Manfaat Gaya Hidup Minimalis untuk Kesehatan Mental

(0)
09 Jun 2020|Azelia Trifiana
Gaya hidup minimalis dapat kurangi risiko depresiGaya hidup minimlais dapat mengurangi risiko depresi
Berbeda dengan metode KonMari dari Marie Kondo yang begitu populer, gaya hidup minimalis mengusung konsep sebaliknya. Dalam gaya hidup minimalis, orang disarankan menjalani hidup dengan sesedikit mungkin materi atau barang-barang. Bahkan, gaya hidup minimalis bisa melawan risiko seseorang jatuh depresi.Konsep ini berangkat dari pemikiran toxic bahwa seberapa banyak pun barang yang dibeli atau dimiliki, tak akan ada rasa cukup. Sebaliknya, ketika mulai menjalani gaya hidup minimalis maka hidup akan terasa lebih bermakna dan tidak terlalu banyak hal tak penting memenuhi pikiran.

Manfaat menjalani gaya hidup minimalis

Setiap orang pada dasarnya bersifat materialistis, punya kecenderungan suka membeli dan memiliki barang tertentu. Ini tidak buruk, bergantung pada motif apa di balik keinginannya. Lebih jauh lagi, gaya hidup minimalis bisa membawa banyak manfaat seperti:
  • Menghemat energi

Ketika seseorang tinggal dengan begitu banyak kepemilikan materi, artinya energi yang dialokasikan untuk merawatnya pun tidak sedikit. Bandingkan saja seorang minimalis yang hanya memiliki total 33 benda di lemari, pasti hidupnya terasa lebih lowong ketimbang yang memiliki ratusan barang.Perlu ada energi khusus untuk menyimpan, menata, mencuci, menyetrika, bahkan ketika mendelegasikan tugas itu pada orang lain seperti ART atau jasa laundry, tetap saja ada sumber daya yang harus dikeluarkan berupa uang.
  • Pikiran lebih fokus

Memiliki terlalu banyak barang di sekitar juga membuat pikiran semakin sibuk. Pada akhirnya, hal ini mengakibatkan seseorang mudah terdistraksi dan sulit fokus. Ibaratnya, pikirannya sulit merasa damai. Rasa damai ini tak hanya bisa dicapai dengan meditasi saja, tapi juga dengan menerapkan gaya hidup minimalis.
  • Mencegah depresi

Meski tak terlihat secara langsung korelasinya, rupanya gaya hidup minimalis bisa mencegah seseorang mengalami depresi. Memiliki terlalu banyak materi hanya akan membuat seseorang kewalahan atau overwhelmed. Ketika seseorang tidak lagi memiliki terlalu banyak barang, pikirannya akan terasa lebih lowong dan tenang. Rasa ini begitu magis.
  • Mengurangi rasa bersalah

Kondisi rumah atau kamar yang berantakan karena terlalu banyak barang akan membuat seseorang merasa bersalah. Rasa ini muncul karena seharusnya yang dilakukan adalah merapikan atau membereskannya, bukan hanya mendiamkannya begitu saja.Perlu diingat, rasa bersalah adalah bentuk emosi negatif. Bahkan, rasa bersalah ini dengan mudah bisa memicu cemas berlebih hingga depresi jika dibiarkan dalam jangka panjang.
  • Alokasi waktu lebih banyak

Bandingkan berapa waktu yang diperlukan untuk mengurus 4 mobil ketimbang hanya 1 mobil. Belum lagi seluruh biaya yang diperlukan untuk mengurus asuransi atau servisnya. Ketika seseorang menjalani gaya hidup minimalis dengan hanya memiliki 1 buah mobil, maka waktu lainnya bisa dialokasikan untuk lebih menikmati hidup.
  • Mudah mengambil keputusan

Orang yang lemarinya begitu penuh dengan pilihan pakaian akan memerlukan waktu lebih lama menentukan apa yang akan dipakai. Jauh berbeda ketimbang orang dengan gaya hidup minimalis yang bisa memilih pakaian dengan cepat karena padu padannya lebih ringkas.Tak hanya soal memilih pakaian saja, hal ini bisa berimbas pada banyak hal lain saat akan mengambil keputusan. Pada akhirnya, gaya hidup minimalis akan meningkatkan rasa bahagia dan mengurangi rasa cemas berlebih.
  • Tak lelah membandingkan dengan orang lain

Menjalani gaya hidup minimalis juga akan membuat seseorang berhenti membandingkan apa yang dimilikinya dengan orang lain. Terlebih dengan seluruh tekanan yang muncul dalam interaksi sosial di media sosial. Pada akhirnya, orang yang menjalani gaya hidup minimalis akan punya kemerdekaan dari rasa tidak memiliki barang karena sudah merasa damai dengan yang dimilikinya.
  • Tidak mengkhawatirkan hal sepele

Ketika menjalani gaya hidup minimalis, orang tak akan lagi mengkhawatirkan hal-hal tak penting di sekitarnya. Ini adalah kemerdekaan yang sangat baik untuk kesehatan mental. Orang akan terlatih untuk fokus pada hal yang benar-benar perlu dipikirkan, tanpa mengurusi hal lain yang tak penting.
  • Sehat secara finansial

Secara finansial, gaya hidup minimalis juga membuat seseorang bisa lebih hemat dan sehat. Tak ada lagi tuntutan untuk berburu barang terbaru dan merogoh kocek demi mendapatkannya, siklus yang terus berulang. Justru, aspek finansial bisa dialokasikan ke hal lebih baik seperti investasi atau dana darurat.Jika ingin memulai gaya hidup minimalis, bisa dilakukan dengan melihat apa saja barang yang tak lagi dipakai dan dirasa tidak penting. Sortir dan buang barang yang tak lagi dipakai agar pikiran terasa lebih tenang dan damai. Pada akhirnya, menjalani gaya hidup minimalis akan berdampak sangat baik bagi kesehatan mental hingga kehidupan sosial seseorang.
kesehatan mentalhidup sehatpola hidup sehat
Well and Wealthy. https://wellandwealthy.org/minimalism-stop-depression-and-anxiety/
diakses 24 Mei 2020
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/us/blog/talking-about-trauma/201902/what-can-minimalism-do-mental-health
diakses 24 Mei 2020
Well Insiders. https://wellinsiders.com/how-minimalism-can-benefit-mental-health/
diakses 24 Mei 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait