Memahami Cara Mengobati HIV Lewat Terapi Antiretroviral

HIV tidak bisa disembuhkan tapi ada cara mengobati HIV untuk memperbaiki kualitas hidup penderitanya
HIV dapat diobati dengan kombinasi obat-obatan dalam terapi antiretroviral

Hingga kini, belum ada obat untuk menyembuhkan infeksi human immunodeficiency virus (HIV). Meski demikian, bukan berarti tidak ada cara mengobati HIV, setidaknya agar penyakit ini tidak berkembang ke tahap yang paling parah, yakni acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).

HIV disebut juga retrovirus yang hanya bisa diatasi dengan kombinasi obat-obatan yang disebut dengan antiretroviral therapy (ART) atau terapi antiretroviral. Anda harus meminum obat-obatan ART setiap hari sesuai dengan petunjuk dokter yang menangani Anda.

Pengobatan HIV bertujuan menekan perkembangan virus HIV dalam darah ke level yang paling rendah. Dalam kondisi ini, Anda akan merasa sehat dan terhindar dari berbagai penyakit yang mungkin akan membahayakan nyawa Anda. Selain itu, meminum obat HIV juga dapat mencegah penularan virus kepada orang yang melakukan kontak dengan Anda.

Bagaimana cara mengobati HIV?

Setiap orang yang dinyatakan positif mengidap HIV harus segera menghubungi dokter untuk mengetahui cara mengobati HIV lewat ART ini. Terlebih, mereka yang sedang dalam kondisi hamil, sudah dinyatakan positif AIDS, mengidap penyakit atau koinfeksi yang berhubungan dengan HIV, serta orang yang baru memasuki fase awal infeksi HIV (dalam kurun 6 bulan setelah pertama kali divonis menderita HIV).

Saat ini, sudah banyak jenis obat HIV yang aman Anda konsumsi saat menjalani ART, namun biasanya mereka diklasifikasikan dalam kelas sebagai berikut:

  • Non-nucleoside reverse transciptase inhibitors (NNRTIs)

NNRTIs merupakan cara mengobati HIV dengan mematikan protein yang dibutuhkan oleh virus tersebut untuk melipatgandakan diri. Contoh obat yang termasuk NNRTIs adalah jenis obat efavirenz, etravirine, dan nevirapine.

  • Nucleoside atau nucleotide reverse transciptase inhibitors (NRTIs)

NRTIs adalah obat yang menghambat enzim reverse transciptase, yaitu enzim yang diperlukan untuk virus HIV berkembang biak. Obat ini misalnya Abacavir (Ziagen), dan kombinasi obat emtricitabine/tenofovir, tenofovir alafenamide/emtricitabine (Descovy), dan lamivudine-zidovudine (Combivir).

  • Protease inhibitors (PIs)

PIs merupakan cara mengobati HIV dengan mematikan protease HIV, yakni protein lain yang dibutuhkan virus tersebut untuk berkembang biak. Obat jenis ini antara lain atazanavir, darunavir, fosamprenavir, dan indinavir.

  • Entry atau fusion inhibitors

Obat ini bekerja dengan cara mencegah HIV memasuki sel CD4. Contoh dari obat jenis ini, yaitu enfuvirtide dan maraviroc.

  • Integrase inhibitors

Obat ini bekerja dengan cara mengeliminasi integrase, yakni protein yang digunakan HIV untuk memasukkan materi genetik mereka ke dalam sel CD4. Contoh dari obat jenis ini adalah raltegravir dan dolutegravir.

Dokter akan memberi Anda tiga obat dari minimal dua kelas obat HIV di atas untuk menghindari resistensi virus HIV. Namun, cara mengobati HIV ini hanya efektif jika Anda mengikuti anjuran dokter mengenai waktu dan dosis obat yang harus Anda minum setiap hari.

Jika Anda tidak disiplin dalam mengonsumsi obat HIV, virus mungkin akan kebal sehingga pengobatan Anda tidak mampu lagi menahan laju perkembangan HIV. Perlu diingat juga bahwa obat atau suplemen jenis tertentu tidak cocok dikonsumsi berbarengan dengan obat HIV di atas sehingga Anda harus selalu berkonsultasi dengan dokter setiap akan meminum obat atau suplemen di luar obat HIV.

Efek samping pengobatan HIV

Seperti obat pada umumnya, cara mengobati HIV dengan obat tertentu juga dapat menimbulkan efek samping. Efek ini pun bisa berbeda pada pria maupun wanita, namun biasanya efek samping itu berupa:

  • Mual dan muntah
  • Diare
  • Sulit tidur
  • Mulut kering
  • Sakit kepala
  • Muncul bercak kemerahan pada kulit
  • Sering lelah
  • Nyeri.

Meski demikian, perlu ditekankan bahwa tidak semua orang akan mengalaminya, apalagi saat ini obat HIV sudah semakin berkembang dan lebih jarang menimbulkan efek negatif dibanding obat keluaran sebelumnya. Selain itu, efek samping obat HIV juga bisa terjadi hanya sebentar, bisa juga bertahan selama berhari-hari.

Jika Anda mengalami efek samping ini, jangan menghentikan pengobatan HIV tanpa rekomendasi dokter karena justru bisa menyebabkan resistensi obat. Dokter mungkin akan meresepkan obat untuk mengurangi efek samping tersebut atau mungkin mengganti obat HIV Anda dengan obat dari kelas yang lain.

Saat menjalani ART, Anda juga akan diminta melakukan tes darah setiap 3-4 bulan sekali untuk mengetahui jumlah virus (viral load) yang ada di dalam darah. Cara mengobati HIV Anda dikatakan efektif jika terjadi pengurangan virus hingga tak terdeteksi lagi dalam tes tersebut.

Meski demikian, tidak terdeteksinya virus bukan menandakan Anda telah sepenuhnya sembuh dari HIV. Kondisi tersebut hanya menandakan bahwa jumlah virus HIV di dalam tubuh Anda sangat sedikit sehingga tes darah tidak mampu mendeteksinya.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/hiv-aids/diagnosis-treatment/drc-20373531
Diakses pada 6 Desember 2019

HIV Info (U.S. Department of Health & Human Services). https://www.hiv.gov/hiv-basics/staying-in-hiv-care/hiv-treatment/hiv-treatment-overview
Diakses pada 6 Desember 2019

AIDS Info (U.S. Department of Health & Human Services). https://aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/21/51/hiv-treatment--the-basics
Diakses pada 6 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/hiv-aids/aids-hiv-medication
Diakses pada 6 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed