Memahami Depresi pada Lansia, Apa Penyebab dan Cara Mengobatinya?

Pengobatan depresi pada lansia dapat dilakuakn dengan terapi, termasuk obat-obatan dan konseling
Depresi pada lansia menunjukkan gejala yang sedikit berbeda

Depresi pada lansia adalah hal yang cukup sering ditemukan, namun bukan berarti hal ini termasuk normal. Menurut data WHO, terdapat sekitar 7% dari populasi lansia di dunia yang mengalami gangguan depresi.

Depresi pada lansia menunjukkan gejala yang berbeda-beda, sehingga sering disalahpahami sebagai efek dari penyakit atau pengobatan tertentu. Tidak hanya itu, depresi yang dialami oleh orang dewasa dan lansia juga relatif berbeda.

Perbedaan Depresi pada Lansia dan Depresi pada Orang Dewasa

Depresi pada lansia berbeda dengan depresi pada orang dewasa atau yang berusia lebih muda. Depresi yang dialami oleh lansia kerap muncul dengan penyakit lain atau cacat, dan biasanya berlangsung lebih lama.

Depresi pada kaum lansia juga dikaitkan dengan meningkatnya risiko penyakit jantung dan kematian akibat penyakit. Selain itu, depresi juga mengurangi kemampuan rehabilitasi lansia.

Sebuah studi memperlihatkan bahwa pasien panti jompo dengan penyakit tertentu menunjukkan depresi yang meningkatkan potensi kematian. Depresi juga dikaitkan dengan potensi kematian akibat penyakit jantung.

Oleh karena itu, sangat penting untuk memeriksa dan merawat depresi pada lansia walaupun hanya depresi ringan. Karena usia lanjut sering ditandai dengan kematian pasangan hidup atau saudara, pensiun, relokasi, dan sebagainya, perubahan ini rentan menyebabkan depresi pada lansia.

Dokter dan keluarga mungkin saja tidak menyadari tanda-tanda depresi pada lansia. Akibatnya, penanganan yang tepat sering terlambat, sehingga para lansia harus menghadapi penyakit depresi yang seharusnya bisa dicegah.

Dokter sangat dianjurkan untuk mengevaluasi potensi depresi pada lansia secara rutin, baik pada kunjungan berobat atau pemeriksaan rutin. Ini bisa dilakukan dengan tanya jawab standar selama konsultasi atau evaluasi lebih lanjut untuk diagnosis dan perawatan sejak dini.

Insomnia dan Kaitannya dengan Depresi pada Lansia

Insomnia biasanya termasuk salah satu gejala depresi. Sebuah studi terbaru juga menunjukkan bahwa insomnia adalah merupakan faktor penyebab awal depresi dan depresi yang berulang, terutama pada lansia.

Untuk menyembuhkan insomnia, dokter bisa merekomendasikan pengurangan pada pemakaian obat-obatan tertentu yang dinilai dapat meningkatkan risiko turunnya ketajaman otak, depresi pernapasan, dan potensi terjatuh.

Para ahli umumnya lebih merekomendasikan obat antidepresan yang bersifat ringan untuk penderita lansia dengan keluhan insomnia, yang bisa juga dikombinasikan dengan terapi oleh psikiater termasuk memberikan resep obat, psikoterapi, atau keduanya.

Risiko Depresi pada Lansia

Meningkatnya risiko depresi pada lansia, terutama dapat ditemukan pada kondisi-kondisi berikut:

  • Memiliki jenis kelamin wanita.
  • Tidak memiliki pasangan (tidak menikah, bercerai, atau janda/duda).
  • Kurangnya pergaulan atau kehidupan sosial.
  • Mengalami peristiwa hidup yang penuh stres.

Di samping itu, beberapa faktor risiko depresi pada lansia bisa pula meliputi beberapa hal di bawah ini:

  • Pengaruh obat-obatan atau kombinasi obat-obatan tertentu.
  • Cacat tubuh, misalnya amputasi, kanker, bekas operasi atau penyakit jantung.
  • Riwayat keluarga yang memiliki catatan depresi.
  • Takut akan kematian.
  • Tinggal sendiri, terisolasi secara sosial.
  • Memiliki penyakit tertentu, seperti diabetes, demensia, hipertensi, serta stroke.
  • Pernah ingin mencoba bunuh diri.
  • Rasa sakit kronis.
  • Riwayat depresi sebelumnya.
  • Kehilangan orang tercinta.
  • Ketergantungan obat-obatan.

Pengobatan Depresi pada Lansia

Tersedia beberapa pilihan pengobatan depresi pada lansia. Mulai dari pemberian obat-obatan, psikoterapi, konseling atau terapi elektrokonvulsif, dan prosedur stimulasi otak.

Kombinasi dari beberapa pilihan ini bisa diterapkan, tergantung pada hasil analisis dokter akan jenis dan tingkat keparahan gejala depresi yang dialami oleh lansia, riwayat pengobatan, dan kondisi medis lainnya. Berikut penjelasannya:

1. Antidepresan

Pemberian obat-obatan jenis antidepresan bisa membantu kasus depresi pada lansia. Meski begitu, pemberiannya harus mempertimbangkan beberapa efek samping obat, misalnya penurunan tekanan darah yang berpotensi menyebabkan jatuh dan retak tulang.

Antidepresan biasanya membutuhkan waktu kerja yang lebih lama pada lansia. Kenapa? Lansia umumnya lebih sensitif pada obat-obatan, sehingga dokter harus memberikan dosis ringan terlebih dahulu.

2. Psikoterapi

Penyembuhan depresi pada lansia umumnya berhasil jika ada dukungan dari keluarga, teman, keinginan untuk sembuh, komunitas yang saling mendukung, dan psikoterapi.

Psikoterapi sangat efektif, terutama untuk mereka yang pernah mengalami peristiwa hidup yang penuh stres dan tidak ingin menggunakan obat-obatan (karena khawatir efek samping), serta gejala depresi tergolong ringan. Namun, dokter juga akan menganjurkan penggunaan obat-obatan sebagai kombinasi untuk psikoterapi.

Supaya pengobatan depresi pada lansia bisa sukses, stigma akan penyakit mental dan psikiater harus dihapus dari benak para lansia. Dengan hilangnya stigma ini, lansia akan lebih tergerak untuk mencari solusi dan tidak hanya menerima gejala depresi sebagai hal yang normal dalam hidup.

Depresi bisa mengakibatkan keluhan fisik sehingga pengobatannya tidak tepat sasaran. Terlebih lagi jika para lansia tidak ingin memberitahukan gejala depresi karena menganggap tidak ada pertolongan bagi mereka.

Lansia juga mungkin enggan mengonsumsi obat karena khawatir efek samping atau biaya. Kurangnya motivasi akibat faktor-faktor, seperti kombinasi penyakit usia tua, pengaruh alkohol atau obat-obatan, juga akan memperparah depresi pada lansia.

WebMD. https://www.webmd.com/depression/guide/depression-elderly

WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/mental-health-of-older-adults

Diakses pada Oktober 2018

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed