logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Kesehatan Mental

10 Mekanisme Pertahanan Manusia Atasi Situasi Tak Nyaman

open-summary

Ketika menghadapi situasi, pikiran, atau orang yang membuat diri merasa tak nyaman, secara alami seseorang akan mengeluarkan mekanisme pertahanan atau defense mechanism. Strategi psikologis ini dapat membantu seseorang dari perasaan yang tidak diinginkan seperti merasa bersalah hingga malu.


close-summary

5

(9)

19 Agt 2020

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Manusia dilengkapi mekanisme pertahanan diri saat menghadapi situasi sulit

Manusia memiliki mekanisme pertahanan saat menghadapi situasi yang tidak mengenakan

Table of Content

  • Jenis mekanisme pertahanan manusia
  • Catatan dari SehatQ

Ketika menghadapi situasi, pikiran, atau orang yang membuat diri merasa tak nyaman, secara alami seseorang akan mengeluarkan mekanisme pertahanan atau defense mechanism. Strategi psikologis ini dapat membantu seseorang dari perasaan yang tidak diinginkan seperti merasa bersalah hingga malu.

Advertisement

Menurut teori psikoanalisis, ide tentang defense mechanism berangkat dari interaksi 3 komponen yaitu id, ego, dan super ego. Artinya, mekanisme pertahanan bisa terjadi di luar kendali dan kesadaran sepenuhnya dari individu yang bersangkutan. Bahkan, orang bisa menerapkan defense mechanism tanpa sadar strategi yang digunakannya.

Jenis mekanisme pertahanan manusia

Mekanisme pertahanan atau defense mechanism adalah hal yang normal dan merupakan bagian alami dari perkembangan psikologis seseorang. Ada banyak jenis mekanisme pertahanan yang bisa dilakukan, berikut 10 jenis defense mechanism yang paling sering dilakukan:

1. Penyangkalan (denial)

Bentuk defense mechanism yang paling umum dilakukan adalah menyangkal atau denial terhadap realita atau fakta yang ada. Dengan cara ini, seseorang menutup akses terhadap situasi tertentu sehingga tak akan ada dampak secara emosional. Sederhananya, seseorang memilih untuk menghindari situasi yang menyakitkan.

2. Represi

Tak sedikit pula orang yang memilih menghindari perasaan, kenangan, atau prinsip yang tidak mengenakkan. Harapannya, suatu saat nanti semua hal yang kurang menyenangkan itu bisa terlupakan sepenuhnya. Mekanisme pertahanan represi ini bisa berpengaruh terhadap cara seseorang menjalin hubungan dengan sesama.

3. Proyeksi

Terkadang, perasaan atau asumsi tentang orang lain membuat diri sendiri tak nyaman. Pada defense mechanism proyeksi, pola pikirnya cenderung dibalik sebagai bentuk pembenaran atas asumsi yang ada. Contohnya saat merasa kurang cocok dengan seorang rekan kerja, seseorang akan meyakinkan dirinya bahwa rekan kerjanya itu tidak menyukainya.

4. Pelampiasan (displacement)

Ada kalanya seseorang melakukan defense mechanism berupa pelampiasan atau displacement kepada orang yang dirasa tidak mengancam. Dengan demikian, reaksi tetap bisa tersampaikan namun tidak ada konsekuensi yang mengikutinya.

Contoh mudahnya adalah seseorang yang mengalami masalah di kantor namun justru melampiaskannya pada pasangan atau anak ketika sudah berada di rumah. Padahal, pasangan dan anak bukanlah target utama emosi yang ada saat itu.

5. Regresi

Jenis defense mechanism ini paling mudah terlihat pada anak-anak. Ketika mereka merasakan trauma atau kehilangan, bisa terjadi regresi kembali ke fase sebelumnya seperti kembali mengompol atau menghisap jempol.

Regresi juga bisa terjadi pada orang dewasa. Entah itu pelariannya pada makanan, merawat binatang, menggigit kuku, dan banyak lagi. Tak jarang, seseorang akan memilih menghindari aktivitas normalnya sehari-hari karena merasa kewalahan dengan perasaannya.

6. Rasionalisasi

Terkadang ada orang yang memaparkan fakta versinya sendiri demi menjelaskan mengapa perilakunya cenderung “ajaib”. Bagi orang yang menerapkan defense mechanism jenis ini, mereka akan merasa nyaman dengan pilihannya meskipun sadar bahwa dia sendiri juga melakukan kesalahan.

7. Sublimasi

Jika ada defense mechanism yang dianggap strategi positif, sublimasi adalah salah satunya. Orang yang menerapkan mekanisme ini memilih melampiaskan emosi atau perasaannya pada objek atau aktivitas yang lebih aman.

Contohnya, seorang atasan yang marah terhadap perilaku bawahannya akan memilih melampiaskan emosinya dengan berolahraga. Selain itu, ada juga yang memilih sublimasi ke aktivitas lain yang berhubungan dengan musik atau kesenian.

8. Formasi reaksi

Pengguna defense mechanism jenis ini sebenarnya sadar betul dengan apa yang dirasakannya, namun memilih untuk berperilaku sebaliknya. Contohnya orang yang tengah mengalami frustrasi justru berperilaku dengan sangat positif, begitu pula sebaliknya.

9. Kompartementalisasi

Demi bisa melindungi tiap elemen dalam kehidupan seseorang, ada juga yang memilih melakukan kompartementalisasi. Seperti namanya, ini berarti mengklasifikasikan aspek kehidupan ke dalam sektor-sektor independen.

Contohnya, seseorang memutuskan tidak akan membawa urusan pribadi ke ranah pekerjaan. Begitu pula dengan aspek lainnya. Dengan cara ini, seseorang bisa fokus menjalankan tugasnya tanpa memikirkan tentang masalah di aspek lain.

10. Intelektualisasi

Terkadang ketika sedang berada di fase berusaha, seseorang akan menanggalkan seluruh emosi dan fokus pada fakta kuantitatif. Strategi ini bisa diterapkan kapan saja ketika dirasa perlu. Harapannya, dengan tidak mencampurkan emosi maka pekerjaan akan selesai dengan tuntas dan optimal.

Baca Juga

  • Penyebab dan Faktor Risiko Skizofrenia Paranoid
  • Tips Memilih Sepatu Olahraga yang Tepat
  • Tips Memilih Pembalut yang Aman agar Tidak Iritasi

Catatan dari SehatQ

Memang benar bahwa terkadang defense mechanism berarti menipu diri sendiri dari emosi yang tengah dirasakan. Namun, tidak selamanya demikian. Ada juga bentuk mekanisme pertahanan yang merupakan strategi positif.

Satu yang pasti, defense mechanism sebagian besar terjadi tanpa disadari. Bahkan, seseorang tak tahu bagaimana pikiran atau ego dirinya akan merespons terhadap situasi tertentu.

Selama tidak mengganggu, tak ada yang salah dengan defense mechanism. Namun jika sudha dirasa tidak sehat, sebaiknya temukan orang terpercaya yang dapat membantu mengingatkan ketika mekanisme ini mulai muncul.

Tak kalah penting, pelajari strategi untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Bagaimana pun, hidup tak mungkin berjalan mulus-mulus saja. Mekanisme pertahanan yang matang dapat membantu seseorang mengelola emosinya dengan tepat.

Advertisement

kesehatan mentalhidup sehatpola hidup sehat

Referensi

Terima kasih sudah membaca.

Seberapa bermanfaat informasi ini bagi Anda?

(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

Kumpulan Artikel dan Forum

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved