Manfaat Temu Ireng, Jamu Cekok sekaligus Keluarkan Racun

Temu ireng dapat diolah menjadi jamu temu ireng yang bermanfaat
Temu ireng mirip seperti kunyit

Bagi orangtua yang memiliki anak yang susah makan, temu ireng mungkin bukan tanaman yang aneh di telinga. Pasalnya, salah satu manfaat temu ireng yang paling tersohor di Indonesia memang dijadikan jamu cekok untuk meningkatkan nafsu makan anak.

Seperti namanya, temu ireng (Curcuma aeruginosa Roxb.) merupakan tanaman temu-temuan yang memiliki rimpang berwarna gelap atau kehitaman. Ia merupakan tumbuhan semak yang tingginya bisa sampai 2 meter, memiliki batang berwarna hijau dan agak lunak karena merupakan batang semu yang tersusun atas kumpulan pelepah daun.

Temu ireng tumbuh subur di Tanah Air. Di Sumatera, temu ireng dikenal dengan nama temu erang, di Sunda dikenal dengan nama koneng hideung, temu ereng (Madura), temu leteng (Makasar), maupun temu lotong (Bugis).

Kandungan dan manfaat temu ireng untuk kesehatan

Pemanfaatan temu ireng sebagai jamu atau obat tradisional khas Indonesia bukan lagi rahasia. Penelitian telah mengungkap bahwa mereka kaya akan flavonoid yang berfungsi sebagai antioksidan dan antimikroba.

Selain itu, tanaman rimpang yang satu ini juga mengandung minyak atsiri (turmerone dan zingiberene) sebanyak 2 persen. Meski rimpangnya berwarna hitam, temu ireng juga mengandung zat pewarna kuning alias kurkuminoid, yakni kurkumin 62 persen dan desmetoksikurkumin 38 persen.

Temu ireng juga terbukti mengandung alkaloid, saponin, pati, damar atau getah, dan lemak. Berdasarkan kandungan-kandungan tersebut, berikut manfaat temu ireng untuk kesehatan Anda:

  • Detoksifikasi

Manfaat temu ireng yang dipercaya oleh masyarakat Indonesia adalah sebagai detoksifikasi alias mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Hal inilah yang mendasari penggunaan temu hitam sebagai salah satu komposisi dalam jamu pelancar haid maupun pelancar nifas untuk ibu setelah melahirkan.

  • Menyehatkan saluran pencernaan

Sehatnya saluran cerna inilah yang dipercaya dapat membuat nafsu makan anak meningkat. Banyak masyarakat percaya bahwa manfaat temu ireng sangat baik untuk menghilangkan kolik dan menghilangkan cacingan yang memengaruhi kesehatan pencernaan.

  • Antimikroba

Kandungan minyat atsiri pada temu ireng membuat mereka memiliki sifat antimikroba terhadap bakteri gram positif, yakni Staphylococcus aureus dan Escherecia coli. Bakteri S. aureus dapat mengakibatkan penyakit kulit, seperti melepuh dan impetigo, sedangkan E. coli merupakan bakteri penyebab munculnya diare hingga infeksi saluran kemih.

  • Mengobati batuk, asma, dan reumatik

Manfaat temu ireng lainnya adalah mengobati asma, batuk, reumatik, hingga obesitas. Hal ini didapat dari sifat rimpang temu hitam yang bersifat anthelmintik dan depuratif.

  • Menyehatkan kulit

Jamu temu ireng diyakini memiliki khasiat sebagai penghilang gatal-gatal maupun bentol. Manfaat temu ireng lainnya bagi kulit adalah bertindak seperti zat antioksidan yang melindungi kulit dari paparan radikal bebas sehingga kulit Anda lebih kencang dan mencegah penuaan dini.

Selain manfaat-manfaat di atas, temu ireng juga kerap digunakan sebagai obat cacing tradisional. Kurkuminoid pada temu ireng diketahui memiliki efek antitoksin, sedangkan flavonoid berkhasiat sebagai antihipertensi, merangsang pembentukan estrogen, dan antifungal.

Bagaimana cara mengolah temu ireng?

Meski manfaat temu ireng cukup banyak, hingga saat ini pemanfaatan rimpang temu ireng masih sebatas dijadikan bahan jamu saja. Jamu temu ireng biasanya dibuat dengan memarut atau menghancurkan rimpang temu ireng, kemudian air perasannya diambil, dan langsung diminum.

Hanya saja, rasa jamu temu ireng sangat pahit, memiliki aroma yang tajam, dan sensasi dingin sehingga tidak sepopuler jamu dari rimpang lain, seperti kunyit atau jahe. Untuk menyiasatinya, Anda dapat mencampur jamu temu ireng dengan gula jawa atau sirup.

Sejauh ini, manfaat temu ireng baru berdasarkan testimoni dari penggunanya. Butuh penelitian lebih lanjut sebelum manfaat temu ireng betul-betul dapat dimanfaatkan dalam dunia medis.

Unimus. http://digilib.unimus.ac.id/files//disk1/139/jtptunimus-gdl-nurkholiqt-6902-3-babii.pdf
Diakses pada 25 April 2020

Institut Pertanian Bogor. https://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/77752/1/B15fhf.pdf
Diakses pada 25 April 2020

Jurnal Universitas Muhammadiyah Jakarta. https://jurnal.umj.ac.id/index.php/konversi/article/view/1086
Diakses pada 25 April 2020

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/staph-infections/symptoms-causes/syc-20356221
Diakses pada 25 April 2020

Medscape. https://emedicine.medscape.com/article/217485-overview
Diakses pada 25 April 2020

The Ferns. http://tropical.theferns.info/viewtropical.php?id=Curcuma+aeruginosa
Diakses pada 25 April 2020

Artikel Terkait