Hindari Risiko Terjangkit HIV/AIDS dengan Melakukan Tes HIV

Tes HIV berguna untuk memastikan ada atau tidaknya infeksi virus HIV dalam tubuh seseorang
Tes HIV diperlukan untuk memastikan infeksi virus HIV

Perlu Anda pahami, seseorang hanya dapat didiagnosis terinfeksi HIV apabila sudah menjalani tes dan mendapatkan hasil yang positif. Pasalnya, tidak ada gejala atau tanda khusus yang menjadi ciri-ciri seseorang dengan HIV.

Secara umum, tes yang dilakukan merupakan uji pemeriksaan darah atau cairan tubuh untuk melihat apakah Anda terinfeksi HIV. Sayangnya, tes tersebut juga tidak dapat langsung mendeteksi keberadaan HIV.

Hal ini disebabkan karena perlunya waktu bagi tubuh Anda untuk membuat antibodi sebagai respons dari infeksi HIV. Bahkan, perlu waktu hingga 6 bulan untuk benar-benar mengidentifikasi infeksi dari virus ini. Dengan kata lain, bisa jadi Anda mendapatkan hasil negatif pada tes HIV di satu waktu, tetapi beberapa waktu kemudian, tes lain menunjukkan hasil yang berbeda.

Berikut adalah beberapa tes HIV yang dapat dilakukan untuk memastikan penyakit HIV/AIDS:

1. Tes Screening Antibodi

Tes pertama yang dapat dilakukan adalah screening antibodi. Tes ini dilakukan untuk memeriksa keberadaan protein yang diproduksi tubuh sebagai respons dari infeksi virus HIV. Protein atau antibodi ini biasanya paling cepat akan muncul sekitar 2-8 minggu setelah infeksi.

Tes ini juga biasa disebut sebagai tes immunoassay atau ELISA. Umumnya, tes ini memberikan hasil yang sangat akurat. Namun, tes ini masih sulit untuk menangkap tanda infeksi awal.

Dalam tes ini, sampel darah atau cairan tubuh dari pasien akan diambil dan di uji dalam laboratorium. Namun, sebagian tes immunoassay yang menggunakan cairan dari air liur kerap memberikan hasil negatif palsu akibat tidak ada banyak antibodi di dalamnya. Jadi, Anda mungkin akan mendapatkan hasil positif meskipun nyatanya Anda tidak terinfeksi.

Waspadai tes cepat dari uji sampel darah dan air liur ini. Sebab, kebanyakan dari tes ini memberikan hasil negatif palsu.

2. Uji Kombinasi Antibodi/Antigen

CDC (Centers for Disease Control and Prevention) merekomendasikan tes darah yang satu ini untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Uji ini dapat mendeteksi HIV dengan lebih cepat, yaitu 20 hari lebih awal dari tes screening antibodi.

Bahkan, tes ini juga daat memeriksa antigen HIV, yaitu protein yang disebut p24 (bagian dari virus yang muncul 2-4 minggu setelah infeksi), serta antibodi HIV. Tes antibodi/antigen ini dapat dikatakan cepat karena dapat memberi Anda hasil dalam waktu 20 menit.

3. Tes RNA

Tes lain yang juga dapat dilakukan untuk mengetahui adanya infeksi HIV dalam tubuh seseorang adalah dengan melakukan tes RNA. Tes RNA ini bekerja dengan cara mencari virus itu sendiri hingga diagnosis dapat dilakukan dengan lebih cepat, tepatnya sekitar 10 hari setelah Anda terpapar virus.

Akan tetapi, tes ini membutuhkan biaya yang sangat besar. Tidak heran jika tes ini bukan menjadi pilihan uji coba pertama. Akan tetapi, jika Anda berisiko tinggi dan Anda memiliki gejala seperti flu, dokter biasanya akan menyarankan Anda untuk melakukan tes ini.

Hasil dan Tes Lanjutan

Apabila tes HIV yang Anda lakukan menunjukkan hasil positif, itu artinya Anda telah terinfeksi HIV. JIka hasil positif tersebut didapatkan melalui tes cepat, segera lakukan pengujian laboratorium standar untuk memastikannya. Saat Anda menjalani tes laboratorium, Anda akan melalui beberapa tahapan uji lebih rinci pada sampel darah untuk membantu mengonfirmasi diagnosis, seperti:

  • Tes diferensiasi antibodi, antara HIV-1 dan HIV-2
  • Western blot atau tes immunofluorescence tidak langsung
  • Tes asam nukleat HIV-1, yang berfungsi untuk mencari virus itu sendiri
  • Tes RNA

Jika Anda melakukan tes HIV dalam 3 bulan pertama setelah Anda berada pada periode berisiko terinfeksi HIV dan hasilnya negatif, segera lakukan tes ulang setelah 6 bulan untuk memastikan hasilnya benar-benar negatif.

Kapan Anda Harus Melakukan Tes HIV?

Anda tentu akan bertanya, kapan seharusnya Anda mulai melakukan tes HIV. Berikut ini adalah beberapa kondisi yang membuat Anda perlu dengan rutin melakukan pengujian infeksi HIV:

  1. Memiliki beberapa pasangan seksual atau kerap berganti-ganti pasangan.
  2. Melakukan hubungan seks tanpa kondom dengan seseorang yang positif atau HIV, termasuk dengan seseorang yang riwayat seksualnya tidak Anda ketahui.
  3. Menyuntikkan obat dengan jarum suntik atau peralatan lain telah digunakan orang lain terlebih dahulu.
  4. Pernah atau sedang dites untuk TB atau penyakit menular seksual, termasuk herpes dan hepatitis.
  5. Berhubungan seks dengan pengguna narkoba atau pekerja seks komersial.
  6. Melakukan hubungan seks dengan seseorang yang memiliki risiko tinggi HIV.
  7. Istri dari suami yang berisiko terjangkit HIV.

WebMD. https://www.webmd.com/hiv-aids/hiv-aids-screening#1
Diakses pada November 2018

Aids Info. https://aidsinfo.nih.gov/understanding-hiv-aids/fact-sheets/19/47/hiv-testing
Diakses pada November 2018

Artikel Terkait

Banner Telemed