Marital Rape, Saat Pemerkosaan Terjadi dalam Pernikahan

Marital rape adalah bentuk pemerkosaan dalam pernikahan
Marital rape merupakan bentuk pemerkosaan dalam pernikahan

Beberapa waktu silam, istilah “marital rape” mencuat ke permukaan. Topik ini memang cenderung jarang dibicarakan sebelumnya, karena dianggap sebagai sesuatu yang ‘normal’.

Simak artikel ini untuk memahami marital rape, dan alasan agar tak terjadi di pernikahan Anda.

Apa itu marital rape?

Sesuai dengan makna harfiahnya, marital rape adalah pemerkosaan dalam perkawinan atau pernikahan. Sama seperti kasus pemerkosaan lain, dalam marital rape juga terjadi pemaksaan hubungan seks dengan pasangan dan absennya persetujuan yang setara.

Sebagian orang menertawakan istilah marital rape. Sebab, mereka berpikir tak mungkin ada pemerkosaan dalam pernikahan. Penting untuk diingat bahwa setuju untuk menikah tidak sama dengan setuju untuk mengikuti kemauan semua pasangan. Setiap individu memiliki otoritas untuk dirinya sendiri, bukan orang lain, termasuk pasangannya.

Bentuk-bentuk marital rape

Ada beberapa bentuk marital rape yang patut untuk diketahui dan dihindari. Beberapa di antaranya, yaitu:

1. Hubungan seks yang dipaksakan

Beberapa pasangan berpikir bahwa pernikahan menjadi jalan legal untuk selalu berhubungan seks. Padahal, hal tersebut tentu tidak benar. Penting untuk diingat bahwa hubungan senggama harus mendapatkan kesepakatan dari kedua belah pihak, yakni suami dan istri.

Apabila pasangan memaksa hubungan seks, menyakiti pasangannya, hingga melukai orang yang harusnya ia lindungi, hubungan seks tersebut tentu masuk ke pemerkosaan dalam pernikahan atau marital rape.

2. Hubungan seks namun pasangan merasa terancam

Seks seharusnya memberi kesenangan untuk masing-masing pasangan. Apabila hubungan seks disertai ancaman penyerangan, esensi seks yang bersifat konsensual akan hilang dan menjelma menjadi bentuk pemerkosaan.

3. Hubungan seks dengan manipulasi

Manipulasi dapat berarti tuduhan bahwa pasangannya tidak setia, tidak baik, dan tidak memahami kebutuhan pasangan pemerkosa. Manipulasi tersebut juga termasuk mengancam secara verbal untuk meninggalkan pasangan jika hasrat seksualnya tak dipenuhi.

Apabila manipulasi ini membuat pasangan merasa tak ada pilihan, hubungan seks yang dilakukan tergolong pemerkosaan karena sebenarnya ada pihak yang tidak setuju.

4. Hubungan seks saat pasangan tak sadar

Consent atau persetujuan berarti kedua pihak memiliki kesadaran penuh untuk menyetujui segala aktivitas yang dilakukan, termasuk seks. Apabila pasangan berhubungan seks dengan istri atau suaminya yang tak sadarkan diri (dicekoki obat tidur dan perangsang, alkohol, racun, pingsan, atau tidur), jelas bahwa hubungan seks tersebut merupakan bentuk marital rape.

Bahkan, walau suami atau istri mengatakan “Ya” saat ia tak sepenuhnya sadar, hal itu tetaplah bukan bentuk persetujuan. Sebab, kembali lagi, pasangannya tidak sadar secara penuh.

5. Hubungan seks saat pasangan korban tak ada pilihan

Mengatakan “Ya” karena terpaksa dan seolah ia tak ada pilihan, berbeda dengan memberikan persetujuan untuk sama-sama mau berhubungan seks. Misalnya, korban tak ada pilihan karena mempertahankan pernikahan setelah diancam untuk bercerai, sehingga mengiyakan permintaan pasangannya.

Efek marital rape yang memilukan hati

Berbagai penelitian telah menunjukkan, korban marital rape (biasanya sang istri) mengalami trauma berat setelah diperkosa oleh pasangan sendiri. Sebab, korban telah dilukai oleh pasangan yang seharusnya menjadi tempat bersandar melalui janji pernikahan. Perasaan merasa dikhianati juga melingkupi diri korban.

Trauma marital rape
Korban marital rape dapat mengalami kesedihan yang mendalam karena pengalaman pahit tersebut

Korban marital rape dapat mengalami masalah fisik dan psikologis dalam waktu yang lama. Efek tersebut juga termasuk merasa diri terhina, menyalahkan diri sendiri, dan merasa ketakutan. Belum lagi korban pemerkosaan pernikahan yang mengalami kekerasan fisik.

Ada indikasi marital rape di rumah tangga, apa yang harus dilakukan?

Segera cari bantuan jika Anda dan pasangan tidak bisa menyelesaikan polemik persetujuan berhubungan seks dalam pernikahan. Jika pasangan melakukan kekerasan, atau mengeluarkan ancaman verbal, Anda disarankan untuk tak lagi berpikir panjang mencari bantuan.

Anda bisa membicarakan masalah ini dengan keluarga terdekat terlebih dahulu untuk membantu Anda keluar dari situasi yang menyulitkan ini. Pihak keluarga, baik keluarga sendiri maupun keluarga pasangan, dapat membantu untuk berdiskusi dengan pasangan terkait konflik tersebut. Selain itu Anda juga dapat berkonsultasi dengan konselor pernikahan mengenai masalah ini.

Apabila pasangan bersikukuh dengan sikapnya dan mencari pembenaran dalam melakukan marital rape (atau menolak istilah marital rape), perceraian mungkin menjadi jalan penyelesaian terakhir. Walau berat karena berbagai faktor, perceraian menjadi cara untuk menyelamatkan diri Anda dan mencegah terulangnya pengalaman serupa.

Catatan dari SehatQ

Marital rape sama menyedihkannya dengan pemerkosaan di luar pernikahan. Selalu ingat, setuju untuk menikah bukan berarti selalu setuju untuk berhubungan senggama. Istri juga bukan obyek untuk memuaskan hasrat suami, dan begitu pun sebaliknya. Seks haruslah berlandaskan rasa hormat masing-masing, kesetaraan, kepedulian, dan komunikasi.

Apabila Anda mengalami kekerasan seksual, termasuk marital rape, Anda disarankan untuk segera menghubungi Unit Pengaduan Komnas Perempuan, dengan telepon di 021-3903963, setiap hari Senin-Jumat, pukul 09.00-17.00 WIB

Indiana Coalition Against Sexual Assault. https://www.rainn.org/pdf-files-and-other-documents/Public-Policy/Issues/Marital_Rape.pdf
Diakses pada 9 Januari 2020

Psych Central. https://psychcentral.com/lib/marital-rape
Diakses pada 9 Januari 2020

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed