Ilustrasi seorang masokis yang menggunakan topeng lateksnya

Saat film 50 Shades of Gray muncul pada 2015 lalu, banyak orang seperti dikenalkan dengan pada gaya bercinta yang tidak awam, salah satunya adalah gaya yang berbumbu masokis. Apa itu masokis?

Masokis atau masokisme seksual adalah bagian dari parafilia. Parafilia sendiri adalah kelainan seksual yang ditandai dengan adanya fantasi seksual berlebihan, terjadi secara berulang, serta melibatkan penggunaan barang atau aktivitas yang tidak umum.

Seseorang dikatakan masokis ketika ia hanya bisa mencapai puncak kepuasan dengan dipermalukan atau dibuat menderita. Klimaks ini bisa terjadi baik dengan kata-kata (verbal), dipukul, hingga dilecehkan secara fisik.

Apa penyebab seseorang menjadi masokis?

Secara umum, belum ada pembuktian ilmiah yang mampu menjelaskan alasan seseorang memiliki kecenderungan masokis. Namun, beberapa teori mengatakan bahwa orang tertentu dapat menjadi masokis bila:

  • Memiliki kesan pertama yang dalam

Ketika seseorang memiliki fantasi seksual yang terlarang, hasrat itu akan semakin kuat justu jika terus ditahan. Nah, saat ia mencoba mewujudkannya, ternyata fantasi liarnya itu bisa membawa kepuasan seksual sampai klimaks.

Dari kesan pertama yang dalam itulah, bukan tidak mungkin orang tersebut akan ketagihan melakukan masokisme seksual. Ia pun akan mencoba melakukan fantasi seksual terlarang lainnya dengan menaikkan standar kesakitan atau rasa malu dibanding sebelumnya.

  • Pelarian

Teori lainnya menyatakan bahwa pelaku masokis merasa tindakan tersebut sebagai pelarian atas realita yang dihadapinya. Dengan melakukan masokisme seksual, ia merasa terlahir sebagai orang yang baru dan berbeda.

  • Trauma masa lalu

Teori dari bidang psikoanalisis juga menyebut bahwa adanya trauma masa lalu dapat mengakibatkan seseorang menjadi masokis. Trauma yang paling sering mengakibatkan munculnya kelainan seksual ini adalah pelecehan seksual atau trauma masa kecil yang terus terpendam hingga dewasa.

Masokis adalah kelainan seksual yang berbahaya

Film 50 Shades of Gray memunculkan kesan bahwa masokis adalah kelainan seksual yang bisa dibiarkan, bahkan harus dimaklumi. Padahal dari segi kejiwaan, parafilia atau kelainan seksual ini sangat berbahaya dan bisa sampai mengancam nyawa penderitanya maupun pasangan seksualnya.

Masokis bisa mewujudkan fantasi seksualnya dengan melukai diri mereka sendiri, misalnya dengan menyayat kulit tubuh atau membakar diri sendiri. Jika ia melakukan adegan masokisme seksual bersama pasangan, mereka mungkin melakukan hal yang berbahaya, seperti bermain perbudakan, perkosaan, maupun pemukulan seperti kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).

Memang, seringkali pelaku masokis ini sadar bahwa adegan tersebut hanyalah main-main dan akan berakhir ketika terjadi klimaks. Namun, tidak jarang standar berbahaya ini naik ke level yang sangat berbahaya hingga sampai pada tahap asfiksiasi autoerotik.

Asfiksiasi autoerotik (asfiksiofilia) juga dianggap sebagai subtipe kelainan masokisme seksual. Di sini, masokis dengan sengaja membuat diri mereka sendiri tercekik atau kehabisan napas dengan cara-cara tertentu, baik dengan bantuan pasangannya maupun dilakukan sendiri.

Ada penderita masokis yang membungkus kepalanya dengan plastik agar kehabisan oksigen untuk sementara. Ada pula yang melingkarkan tambang, tali, atau bahkan celana dalamnya ke leher, kemudian mengikatnya di tiang agar mereka merasa seperti tercekik.

Hal ini memang membuat pasokan oksigen ke otak berkurang (asfiksia), tapi justru itulah yang membuat para masokis mencapai klimaks seksualnya. Meski demikian, ini seringkali dilakukan berlebihan yang justru membuat mereka mengalami kerusakan otak permanen ataupun meninggal dunia.

Bagaimana cara menyembuhkan masokis?

Mengingat masokis merupakan kelainan mental, maka penanganannya pun tidak sederhana. Sama seperti penderita kelainan mental pada umumnya, penderita masokis harus menjalani serangkaian psikoterapi maupun mengonsumsi obat-obatan tertentu.

  • Psikoterapi

Psikoterapi dilakukan untuk mengetahui penyebab munculnya masokis dalam diri seseorang. Dari sinilah terapis akan menentukan terapi berikutnya yang dibutuhkan oleh penderita kelainan masokisme seksual ini, misalnya terapi kognitif dan terapi kognitif-perilaku.

Terapi kognitif meliputi restrukturisasi distorsi kognitif dan pelatihan empati. Restrukturisasi distorsi kognitif adalah mengoreksi keyakinan pada diri bahwa masokis membahayakan diri sendiri dan bukanlah hal yang keren.

Sementara terapi kognitif-perilaku dilakukan untuk membantu pasien menyalurkan dorongan seksual mereka dengan cara yang lebih sehat. Pasien juga bisa diminta membayangkan hal-hal negatif yang bisa menimpa mereka saat melakukan masokisme seksual untuk mengurangi keinginan mereka mengulangi kesalahan yang sama.

  • Pengobatan

Selain mengikuti terapi, penderita masokis juga akan diminta meminum obat. seperti penekan hormon dan antidepresan. Obat penekan hormon diminum dengan tujuan mengurangi frekuensi ereksi, sedangkan obat antidepresan digunakan untuk mengurangi munculnya dorongan seksual.

Agar berhasil, pasien masokis harus mau menjalani proses pengobatan dalam jangka panjang. Sekali saja tidak mengindahkan anjuran terapis, bukan tidak mungkin kelainan seksual itu akan kembali lagi dan berakibat buruk pada dirinya maupun lingkungan sekitar.

WebMD. https://www.webmd.com/sexual-conditions/guide/paraphilias-overview
Diakses pada 8 Februari 2020

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/intl/conditions/sexual-masochism-disorder
Diakses pada 8 Februari 2020

MSD Manuals. https://www.msdmanuals.com/home/mental-health-disorders/sexuality-and-sexual-disorders/sexual-masochism-disorder
Diakses pada 8 Februari 2020

Artikel Terkait