Terapi Okupasi pada Anak dengan Gangguan Spektrum Autisme

(0)
Ditinjau olehdr. Fridawati
Terapi okupasi pada anak dengan gangguan autismeTerapi okupasi membantu memperbaiki kualitas hidup anak dengan gangguan spektrum autisme
Anak dengan gangguan spektrum autisme umumnya mengalami beberapa kesulitan yang mengganggu kegiatannya sehari-hari dan potensi fungsi okupasinya (pekerjaan). Kesulitan-kesulitan yang dialami oleh anak dengan gangguan spektrum autisme, antara lain kemampuan sosial yang terbatas, ketidakmampuan untuk memahami dan patuh pada peraturan sosial, tidak fleksibel terhadap hal-hal baru, keterikatan pada hal yang dikenal saja, perilaku yang repetitif, hingga hiperaktivitas atau bahkan hipoaktivitas.Hingga saat ini, penyebab dari gangguan spektrum autisme belum diketahui. Bukti ilmiah yang mendukung suatu terapi tertentu yang efektif pun belum tersedia. Namun, anak-anak dengan gangguan spektrum autisme tetap memerlukan bantuan agar dapat beradaptasi dan hidup dengan baik. Pada umumnya, anak dengan gangguan spektrum autisme akan membutuhkan terapi okupasi, terapi fisik, dan terapi wicara.

Apa yang dimaksud dengan terapi okupasi?

Terapi okupasi atau OT, dapat membantu berbagai kalangan usia untuk melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari mereka yang berfokus pada membantu anak-anak yang berkebutuhan khusus untuk meningkatkan keterampilan kognitif, fisik, sensorik, dan motorik mereka dalam meningkatkan rasa percaya diri.Terapi okupasi tidak terbatas hanya untuk orang dewasa saja, tetapi juga bermanfaat bagi anak-anak, yang pekerjaan utamanya adalah bermain dan belajar. Anak dengan gangguan spektrum autisme bisa menjalani terapi okupasi agar mereka dapat bermain, bersekolah, dan melakukan kegiatan sehari-hari secara mandiri.

Manfaat dan tujuan dari terapi okupasi pada anak

Tujuan dari terapi okupasi bagi anak dengan gangguan spektrum autisme adalah untuk memperbaiki kualitas hidupnya, baik di rumah maupun di sekolah. Beberapa kemampuan yang ingin dicapai melalui terapi okupasi, yaitu:
  • Merawat diri sendiri, seperti toilet training, memakai baju, menggosok gigi, menyisir rambut.
  • Kemampuan motorik halus, seperti kemampuan memegang pensil untuk menulis
  • Kemampuan motorik kasar, seperti berjalan, menaiki tangga, atau naik sepeda
  • Kemampuan persepsi, seperti membedakan warna, bentuk, dan ukuran besar-kecil
  • Kepekaan terhadap tubuh sendiri dan hubungan antar anggota tubuh yang satu dengan yang lain. Misalnya, rambut menempel pada kepala atau lengan ada di samping badan bagian atas.
  • Kemampuan visual untuk membaca dan menulis
  • Kemampuan untuk bermain, beradaptasi, menyelesaikan masalah, berkomunikasi
  • Kemampuan bersosialisasi
Walaupun tampak sepele, kemampuan-kemampuan tersebut akan sangat bermanfaat bagi anak dengan gangguan spektrum autisme karena bisa membantu mereka untuk membangun hubungan dengan orang lain, melatih konsentrasi, mengungkapkan perasaan dengan cara yang lebih pantas, bermain dengan teman sebaya, serta mengontrol diri sendiri.[[artikel-terkait]]Secara lebih detail, terapis okupasi dapat membantu anak dengan gangguan spektrum autisme dalam hal-hal berikut:
  • Integrasi sensorik, agar anak dapat bereaksi terhadap cahaya, suara, sentuhan, bau-bauan, dan masukan sensorik lainnya. Hal ini dapat dilakukan dengan berayun, menyikat (menggunakan sikat khusus), atau bermain di kolam bola.
  • Mendorong anak untuk berinteraksi dan berkomunikasi dengan bermain.
  • Membantu anak beradaptasi dengan perubahan lingkungan dan perubahan fase kehidupan. Misalnya, dengan membekali anak bagaimana cara untuk menenangkan diri ketika pindah dari rumah ke sekolah. Bagi pasien yang dewasa, membekali keahlian untuk dapat bekerja atau memasak.
  • Mengembangkan teknik alternatif untuk mengakali disablitas. Misalnya, jika anak kesulitan atau tidak dapat menulis, terapis dapat mencoba mengajarkan anak untuk menggunakan keyboard.
Hal yang harus diingat oleh orangtua adalah gangguan spektrum autisme merupakan spektrum gejala, yang artinya ada anak dengan gangguan yang ringan hingga berat. Kebutuhan masing-masing anak akan berbeda sesuai dengan kondisinya mereka sehingga jenis terapi yang dibutuhkan pun akan berbeda-beda.

Cara terapi okupasi di rumah untuk anak berkebutuhan khusus

 Terapi okupasi di rumah bisa Anda kemas dalam permainan yang menarik dan pasti disukai oleh anak berkebutuhan khusus. Salah satunya, Anda bisa melakukan permainan balancing ring. Berikut cara bermainnya:
  • Ajak anak Anda berdiri di atas papan
  • Ajarkan anak fokus melihat ke depan
  • Mulailah untuk membimbing anak Anda melempar ring ke titik depan yang dituju
Melalui permainan ini, anak Anda akan terlatih daya konsentrasinya, mempertahankan posisi tubuhnya agar tetap seimbang, serta melatih strategi agar ring tersebut masuk ke cone tersebut.
autismeterapi wicara
Kuhaneck HM, Watling R. Occupational therapy: meeting the needs of families of people with autism spectrum disorder. American Journal of Occupational Thrapy. 2015; 69. https://ajot.aota.org/article.aspx?articleid=2436451
Diakses pada Juni 2019
Kids Health. https://kidshealth.org/en/parents/occupational-therapy.html
Diakses pada Juni 2019
Web MD. https://www.webmd.com/brain/autism/benefits-of-occupational-therapy-for-autism#1
Diakses pada Juni 2019
Very Well Health. https://www.verywellhealth.com/occupational-therapy-for-autism-260576
Diakses pada Juni 2019
Healthline. https://www.healthline.com/health/autism
Diakses pada 20 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait