Manfaat Menulis Buku Harian yang Baik untuk Kesehatan Mental


Siapa sangka manfaat menulis buku harian baik bagi kesehatan mental. Dengan menulis buku harian Anda bisa menjernihkan pikiran, mengurangi penyakit, menjaga fungsi kognitif dan banyak lagi.

(0)
20 Feb 2021|Azelia Trifiana
Menulis buku harian bisa menjadi cara menjaga kesehatan mentalMenulis buku harian bisa menjadi cara menjaga kesehatan mental
Tulisan adalah hal yang tak lekang oleh waktu, termasuk ketika menuangkan apa yang ada dalam pikiran ke buku harian. Istilah masa kini untuk aktivitas ini adalah journaling. Sama saja konsepnya, yaitu membantu menjelajahi pikiran dan perasaan terkait hal yang terjadi di sekitar.Tentunya, resep utama agar bisa mendapatkan manfaat menulis buku harian adalah konsisten. Jika tidak bisa setiap hari pun, tidak mengapa. Namun setidaknya, membiasakan diri menguraikan pikiran ke dalam 

Manfaat menulis buku harian

Apa yang Anda lakukan di waktu senggang? Jika lebih sering berkutat dengan scrolling linimasa media sosial dan waktu terbuang tanpa terasa, ada baiknya menengok kebiasaan baik yang satu ini: menulis jurnal.Bisa dilakukan kapan saja, tidak mengeluarkan biaya, dan sangat bermanfaat, kenapa tidak mencoba melakukannya? Beberapa manfaat menulis buku harian di antaranya:

1. Menjernihkan pikiran

Ketika pikiran tengah kusut dan terasa sangat penuh, coba tuangkan satu persatu di buku harian. Ini merupakan cara untuk mengenal diri sendiri dan apa yang sedang menjadi pikiran utama.Bahkan bonusnya, menulis jurnal dapat memetakan masalah yang dihadapi. Bukan tidak mungkin, solusinya muncul ketika sudah tertuang dalam bentuk kata-kata di atas kertas. Itu bonus.

2. Berdamai dengan rasa trauma

Menulis jurnal tentang hal-hal traumatis dapat membantu melepaskan emosi yang terbelenggu. Ketika menulis, bagian otak yang berperan turut bekerja. Ini membuat pengalamannya menjadi sangat terintegrasi dalam pikiran.Siapa tahu, dengan menuliskan pengalaman buruk di masa lalu dapat membantu pikiran lebih damai. Namun tentunya, apabila trauma sudah terasa sangat signifikan, pertolongan dari pihak profesional bisa jadi pilihan terbaik.

3. Mengurangi gejala penyakit

Terbukti secara ilmiah, menulis jurnal dapat mengurangi gejala-gejala pada kondisi medis seperti:
  • Asma
  • Arthritis
  • Penyakit kronis lainnya
Dalam penelitian yang dipublikasikan di JAMA Network, pasien asma dan arthritis menunjukkan berkurangnya gejala hingga 28%. Ini terjadi setelah mereka rutin menulis jurnal dalam rentang waktu penelitian selama 4 bulan. Di buku harian, pasien diminta menulis pengalaman hidup yang paling memicu stres.

4. Meningkatkan fungsi kognitif

Bukan hanya untuk fisik, manfaat menulis buku harian juga berdampak pada fungsi kognitif. Menuliskan pengalaman yang traumatis atau emosional dapat berdampak baik dalam jangka panjang. Bukan hanya soal fungsi kognitif, namun juga mood dan kondisi psikologis.Dalam penelitian, partisipan diminta menuliskan pengalaman emosional selama 3-5 sesi. Setiap sesinya berlangsung selama 15-20 menit dan dilakukan 4 hari berturut-turut. Tak hanya dilihat hasil saat itu juga, kondisi partisipan juga diperiksa kembali 4 bulan kemudian.

5. Melawan dampak negatif stres

Stres bisa berdampak buruk bagi seorang individu, baik secara fisik maupun psikologis. Ini terbukti dari penelitian yang melibatkan 70 orang dewasa yang mengalami kecemasan berlebih.Mereka diminta bergabung dalam sesi menulis jurnal selama 3 hari setiap minggunya dan berlangsung selama 3 bulan. Pada setiap akhir bulan, dilakukan survei psikologis hingga fisik.Hasilnya, intervensi yang disebut positive affect journaling (PAJ) ini menunjukkan keringanan gejala kecemasan berlebih setelah 1 bulan mengikuti sesi. Tak hanya itu, partisipan juga menjadi lebih tangguh melawan pemicu stres pada bulan-bulan berikutnya.

Tidak selalu indah

perempuan menulis di buku catatan
Meski demikian, menulis buku harian atau journaling tidak selamanya indah. Ada “efek samping” yang membuat aktivitas ini mungkin tidak cocok untuk semua orang. Contohnya bagi mereka yang:
  • Kesulitan dalam belajar
  • Perfeksionis sehingga justru rentan stres melihat tulisan sendiri atau aspek lainnya
  • Tangannya mudah lelah
  • Tidak punya rencana untuk mengatasi stres
Khusus poin terakhir, ingatlah bahwa sesi menulis buku harian idealnya diimbangi dengan rencana dan usulan solusi. Memang benar bahwa menuangkan pikiran atau pemicu stres dalam tulisan adalah hal baik. Namun, jika tidak disertai dengan rencana baik, bisa jadi justru memicu stres lebih dominan.Untuk menyiasatinya, selalu akhiri sesi menulis jurnal dengan beberapa kata tentang hal yang bisa menjadi solusi potensial masalah. Jika ini belum terpikir, bisa juga dengan menuliskan hal yang disyukuri atau harapan lainnya.

Catatan dari SehatQ

Tak kalah penting, komitmen adalah yang terbaik. Inilah yang menjadi bahan bakar agar terus mau menulis meski sedang tidak mood. Alasannya karena Anda tahu bahwa ketika menuangkan pikiran di atas kertas, stres bisa berkurang signifikan.Hanya saja, jangan terlalu kaku dalam menentukan jadwal menulis jurnal. Buat sefleksibel mungkin, namun tetap rutin.Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut tentang cara mengelola stres dengan menulis gratitude journal, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalstres
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/the-benefits-of-journaling-for-stress-management-3144611
Diakses pada 5 Februari 2021
Cambridge. https://www.cambridge.org/core/journals/advances-in-psychiatric-treatment/article/emotional-and-physical-health-benefits-of-expressive-writing/ED2976A61F5DE56B46F07A1CE9EA9F9F
Diakses pada 5 Februari 2021
JMIR. https://mental.jmir.org/2018/4/e11290/
Diakses pada 5 Februari 2021
JAMA Network. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/189437
Diakses pada 5 Februari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait