Mau Program Hamil Sukses? Cerdaslah Kelola Stres

(0)
22 Jul 2020|Aby Rachman
Kunci kesuksesan program hamil adalah mengelola stresMengelola stres juga diperlukan saat menjalankan program hamil
"Udah hamil belum? Kapan punya anak? Kok belum punya anak?"Pertanyaan-pertanyaan ini sering menyengat hati pasangan suami istri yang sudah menikah cukup lama dan belum dikaruniai buah hati. Pertanyaan di atas bisa muncul kapan pun, baik kepada sang istri atau sang suami.Ada yang mampu menanggapinya dengan santai, namun tidak jarang ada yang merasa tersengat dan baper, terlebih jika datangnya dari orangtua, dari mertua atau dari keluarga besar.Keadaan ini dapat memicu ketegangan dalam hubungan sehingga suami dan istri pun tidak lagi rileks menjalani pernikahan. Ditambah lagi kondisi psikologis kedua belah pihak yang sudah berada di titik gamang karena harapan yang tidak kunjung terpenuhi. 

Memilih program hamil yang tepat

Sebagai solusinya, program hamil (promil) menjadi salah satu cara untuk Ayah dan Bunda mencapai cita-citanya memiliki keturunan. Selama menjalani program kehamilan, pasangan suami istri dan dokter di klinik fertilitas dapat bertukar pikiran tentang berbagai bentuk layanan modern yang paling sesuai dengan kebutuhannya.Seiring perjalanan, Ayah dan Bunda akan semakin pintar dan akrab dengan istilah-istilah baru, seperti konsepsi, IUI, laparoskopi, keguguran, ovulasi, analisis sperma, USG, transfer embrio, IVF, ovarium, testis, obsgin, infertilitas, andrologi, pembekuan sel telur, endometriosis, disfungsi ereksi, dan sebagainya.Akan tetapi, dalam menjalani berbagai layanan pengobatan infertilitas, akan ada tantangan-tantangan baru yang harus dihadapi Ayah dan Bunda. Misalnya, keinginan menimang sang buah hati yang seakan terus menyita kehidupan pasutri setiap harinya. Padahal, ketenangan batin dibutuhkan  selama program pengobatan berlangsung.Di samping itu, ada banyak gelembung-gelembung emosi lainnya yang membuat Ayah dan Bunda stres dalam menjalani program hamil, seperti stres karena penyakit yang menyebabkan masalah kesuburan, stres saat terapi, stres dalam hubungan seksual, hingga stres dalam penantian hasil terapi program hamil.Tidak hanya wanita, pria pun sama tertekannya dalam masalah ini. Peranan pasangan untuk saling menguatkan sangat esensial. Oleh karena itu, dibutuhkan kecakapan tiap suami dan istri yang sedang menjalani program untuk mengelola berbagai stres di dalam program hamil.

Konseling psikologis untuk kelola stres selama program hamil

Konseling dengan psikolog
Konseling dengan psikolog dibutuhkan saat menjalani promil
Untuk mengatasi masalah ini, pemeriksaan medis secara teratur harus dijalani oleh pasangan suami istri saat menempuh program kehamilan berbantu di klinik fertilitas. Di sisi lain, konseling psikologis bagi pasangan dengan fokus pada edukasi kehamilan dan penanganan stres, juga tidak boleh dilupakan.Rekomendasi ini datang dari banyak ilmuwan, termasuk Profesor Fusun Terzioglu, Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan sekaligus Ketua Departemen Keperawatan Atilim University, Istanbul, Turki.Terzioglu dan para koleganya mengungkapkan bahwa pasien-pasien yang juga menjalani pendampingan psikologis memiliki tingkat kecemasan dan depresi lebih rendah. Peluang kehamilan mereka pun lebih tinggi daripada pasien yang menempuh pengobatan medis semata.Oleh karena itu, di samping menjalani pemeriksaan dan perawatan medis, tetap terapkan komunikasi terbuka dengan pasangan. Konseling atau pendampingan psikologis juga dapat membantu untuk mengelola stres yang dialami pasangan suami istri. Pikiran yang tenang, dan hubungan suami istri yang baik memiliki peran penting dalam menentukan kesuksesan program kehamilan yang dijalani.Narasumber:
Dandi Birdy S.Psi
Klinik Fertilitas Bocah Indonesia
merencanakan kehamilan
Klink Fertilitas Bocah Indonesia
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait