Manfaat Temu Putih, Saudara Kunyit Kuning Dengan Segudang Khasiat

Ada beberapa manfaat temu putih yang dipercaya masyarakat
Penampakan temu putih yang sudah dipotong-potong

Kunyit identik dengan warnanya yang kuning-jingga, namun ada juga kunyit putih atau dikenal dengan nama temu putih. Nah, manfaat temu putih untuk kesehatan ternyata juga tidak kalah dibanding saudaranya tersebut. Apa saja itu?

Temu putih (Curcuma zedoaria) adalah tanaman semusim dengan karakteristik daun berbentuk bundar dan berwarna hijau muda. Rimpang kunyit putih tumbuh pendek, banyak serat, berwarna pucat, serta memiliki bau yang khas dan rasa yang pahit.

Meski tidak sepopuler kunyit kuning, temu putih juga sudah banyak digunakan sebagai obat tradisional di Tiongkok maupun Jepang. Pasalnya, ia memiliki kandungan dengan potensi besar untuk dikembangkan menjadi obat yang digunakan dalam dunia medis modern.

Kandungan dan manfaat temu putih untuk kesehatan

Temu putih merupakan tanaman herbal yang terkenal karena mengandung senyawa kimia bernama kurkuminoid dan flavonoid. Namun, rimpang kunyit putih ini juga mengandung minyak atsiri, astringensia, sulfur, dan sedikit lemak.

Kandungan lain yang memiliki potensi untuk kesehatan manusia adalah alkaloid, phenol, saponin, glikosida, steroid, dan terpenoid. Berdasarkan kandungan-kandungan tersebut, manfaat temu putih untuk kesehatan, antara lain:

  • Meringankan gejala tidak enak badan

Tidak enak badan memang bukan istilah medis, namun masyarakat mengenalinya sebagai kumpulan gejala, seperti demam, batuk, perut kembung, muntah, hingga badan terasa menggigil. Berdasarkan penelitian, semua gejala tersebut dapat menjadi lebih ringan jika Anda mengonsumsi temu putih.

Manfaat temu putih ini juga berkaitan dengan sifatnya yang mirip obat ekspektoran dan penawar rasa sakit. Temu putih juga bisa bersifat diuretik alias memperlancar pembentukan urine sehingga tubuh akan mengeluarkan racun lewat buang air kecil.

  • Menghambat pertumbuhan sel kanker

Manfaat temu putih ini didapat dari kandungan kurkuminoid, flavonoid, bisdemothxycurcumin, demothxycurcumin, dan ethyl pmethoxycinnamate yang dipercaya sebagai zat antikanker. Sebuah penelitian mengungkap kandungan-kandungan tersebut dapat mencegah beberapa jenis kanker, seperti kanker ovarium dan kanker usus besar.

Penelitian lain mengungkap bahwa pemberian ekstrak sederhana temu putih dapat menurunkan keganasan pertumbuhan sel tumor. Meski demikian, klaim ini baru sebatas diuji pada tikus laboratorium sehingga efektivitas penggunaannya pada manusia masih perlu dikaji lebih dalam.

  • Menghambat perkembangan bakteri

Pemberian ekstrak temu putih juga dapat menghambat perkembangan bakteri Streptococcus viridans. Bakteri ini di antaranya dapat menyebabkan sepsis dan pneumonia pada orang neutropenia (memiliki neutrofil yang sangat sedikit dalam darah), hingga mengakibatkan sepsis dan meningitis pada bayi.

Penelitian lain juga mengungkap manfaat temu putih sebagai antimikroba untuk bakteri Gram positif maupun negatif. Bakteri tersebut antara lain Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, dan Staphylococcus aureus.

  • Mengatasi gejala alergi

Temu putih juga diyakini dapat mengatasi alergi karena mampu menghambat pelepasan beta-hexosaminidase yang mengakibatkan munculnya gejala ini. Manfaat temu putih tersebut didapat dari kandungan kurkumin di dalamnya.

  • Penawar racun

Temu putih juga dipercaya bisa menjadi penawar racun ular atau hewan berbisa lain. Pasalnya, kandungan dalam temu putih dapat merusak neurotoksin dan enzim pada racun ular yang bisa melumpuhkan tubuh bila tidak segera diatasi.

Bagaimana cara menggunakan temu putih?

Di Indonesia, temu putih digunakan sebagaimana tanaman rimpang lain, yakni sebagai bumbu aromatik pada makanan. Temu putih dapat dijumpai dalam bumbu kari dan biasanya digunakan untuk menyedapkan makanan olahan dari laut (seafood).

Anda dapat membeli temu putih segar atau dalam bentuk bubuk. Meski demikian, penggunaannya untuk obat sebaiknya dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter mengingat belum banyak penelitian yang mengungkap efek samping temu putih terutama bila dikonsumsi secara rutin atau berlebihan.

Unila. https://juke.kedokteran.unila.ac.id/index.php/majority/article/view/483/484
Diakses pada 17 Maret 2020

Journal of Physics. https://iopscience.iop.org/article/10.1088/1742-6596/1246/1/012040/pdf
Diakses pada 17 Maret 2020

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/10720803
Diakses pada 17 Maret 2020

Research Gate. https://www.researchgate.net/publication/23761287_Curcuma_zedoaria_Rosc_white_turmeric_A_review_of_its_chemical_pharmacological_and_ethnomedicinal_properties
Diakses pada 17 Maret 2020

NDTV Food. https://food.ndtv.com/food-drinks/white-turmeric-how-it-is-different-from-yellow-turmeric-and-its-health-benefits-1792281
Diakses pada 17 Maret 2020

Artikel Terkait