Manfaat dan Risiko Konsumsi Tepung Spelt


Tepung spelt telah ada sejak dahulu kala dan kini kembali populer dikenal sebagai pilihan makanan sehat. Spelt flour adalah bulir yang diklaim sangat bernutrisi dan sehat dibandingkan dengan olahan serupa modern.

0,0
10 Oct 2021|Azelia Trifiana
Tepung speltTepung spelt
Jika Anda baru familiar dengan tepung seperti terigu atau tapioka saja, tak ada salahnya berkenalan dengan spelt. Tepung spelt telah ada sejak dahulu kala dan kini kembali populer dikenal sebagai pilihan makanan sehat.Sebab, spelt flour adalah bulir yang diklaim sangat bernutrisi dan sehat dibandingkan dengan olahan serupa modern. Cocok tidaknya Anda mengonsumsi tepung satu ini, simak penjelasannya berikut ini.

Mengenal spelt flour

Spelt adalah jenis bulir atau grain yang bersaudara dekat dengan gandum. Nama ilmiahnya adalah Triticum spelta. Mengingat keduanya berkaitan, tak heran jika spelt juga mengandung nutrisi mirip seperti gandum.Namun, spelt tidak cocok bagi yang harus menghindari gluten karena di dalamnya masih terdapat gluten. Mereka dengan kondisi ini bisa mengonsumsi alternatif tepung bebas gluten lainnya.Lebih jauh lagi, berikut ini kandungan nutrisi dalam secangkir atau 194 gram spelt matang:
  • Kalori: 246
  • Karbohidrat: 51 gram
  • Serat: 7,6 gram
  • Protein: 10,6 gram
  • Lemak: 1,7 gram
  • Mangan: 106% AKG
  • Fosfor: 29% AKG
  • Vitamin B3: 25% AKG
  • Magnesium: 24% AKG
  • Seng: 22% AKG
  • Zat besi: 18% AKG
Selain beberapa kandungan nutrisi di atas, tepung spelt adalah sumber kalsium, selenium, vitamin B1, vitamin B6, dan juga vitamin E. Sama seperti sebagian besar gandum utuh, kandungan karbohidratnya cukup tinggi dan bisa jadi sumber serat yang baik.Dibandingkan dengan gandum, kandungan nutrisinya hampir mirip. Hanya saja, seng dan protein lebih tinggi pada tepung spelt. Setidaknya 80% protein dalam spelt flour merupakan gluten.

Manfaat mengonsumsi spelt

Tentu ada alasan mengapa sebagian orang menganggap spelt flour sebagai makanan yang menyehatkan. Sebab, di dalamnya terdapat sumber karbohidrat, protein, serat, dan nutrisi penting seperti zat besi dan seng.Dengan demikian, konsumsi whole grain semacam ini dapat menurunkan risiko seseorang menderita penyakit seperti stroke, serangan jantung, diabetes tipe 2, dan beberapa jenis kanker.Tak hanya itu, berat badan juga lebih terjaga. Begitu pula dengan kesehatan sistem pencernaan.Dalam sebuah studi tim asal China, sebanyak 247.487 partisipan yang mengonsumsi gandum utuh 14% lebih rendah risiko mengalami stroke. Begitu pula dengan analisis terhadap 14.000 orang yang dilakukan rumah sakit di Chongqing, China ini. Risiko menderita penyakit jantung turun hingga 21%.

Risiko mengonsumsi spelt

Meski populer dianggap sebagai alternatif makanan lebih sehat, spelt flour bisa jadi justru berbahaya bagi sebagian orang. Utamanya, bagi yang memiliki intoleransi terhadap gluten atau menderita sindrom iritasi usus.Berikut penjelasannya:
  • Intoleransi gluten dan alergi gandum

Gluten sebenarnya merupakan sebutan untuk campuran antara protein gliadin dan glutenin. Gluten bisa ditemukan dalam bulir seperti gandum, spelt, barley, dan gandum hitam alias rye.Ketika dikonsumsi oleh orang yang tidak bisa toleransi gluten seperti penderita penyakit celiac, maka spelt bisa menimbulkan masalah. Alasannya, akan ada reaksi autoimun yang membuat peradangan pada usus halus. Kondisi serius ini hanya bisa diatasi dengan diet gluten free jangka panjang.Bahkan apabila dibiarkan, penderita penyakit celiac bisa mengalami kekurangan zat besi, kalsium, folat, dan vitamin B12. Risiko menderita kanker usus, skizofrenia, dan epilepsi juga meningkat.Selain itu, orang dengan alergi terhadap gandum biasanya juga akan bereaksi serupa ketika mengonsumsi spelt. Alergi ini terjadi ketika muncul respons imun terhadap protein yang ada dalam gandum.
  • Sindrom iritasi usus

Sindrom ini ditandai dengan gangguan sistem pencernaan yang menyebabkan sakit perut, kembung, diare, dan juga konstipasi. Pemicu dari sindrom ini salah satunya adalah kelompok karbohidrat rantai pendek FODMAP.Spelt mengandung jumlah FODMAP signifikan. Artinya, sangat mungkin menyebabkan gejala sindrom iritasi usus pada beberapa orang.Selain itu, cara memproses makanan juga bisa berdampak pada jumlah FODMAP di dalamnya. Oleh sebab itu, sebaiknya baca dulu label kemasan atau pilih alternatif dari roti modern yaitu sourdough sehingga lebih bersahabat terhadap pencernaan.
  • Mengganggu pencernaan

Tepung spelt juga mengandung antinutrisi yang dapat mengganggu proses pencernaan dan penyerapan nutrisi lainnya. Spelt mengandung asam fitat, si pencuri mineral yang mengganggu penyerapan seng dan zat besi.Untuk mengurangi kandungan asam fitat secara signifikan, bisa dengan merendamnya semalaman.Selain asam fitat, kelompok protein seperti lektin juga sebaiknya dihindari karena dapat merusak dinding lambung serta menimbulkan rasa tidak nyaman pada pencernaan.Namun kabar baiknya, kandungan lektin dalam spelt biasanya tidak terlalu signifikan, mengingat proses memasak telah menguranginya secara signifikan.

Catatan dari SehatQ

Sebelum mengonsumsi bahan pangan apapun yang diklaim lebih sehat atau bernutrisi, lihat dulu bagaimana kemungkinan tubuh merespons. Jangan hanya latah mengikuti tren, yang justru bisa menimbulkan masalah terutama pada pencernaan.Hal ini juga berlaku pada spelt flour, sahabat dekat gandum yang mengandung gluten cukup tinggi. Artinya, perlu disesuaikan konsumsinya dengan kadar toleransi masing-masing.Namun jika aman, maka tepung spelt adalah alternatif menyehatkan untuk karbohidrat seperti kentang atau beras. Banyak olahan masakan seperti risotto atau kaldu yang menggunakan spelt sebagai bahan utamanya.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar gejala intoleransi gluten, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
makanan sehatmakanan diethidup sehat
Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/what-is-spelt
Diakses pada 27 September 2021
International Journal of Clinical and Experimental Medicine. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC4659141/
Diakses pada 27 September 2021
American Journal of Cardiology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/25727082/
Diakses pada 27 September 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait