Kenali Gejala dan Bahaya Mastitis Payudara untuk Kepentingan Si Kecil

Mastitis payudara dapat disembuhkan tanpa mengganggu proses menyusui
Mastitis terjadi saat ASI tersumbat di payudara.

Banyak hal bisa menyebabkan masalah payudara pada ibu menyusui. Salah satunya adalah mastitis payudara yang menyebabkan payudara bengkak sehingga tidak bisa menyusui Si Kecil.

Menurut catatan Ikatan Dokter Anak Indonesia, mastitis umumnya dijumpai pada enam minggu pertama sang ibu menyusui bayinya. Kondisi ini paling sering terjadi di pekan kedua dan ketiga. Bagaimanakah gejala dan cara mengatasi mastitis dengan jitu?

[[artikel-terkait]]

Waspadai gejala mastitis payudara ini

Secara garis besar, mastitis yang terjadi pada ibu menyusui akan menunjukkan sederet gejala di bawah ini:

  • Pembengkakan pada payudara.
  • Payudara yang sensitif atau nyeri ketika disentuh. Payudara juga bisa terasa hangat ketika diraba.
  • Muncul rasa sakit atau sensasi panas seperti terbakar ketika Anda menyusui.
  • Terbentuk benjolan pada payudara akibat jaringan payudara yang menebal.
  • Timbul garis-garis merah pada payudara, dengan bentuk yang mirip dengan sarang laba-laba.
  • Tubuh terasa nyeri atau ngilu.
  • Demam, umumnya suhu lebih dari 38,5 derajat Celsius.
  • Menggigil.

Bila Anda merasakan gejala-gejala di atas, jangan diam saja dan menahan sakit. Bicarakan dengan pasangan agar bisa dikonsultasikan ke dokter.

Mengapa mastitis payudara bisa terjadi?

Pada awalnya, mastitis terjadi karena adanya air susu ibu (ASI) yang tersumbat di payudara. Jika tidak segera dikeluarkan, ASI yang terjebak akan memicu peradangan.

ASI tersebut juga bisa menjadi perantara untuk perkembangbiakan bakteri jahat, seperti Staphylococcus aureus, Escherecia coli dan Streptococcus. Akibatnya, mastitis pun bisa terjadi.

Bila Anda mengalami mastitis, Anda tidak sendiri. Hampir 20 persen ibu menyusui yang juga pernah merasakan kondisi yang sama. Risiko mastitis akan meningkat bila Anda memiliki kondisi-kondisi berikut ini:

  • Pernah mengalami mastitis.
  • Puting yang lecet. Selain nyeri, kondisi ini juga bisa menjadi jalan masuk bagi bakteri menujubagian payudara dengan ASI tersumbat.
  • Bayi yang kesulitan mengisap ASI, misalnya karena kondisi tongue tie.
  • Frenulum yang pendek.
  • Hiperlaktasi atau produksi ASI yang terlalu banyak.
  • Proses menyusui yang belum sepenuhnya selesai, sehingga payudara tidak benar-benar kosong.
  • Payudara yang tertekan, contohnya akibat bra yang terlalu ketat.
  • Sumbatan pada saluran ASI. Kondisi ini bisa akibatgumpalan ASI, jamur, atau sel-sel kulit.
  • Penggunaan krim khusus pada puting, misalnya untuk mencegah lecet.
  • Ibu dan/atau bayi yang sedang sakit.
  • Ibu yang mengalami stres, kelelahan, serta malanutrisi.

Bisakah mastitis payudara disembuhkan?

Beberapa ibu memutuskan untuk berhenti menyusui atau menyapih dini ketika mastitis menyerang. Namun, Anda tidak harus melakukannya karena mastitis bisa disembuhkan tanpa mengganggu proses menyusui. Bagiamanakah caranya?

  • Jangan berhenti menyusui. Pasalnya, ketika ASI sudah mulai keluar dari payudara yang mengalami mastitis, nyeri akan mulai berkurang. Namun bila sakit tidak tertahankan, Anda bisa memindahkan bayi ke payudara yang sehat. Anda juga bisa memerah ASI dengan alat khusus agar lebih mudah.
  • Menerapkan teknik menyusui yang benar, misalnya memastikan proses perlekatan mulut bayi pada payudara Anda sudah benar agar puting tidak lecet.
  • Memastikan ASI benar-benar kosong dari payudara pada tiap proses menyusui. Bila buah hati sudah kenyang dan tidak mau menyusu lagi, Anda bisa mengeluarkan sisa ASI dengan memijat payudara atau menggunakan alat khusus pemerah ASI.
  • Memijat gumpalan ASI yang terbentuk pada payudara. Lakukan dengan lembut agar tidak sakit. Usap dari area yang gumpal ke arah puting susu untuk membantu ASI mengalir.
  • Memastikan tubuh Anda tidak kekurangan cairan.
  • Jangan lupa untuk beristirahat agar tidak stres dan kelelahan.
  • Menempelkan kompres hangat pada payudara yang bengkak. Selain mengurangi nyeri, langkah ini bisa membantu agar ASI keluar lebih lancar.
  • Mengonsumsi obat pereda nyeri dan demam, seperti ibuprofen. Namun selalu konsultasikan dulu dengan dokter mengenai keamanannya.

Dokter umumnya akan menganjurkan pemantauan kondisi selama maksimal 24 jam sambil Anda menerapkan langkah-langkah di atas. Bila tidak membuahkan hasil positif, dokter akan meresepkan antibiotik untuk mengatasi mastitis payudara Anda.

Antibiotik juga bisa langsung diberikan oleh dokter jika Anda menderita mastitis yang parah. Jangan ragu untuk mendiskusikan keamanan penggunaan antibiotik tersebut dengan dokter.

Mengalami mastitis payudara ketika menyusui mungkin akan membuat Anda ingin berhenti menyusui. Tapi Anda sebaiknya tidak menyerah dan berkonsultasi dengan dokter terlebih dulu. Mungkin saja terdapat cara mengobati mastitis yang efektif bagi Anda. Semoga membantu!

Ikatan Dokter Anak Indonesia. http://www.idai.or.id/artikel/klinik/asi/mastitis-pencegahan-dan-penanganan
Diakses pada 15 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/mastitis/symptoms-causes/syc-20374829
Diakses pada 15 Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/health/breast-infection#symptoms
Diakses pada 15 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed