Memaafkan Orang Lain Saat Idulfitri, Rasakan Manfaat Kesehatan Ini!

Memaafkan orang lain saat idul fitri sangat bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
Memaafkan orang lain saat idul fitri memberikan banyak manfaat untuk kesehatan anda

Salah satu esensi dari Idulfitri selain untuk merayakan selesainya puasa dan berterima kasih kepada Allah karena telah memberikan umatNya kekuatan, adalah untuk memaafkan orang lain.

Memaafkan orang lain bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan. Tak hanya sekedar melepaskan apa yang telah berlalu, memaafkan juga memberikan sesuatu yang positif, rasa empati, dan kasih kepada orang yang telah menyakiti Anda.

[[artikel-terkait]]

Manfaat memaafkan orang lain

Terdapat banyak alasan mengapa Anda harus memaafkan orang lain, khususnya saat Idulfitri. Memaafkan orang lain memberikan manfaat untuk kesehatan mental, seperti mengurangi rasa cemas, depresi, dan risiko mengalami gangguan psikologis lainnya.

Masih dari segi kesehatan mental, memaafkan orang lain dapat membantu untuk membangun rasa keberhargaan diri (self-esteem) yang Anda miliki dengan mengubah persepsi Anda mengenai diri sendiri.

Manfaat memaafkan orang lain tidak terbatas dari segi kesehatan mental, tetapi juga dari kesehatan fisik. Dengan memaafkan, gejala-gejala sakit fisik serta risiko kematian pun berkurang.

Anda juga dapat mengurangi tingkat stres yang merusak kesehatan dengan melepaskan kemarahan yang dirasakan saat Anda memaafkan orang lain. Melepaskan kemarahan dapat membuat Anda merasa lebih rileks, berenergi, dan memiliki sistem imun yang lebih kuat.

Tidak hanya itu, efek berkurangnya rasa marah saat memaafkan orang lain dapat mengurangi risiko Anda terkena penyakit jantung dan tekanan darah tinggi.

Menahan amarah dan dendam tidak akan memberikan efek positif untuk diri sendiri. Anda akan sulit untuk menikmati hari-hari Anda, kehilangan rasa keterikatan dengan orang lain, menjadi depresi atau cemas, dan merasa kehilangan makna atau tujuan hidup.

Kesalahpahaman mengenai memaafkan orang lain

Memaafkan orang lain sering dianggap sama dengan menegakkan keadilan. Padahal keduanya adalah dua hal yang berbeda. Memaafkan tidak selalu berarti menyetarakan kedudukan ataupun berekonsiliasi dengan orang yang telah menyakiti Anda.

Memaafkan berarti Anda berusaha untuk berempati dan mengerti posisi dari orang yang telah menyakiti Anda. Memaafkan juga tidak berarti melupakan kejadian yang telah menyakiti hati Anda. Anda dapat mengingat dan juga memaafkan di waktu yang bersamaan.

Biarpun Anda telah memaafkan orang lain, Anda tetap dapat mengakui bahwa apa yang Anda alami adalah sesuatu yang buruk dan memaafkan orang lain yang telah melakukan hal tersebut kepada Anda bukanlah suatu tanda bahwa Anda adalah orang yang lemah.

Memaafkan orang lain adalah suatu proses yang tidak terjadi secara instan. Anda juga tidak dapat berharap orang yang Anda maafkan menerima tindakan memaafkan yang Anda berikan dan dapat menyadari dan mengakui bahwa dirinya sudah melakukan suatu kesalahan.

Memaafkan dan efeknya terhadap otak

Saat Anda memaafkan orang lain, emosi dan pemikiran yang muncul diatur oleh otak. Daerah otak precuneus, inferior parietal bagian kanan, dan dorsolateral prefrontal cortex teraktivasi saat Anda melakukan kegiatan memaafkan.

Ketiga bagian otak yang teraktivasi memiliki fungsi yang berbeda-beda. Bagian otak precuneus mengatur memori dan integrasi informasi luar.

Sementara bagian otak inferior parietal terlibat dalam proses visual, auditori, dan sensasi tubuh. Bagian otak dorsolateral prefrontal cortex memampukan Anda untuk dapat fokus dan mengingat hal-hal tertentu.

Fungsi-fungsi otak tersebut membantu Anda dalam mengatur emosi dan menyelesaikan amarah serta dendam yang dirasakan mengenai suatu kejadian negatif yang dialami, seperti kejadian saat seseorang telah menyakiti Anda.

Belajar memaafkan orang lain

Apakah memaafkan orang lain adalah sesuatu yang dapat dipelajari? Kabar baiknya, memaafkan memang merupakan suatu kemampuan yang dapat Anda pelajari. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengembangkan rasa empati.

Cara mengembangkan rasa empati misalnya dengan menulis jurnal harian ataupun menulis secara bebas. Saat menulis, posisikan diri sebagai orang yang telah menyakiti Anda. Hal ini dapat membantu untuk memahami orang yang telah menyakiti Anda.

Hal lain yang dapat memicu rasa empati adalah dengan memikirkan alasan apa yang mendorong orang tersebut untuk menyakiti Anda dan apakah Anda juga akan berbuat yang sama dalam situasi yang serupa.

Anda juga dapat merefleksikan saat-saat Anda pernah menyakiti orang lain dan orang-orang yang telah memaafkan perbuatan Anda. Berkonsultasi dengan orang lain, seperti pemimpin agama, psikolog, dan sebagainya dapat membantu proses memaafkan yang sedang dilakukan.

Selalu ingat bahwa memaafkan orang lain bukanlah hal yang cepat dan instan, karenanya jangan menyerah untuk mencoba memaafkan orang yang telah menyakiti Anda.

Manfaatkanlah momen Idulfitri ini untuk mulai belajar memaafkan orang lain, karena memaafkan orang lain sangat bermanfaat bagi diri Anda!

American Psychological Association. https://www.apa.org/monitor/2017/01/ce-corner
Diakses pada 07 Mei 2019

Human Appeal. https://www.humanappeal.org.uk/news/news-2017/what-s-the-difference-between-the-two-eids/
Diakses pada 07 Mei 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/healthy-lifestyle/adult-health/in-depth/forgiveness/art-20047692
Diakses pada 07 Mei 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3856773/
Diakses pada 17 Mei 2019

Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/do-the-right-thing/201403/7-rules-forgiveness
Diakses pada 07 Mei 2019

ScienceDirect. https://www.sciencedirect.com/topics/neuroscience/precuneus
https://www.sciencedirect.com/topics/neuroscience/inferior-parietal-lobule
https://www.sciencedirect.com/topics/neuroscience/dorsolateral-prefrontal-cortex
Diakses pada 17 Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed