Anak akan menjadi korban dari hubungan keluarga broken home
Broken home akan memberikan dampak buruk kepada anak

Broken home merupakan kondisi saat keluarga mengalami perpecahan dan terputusnya struktur peran anggota keluarga yang gagal menjalankan kewajiban dari peran mereka. Pengertian broken home juga dapat dilihat dari dua aspek, yaitu broken home karena struktur keluarga tidak utuh dikarenakan perceraian atau salah satu orangtua meninggal dunia.

Ada juga kondisi di mana orangtua tidak bercerai, tapi struktur keluarga tidak utuh karena salah satu orangtua meninggalkan rumah atau tidak memberi kasih sayang lagi dengan anak dan pasangannya. Contohnya, orangtua sering bertengkar sehingga struktur keluarga tersebut tidak sehat lagi secara psikologis. Keluarga yang mengalami broken home dapat ditandai dengan ciri-ciri berikut.

  • Kedua orangtua bercerai atau berpisah
  • Hubungan kedua orangtua sudah tidak baik lagi
  • Orangtua tidak memberi kasih sayang dan perhatian pada anak
  • Orangtua sering meninggalkan rumah
  • Sering terjadi pertengkaran
  • Suasana rumah tidak harmonis
  • Salah satu orangtua meninggal dunia.

Dampak broken home pada anak

Kondisi perpecahan pada struktur keluarga ini tentu dapat berdampak buruk bagi perkembangan dan kesehatan mental anak. Broken home dapat menyebabkan anak merasa kehilangan peran penting keluarga di hidupnya, merasa stres, tertekan, hingga merasa dirinya yang menjadi penyebab perpisahan tersebut.

Dampak dari broken home umumnya akan membuat anak merasa sedih dan kehilangan motivasi atau penyemangat. Selain itu, berikut dampak broken home pada anak yang perlu Anda tahu:

  • Mengalami kesedihan yang berkelanjutan

Saat anak menyadari adanya perpecahan di keluarganya, tentu akan membuatnya merasa sedih. Hal ini dikarenakan anak sadar bahwa apa yang sudah dilalui keluarganya akan hancur begitu saja dan kenangan indahnya bersama keluarga tidak dapat terulang kembali.

  • Menyalahkan dirinya sendiri sebagai penyebab perpisahan

Karena masalah yang terjadi di keluarganya, anak broken home seringkali merasa bahwa dirinya lah yang menjadi penyebab perpisahan orangtuanya. Padahal, hal ini belum tentu benar dan jika anak terus menyalahkan dirinya akan berdampak buruk dengan kesehatan mentalnya.

  • Menjadi lebih posesif

Anak dari keluarga broken home cenderung akan menjadi lebih posesif dalam lingkungan pertemanan atau percintaan. Hal ini dikarenakan anak broken home secara emosional lebih haus kasih sayang karena tidak mereka dapatkan dari keluarganya. Selain itu, anak broken home juga cenderung memiliki rasa cemburu yang berlebihan pada orang di sekitarnya.

  • Sulit percaya dengan orang lain

Menurut sebuah penelitian, anak broken home akan sulit percaya dengan orang lain dan akan selalu merasa bahwa ia sedang dibohongi. Perasaan sulit menaruh kepercayaan pada orang lain ini dapat menyebabkan anak mudah frustrasi dan sering berkecil hati saat berhubungan dengan orang lain.

  • Kehilangan kasih sayang

Dampak broken home juga akan membuat anak merasa kehilangan kasih sayang. Rasa kehilangan yang dialami oleh anak broken home bukanlah kehilangan yang bisa di dapat atau dikembalikan seperti semula. Anak broken home akan merasa tidak ada sosok yang dapat menggantikan peran tersebut dan merasa tidak diperhatikan.

  • Tidak punya identitas diri

Dampak broken home yang sudah disebutkan sebelumnya, akan menyebabkan anak tidak punya identitas diri yang kuat. Mental anak broken home cenderung lemah dan ia merasa hidupnya tidak seberuntung orang lain. Hal inilah yang menyebabkan anak broken home mudah depresi, tidak punya identitas diri yang kuat, dan merasa dirinya tidak berharga.

  • Trauma untuk menjalin hubungan dengan orang lain

Kondisi parah dari dampak broken home pada anak, dapat menyebabkan trauma untuk menjalin hubungan dengan orang lain. Berdasarkan pengalaman yang tidak baik dalam keluarganya, membuat ia ragu dan takut untuk membangun hubungan atau berkeluarga nantinya.

Mencegah dampak broken home pada anak

Keluarga yang mengalami broken home dapat berpengaruh pada anak, secara tidak langsung kondisi ini akan mempengaruhi psikis anak, bahkan tidak jarang dampak broken home pada anak bisa bersifat negatif yang nantinya dapat mempengaruhi masa depan anak. Lalu apa yang bisa dilakukan orangtua untuk mencegah dampak tersebut?

  • Hindari memperlihatkan keributan di depan anak
  • Ajari anak untuk berpikir positif
  • Jangan biarkan anak menyalahkan dirinya sendiri
  • Luangkan waktu untuk mendengarkan curahan hati anak
  • Ajari anak untuk mencoba hal-hal baru yang menyenangkan
  • Jaga keharmonisan keluarga
  • Bawa ke psikologi anak jika psikisnya terganggu.

Mempertahankan hubungan keluarga yang harmonis memang tidak mudah. Namun, Anda dan pasangan perlu memperhatikan psikis anak yang broken home. Jangan sampai perpecahan keluarga dapat merusak kesehatan mentalnya.

Brown University
https://www.brown.edu/campus-life/support/counseling-and-psychological-services/index.php?q=dysfunctional-family-relationships
Diakses pada 3 April 2020

The guardian
https://www.theguardian.com/commentisfree/2016/sep/30/facing-my-fear-growing-up-in-broken-home-kids
Diakses pada 3 April 2020

All research journal
http://www.allresearchjournal.com/archives/2017/vol3issue2/PartG/3-2-106-798.pdf
Diakses pada 3 April 2020

Artikel Terkait