Masuk Perilaku Seks Risiko Tinggi, Ini Bahaya Anal Seks untuk Kesehatan

Pasangan yang berhubungan anal seks dapat meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual
Anal seks masuk ke dalam kategori perilaku seks dengan risiko tinggi

Mencoba berbagai posisi saat berhubungan seksual, mungkin bisa menjadi cara agar kehidupan seksual Anda dan pasangan, bisa terus terjaga keharmonisannya. Salah satu cara berhubungan seksual yang mungkin sering terdengar adalah anal seks.

Namun, tahukah Anda, apabila tidak dilakukan dengan proteksi dan cara yang baik, anal seks bisa menimbulkan berbagai gangguan kesehatan, termasuk terjadinya penularan HIV. Maka tidak heran, anal seks termasuk dalam salah satu perilaku seks berisiko tinggi.

Ada berbagai risiko kesehatan akibat anal seks, yang tidak muncul apabila hubungan seksual dilakukan secara vaginal maupun oral.

Alasan anal seks masuk sebagai perilaku seks berisiko tinggi

Berhubungan seksual adalah hal yang normal dan sehat. Namun, beberapa cara dalam berhubungan seksual, juga berisiko memudahkan penularan penyakit atau menyebabkan cedera fisik ataupun trauma emosional.

Salah satunya anal seks. Hubungan seksual dengan cara ini, paling berisiko menularkan HIV dan penyakit menular seksual, sebagai dampak dari anatomi dari anus itu sendiri.

Dinding anus, jauh lebih tipis jika dibandingkan dengan dinding vagina. Sehingga, area tersebut dapat lebih mudah rusak. Hal ini membuat orang yang melakukan anal seks, lebih rentan terhadap infeksi.

Selain itu, anus juga tidak bisa mengeluarkan pelumas alami, seperti halnya vagina dan mulut. Kondisi ini membuat berhubungan seks melalui anal akan terasa tidak nyaman, karena gesekan antarkulit yang terjadi. Gesekan tersebut berisiko menimbulkan lecet di kulit.

Bahaya anal seks untuk kesehatan

Sebagai perilaku seks berisiko tinggi, maka dampak anal seks bagi kesehatan juga perlu lebih diperhatikan. Berikut ini bahaya anal seks yang perlu diwaspadai.

1. Tubuh jadi lebih rentan terhadap infeksi bakteri

Tipisnya dinding anus dan tidak adanya pelumas alami di dalamnya, membuat anus rentan terluka, apabila dijadikan sebagai organ seksual. Bagian yang terluka tersebut, bisa menjadi pintu masuk bakteri.

Sementara itu, anus merupakan jalan keluar tinja, yang memang mengandung banyak bakteri. Hal ini membuat, bakteri-bakteri yang terdapat di tinja kembali masuk ke kulit, melalui luka di anus.

Akibatnya, orang yang sering melakukan anal seks, berisiko lebih tinggi terkena infeksi di anus, yang disebut abses anus.

2. Meningkatkan risiko terkena penyakit menular seksual

Peningkatan risiko infeksi bakteri juga akan memicu penularan penyakit menular seksual. Beberapa penyakit menular yang dapat lebih mudah ditularkan melalui anal seks di antaranya:

Anal seks juga merupakan cara berhubungan seks yang paling mungkin menularkan HIV, dibandingkan dengan seks secara vaginal ataupun oral.

Pada pasangan yang melakukan anal seks, orang yang berperan sebagai reseptif anal seks, atau yang menjadikan lubang anusnya sebagai penerima penis dari pasangannya, berisiko 13 kali lebih tinggi terkena infeksi HIV.

3. Memperparah wasir

Bagi orang yang sudah memiliki wasir, melakukan anal seks bisa memperparah kondisi. Masuknya penis, bisa mengiritasi pembuluh darah di dalam dan di luar rektum yang mengalami wasir.

4. Sulit menahan buang air besar

Orang yang melakukan anal seks dalam jangka waktu yang lama, berisiko mengalami komplikasi, berupa kesulitan mengontrol keluarnya tinja dari anus. Sebenarnya, masih banyak perdebatan seputar komplikasi ini.

Ada sekelompok ahli yang kurang setuju. Namun, ada juga penelitian yang menyebutkan bahwa melakukan anal seks bisa meningkatkan risiko seseorang menjadi kesulitan untuk menahan keluarnya tinja.

Meski masih belum bisa dipastikan, namun tidak ada salahnya Anda berjaga-jaga, apabila termasuk sering melakukan anal seks.

5. Menigkatkan risiko fistula

Fistula adalah suatu robekan besar di dinding anus atau rektum, yang berlanjut hingga ke organ lain di tubuh. Fistula merupakan suatu kondisi gawat darurat dan harus segera ditangani dengan pembedahan oleh dokter.

Pasalnya, pada orang yang menderita fistula, kotoran yang seharusnya keluar seluruhnya melalui anus, bisa masuk ke organ-organ lain di tubuh. Karena tersebut mengandung berbagai bakteri, maka kotoran yang masuk ke organ lain dapat menginfeksi organ tersebut, dan menimbulkan kerusakan.

Kondisi ini jarang terjadi. Namun, bukan berarti tidak mungkin. Sehingga, Anda tetap perlu waspada.

Cegah bahaya anal seks dengan cara ini

Agar bisa terhindar dari bahaya anal seks sepenuhnya, cara yang paling efektif adalah tentu dengan tidak melakukan posisi tersebut saat berhubungan seksual.

Namun, ada beberapa cara untuk mengurangi risiko anal seks yang dapat timbul, tanpa harus menghentikan kebiasaan ini sepenuhnya, seperti menggunakan pelumas, kondom, serta rutin mengonsumsi obat tertentu.

1. Gunakan pelumas atau pelicin

Karena anus tidak bisa memproduksi pelicin secara alami saat hubungan seksual dilakukan, maka Anda perlu menggunakan pelicin sebelum melakukan anal seks, untuk mencegah terjadinya gesekan berlebih.

Gunakan pelicin yang berbahan dasar air dan lakukan gerakan secara perlahan, sehingga reseptif anal seks tidak merasa kesakitan. Apabila rasa sakit sudah mulai muncul, hentikan gerakan. Hal ini untuk mencegah terjadinya luka akibat lapisan jaringan di anus yang tipis.

2. Gunakan kondom

Kondom berbahan lateks dinilai efektif untuk mencegah HIV dan penyakit menular seksual lainnya, apabila digunakan secara tepat dari awal hingga akhir hubungan seksual.

Jika saat melakukan hubungan seksual, Anda akan berganti posisi dari vagina ke anus, ganti kondom sebelum melakukan perubahan posisi. Tujuannya, agar bakteri dari kedua organ tersebut tidak saling tertukar dan menginfeksi masing-masing area.

3. Rutin konsumsi obat

Bagi individu yang rentan tertular HIV atau yang sudah terkena HIV, konsumsi obat secara teratur merupakan langkah penting yang harus dilakukan. Berikut ini daftar obat yang perlu dikonsumsi oleh individu pada kedua kelompok tersebut.

• PrEP

Orang yang negatif HIV namun berisiko tinggi tertular, dapat mengonsumsi obat pre-exposure prophylaxis (PrEP) dalam bentuk pil. Obat ini, jika dikonsumsi secara teratur, bisa mengurangi risiko tertular HIV hingga 90%.

• PEP

Sementara itu, orang yang negatif HIV namun telah terpapar oleh virus tersebut melalui hubungan seksual, bisa mengonsumsi obat post-exposure prophylaxis (PEP), untuk mencegah penularan.

PEP baru perlu digunakan dalam keadaan darurat, dan harus sudah dikonsumsi paling lama 72 jam setelah terpapar virus HIV. Berbeda dari PrEP, PEP hanya boleh dikonsumsi satu atau dua kali dalam 28 hari.

• ART

Untuk orang yang memang sudah didiagnosis terinfeksi HIV, konsumsi obat antiretroviral-therapy atau ART seumur hidup, bisa membantu mengurangi jumlah virus HIV di tubuh. Jika jumlah virus berhasil di tekan, maka risiko penularan pada pasangan pun akan berkurang.

Apabila khawatir telah mengalami dampak anal seks seperti di atas, jangan tunda untuk ke dokter, agar bisa mendapatkan perawatan yang sesuai dengan kondisi Anda. Jangan lupa juga untuk senantiasa melakukan langkah-langkah pencegahan secara tepat.

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/324637.phpDiakses pada 15 Juli 2019

Centers for Disease and Control Prevention. https://www.cdc.gov/hiv/risk/analsex.html
Diakses pada 15 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/sex/whats-risky-sex#1
Diakses pada 15 Juli 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed