunakan untuk mengatasi gangguan kelenjar adrenal yang mengakibatkan tubuh kekurangan hormon steroid.Kondisi yang sering diobati dengan kortikosteroid antara lain adalah pembengkakan, rasa pegal, dan nyeri otot akibat penyakit autoimun seperti lupus dan arthritis.Obat ini membutuhkan aturan pakai yang diresepkan dan diawasi oleh dokter karena risiko efek sampingnya dapat berupa kenaikan berat badan, sakit perut, sakit kepala, perubahan suasana hati, dan kesulitan tidur.Penggunaan kortikosteroid tanpa pantauan dokter juga dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh dan menipiskan tulang Anda.

5. Relaksan otot

Relaksan otot umumnya digunakan sebagai pelengkap obat lain untuk mengatasi nyeri yang berhubungan dengan ketegangan, kekakuan, serta kejang otot. Obat ini bekerja dengan cara memerintahkan otak untuk mengendurkan otot-otot yang bermasalah.Obat relaksan otot yang umum untuk mengatasi sakit otot termasuk tizanidine, baclofen, cyclobenzaprine, carisoprodol, dan eperison.

6. Opioid

Opioid merupakan penghilang rasa sakit kuat yang biasanya digunakan untuk mengatasi nyeri kronis dan amat parah. Obat nyeri otot ini termasuk golongan obat narkotika yang memerlukan resep dokter dan pemantauan ketat secara berkala.Opiat bekerja menghalau reseptor rasa sakit di otak serta melepaskan dopamin dalam jumlah besar ke seluruh tubuh untuk menciptakan perasaan tenang. Obat ini juga dapat menetralkan detak jantung dan pernapasan.Contoh-contoh opioid antara lain:
  • Morfin
  • Fentanyl
  • Oksikodon
  • Kodein
Efek samping dari opioid meliputi mengantuk berat, mual, sembelit, gatal, detak jantung yang lebih rendah. Anda berisiko mengalami ketergantungan obat jika menggunakan opioid secara rutin dalam jangka waktu yang panjang. Bicarakan dengan dokter Anda sebelum mengonsumsi obat ini.

Cara mencegah otot tegang

Meskipun dapat disembuhkan, cedera otot tegang juga dapat berisiko jika terjadi terus menerus. Akibatnya, dampak kumulatif bisa terjadi dan menimbulkan efek jangka panjang yang tidak diinginkan. Oleh karena itu, pastikan Anda selalu melakukan langkah pencegahan agar tidak mengalami otot tegang, seperti:
  • Mulai program olahraga dengan berkonsultasi dengan dokter Anda untuk mengetahui kondisi fisik secara optimal.
  • Lakukan pemanasan peregangan setiap hari, khususnya saat akan berolahraga.
  • Lakukan pendinginan dan peregangan setelah berolahraga.
  • Untuk aktivitas fisik berat, lakukan pemanasan khusus seperti lari di tempat selama beberapa menit.
cederacedera otot
WebMD. https://www.webmd.com/fitness-exercise/guide/muscle-strainHealthline. https://www.healthline.com/health/strainsDiakses pada Oktober 2018Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/symptoms/muscle-pain/basics/definition/sym-20050866 Diakses pada 30 Juli 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait