Manfaat Cuti, Bisa Segarkan Pikiran Hingga Usir Stres


Setiap tahunnya, karyawan pasti memiliki hak cuti. Manfaat cuti sangat penting dalam meningkatkan produktivitas, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sayangnya, seringkali karyawan terjebak dengan cara yang salah sehingga ketika kembali dari cuti, pikiran masih belum terasa segar.

0,0
24 Oct 2021|Azelia Trifiana
Wanita sedang mendengarkan musikMenikmati cuti sangatlah baik bagi kesehatan mental
Setiap tahunnya, karyawan pasti memiliki hak cuti. Manfaat cuti sangat penting dalam meningkatkan produktivitas, jadi harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sayangnya, seringkali karyawan terjebak dengan cara yang salah sehingga ketika kembali dari cuti, pikiran masih belum terasa segar.
Sebenarnya cuti tidak harus selalu berarti pergi berlibur ke luar kota atau ke luar negeri. Tidak selalu juga harus berisi kemeriahan menghabiskannya beramai-ramai. Menyendiri bahkan bisa jadi cara efektif untuk reset di tengah tumpukan pekerjaan.

Bagaimana cuti bisa meningkatkan produktivitas?

Di kolom pengajuan cuti, biasanya tertera bagian yang harus diisi dengan alasan mengapa cuti. Padahal pada dasarnya, tak perlu ada alasan ketika seorang karyawan mengambil hak cuti tahunannya.Ketika pikiran sudah terasa jenuh dan stres akan pekerjaan, itu juga merupakan sinyal butuh cuti. Tak perlu menunggu momen khusus, tak harus menanti ada keseruan seperti berlibur.Semua alasan untuk cuti adalah valid, selama masih menggunakan haknya sendiri. Berikut ini alasan mengapa cuti bisa meningkatkan produktivitas seorang karyawan:

1. Meredakan stres

Alasan paling utama mengapa cuti sangat penting adalah untuk meredakan stres. Ketika sedang stres, mustahil pekerjaan bisa terselesaikan dengan efektif. Justru, mood bisa tidak keruan dan mudah tersinggung hingga marah. Hal yang hanya akan disesali di kemudian hari.Selain itu, ketika stres seseorang tidak akan bisa bekerja secara produktif. Jangankan menemukan perspektif atau ide baru, menuntaskan pekerjaan yang jadi rutinitas sehari-hari saja bisa berantakan.Inilah bagaimana cuti bisa meningkatkan produktivitas. Anda akan berada di situasi yang benar-benar berbeda dari keseharian saat di kantor atau di rumah saat WFH. Ini bisa meredakan stres sekaligus menyegarkan pikiran.

2. Momen beristirahat

Bukan hanya beristirahat secara fisik dari keharusan berangkat pagi dan pulang malam hari, cuti juga merupakan kesempatan untuk mengistirahatkan mental. Bebaskan pikiran dari segala hiruk pikuk pekerjaan dan lakukan hal lain yang menyenangkan bagi Anda.

3. Pikiran lebih jernih

Burnout bisa terjadi ketika seseorang merasakan stres kronis akibat pekerjaannya. Konsekuensinya, tentu kreativitas menurun, daya ingat tak lagi tajam, hingga muncul masalah-masalah lainnya. Kabar baiknya, cuti bisa membuat pikiran lebih jernih serta kreatif. Bukan hanya soal pekerjaan, juga dalam aspek lainnya.

4. Baik untuk relasi selain pekerjaan

Ketika seseorang tenggelam dalam pekerjaan, terkadang relasi dengan orang lain seperti pasangan, keluarga, atau teman dekat. Mengambil cuti adalah hal paling efektif untuk menebus segala waktu yang mungkin selama ini belum teralokasikan bagi mereka.Lalu, apa dampaknya bagi pekerjaan? Suasana menyenangkan ketika bisa cuti dan menikmati waktu bersama mereka akan membuat mood jadi jauh lebih baik. Dengan demikian, akan makin siap untuk kembali bekerja.

Cuti bukan hal memalukan

Tak perlu sungkan mengambil cuti. Sebab, tak jarang seseorang merasa sungkan ketika harus mengambil cuti dan meninggalkan pekerjaan untuk sementara waktu. Faktanya, ini adalah hak yang tak perlu segan mengambilnya.Hanya saja, sebaiknya informasikan rencana ini beberapa minggu sebelumnya sehingga proses transisi pekerjaan bisa berlangsung lancar. Tentu perkecualian apabila Anda perlu mengambil cuti untuk urusan mendadak.Sudah bukan saatnya lagi merasa sungkan untuk mengambil hak cuti. Baik itu saat Anda bekerja ke kantor atau work from home, cuti adalah waktu untuk mengambil jeda agar pikiran tak jenuh dengan urusan pekerjaan.

Jangan terjebak cuti yang sia-sia

Sayangnya, kadang ada saja karyawan yang terjebak melakukan cuti sia-sia. Bukannya mendapat manfaat cuti, justru hanya terkesan tidak masuk kerja saja, namun pikiran tetap suntuk.Apa penyebabnya?
  • Tetap melihat notifikasi di grup kantor atau email terkait pekerjaan
  • Merasa terbebani karena ada pekerjaan yang belum tuntas
  • Merasa tidak benar-benar cuti karena tak ada rencana berlibur, meski sesungguhnya itu bukan masalah
  • Melewatkan interaksi bersama orang-orang terdekat
  • Terlalu asyik melihat media sosial tanpa tujuan
Perlu digarisbawahi, cuti tidak harus selalu berarti berlibur atau meriah melakukannya bersama keluarga besar atau sahabat terdekat. Berdiam diri di rumah atau menyendiri melakukan sebuah petualangan pun termasuk cuti.Apapun kegiatannya, itu valid. Intinya adalah meninggalkan pekerjaan sehari-hari, termasuk aktivitas yang menyertainya. Mulai dari membalas email pekerjaan, menyetir ke kantor, atau lembur semalaman.Nikmati waktu cuti dengan cara Anda sendiri. Apapun itu, yang mengoptimalkan bagaimana cuti bisa meningkatkan produktivitas. Dengan demikian, Anda siap kembali ke kantor dengan pikiran lebih jernih.Untuk berdiskusi lebih lanjut seputar manfaat cuti terhadap kesehatan mental, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalpola hidup sehat
Verywell Mind. https://www.verywellmind.com/why-you-should-take-a-break-3144576
Diakses pada 12 Oktober 2021
Huffington Post. https://www.huffpost.com/entry/dont-need-explain-reason-taking-day-off_l_5fac30f5c5b635e9de9e4d3a
Diakses pada 12 Oktober 2021
Harvard Business Review. https://hbr.org/2020/06/managers-encourage-your-team-to-take-time-off
Diakses pada 12 Oktober 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait