Manfaat Bunga Kecombrang bagi Kesehatan yang Jarang Diketahui

Di balik kecantikannya bunga kecombrang punya banyak manfaat kesehatan
Bunga kecombrang umumnya berwarna merah dan banyak kelopaknya

Bahan masakan yang kerap digunakan dalam kuliner Indonesia sangat beragam, salah satunya adalah bunga kecombrang atau dikenal juga dengan bunga honje. Selain rasanya yang khas, tanaman ini ternyata juga memiliki kandungan di dalamnya yang bermanfaat untuk kesehatan manusia.

Bunga kecombrang (Etlingera elatior) adalah tanaman tahunan dengan ketinggian 1-3 meter. Tanaman kecombrang akan tumbuh subur di daerah rindang dekat air dengan ketinggian 800 meter di atas permukaan laut.

Bunga kecombrang mudah dikenali karena bentuknya mirip obor dengan berwarna merah menyala sehingga orang Barat menyebutnya sebagai torch ginger atau torch lily. Di Indonesia, bunga ini juga dikenal dengan nama lain, seperti kencong (kincung) di Sumatera Utara, kecombrang di Jawa, honje di Sunda, bongkot di Bali, dan sambuang di Sumatera Barat.

Kandungan dan manfaat bunga kecombrang

Di negara barat, bunga kecombrang biasanya hanya dimanfaatkan sebagai bunga hiasan untuk menambah tegak bunga lain yang ukurannya lebih kecil dan lebih pendek. Namun di Indonesia, pemanfaatkan bunga kecombrang lebih bervariasi, mulai dari dimasak dan dikonsumsi sebagai kuliner khas maupun diolah menjadi produk kecantikan yang berguna bagi kulit.

Berdasarkan penelitian, bunga kecombrang terbukti memiliki fitokimia berupa flavonoid, terpenoid, saponin, tanin, dan alkaloid. Selain itu, bunga kecombrang juga mengandung minyak atsiri atau dikenal juga sebagai minyak eteris, minyak terbang, atau essential oil.

Minyak atsiri pada bunga kecombrang memiliki ciri khas yang mudah menguap pada suhu kamar dan tidak larut dalam air. Minyak atsiri bunga kecombrang juga terasa getir, namun memiliki wangi yang khas sehingga juga dapat mendatangkan khasiat bagi manusia.

Berdasarkan kandungan-kandungan di atas, bunga kecombrang dipercaya memiliki khasiat sebagai berikut:

  • Bersifat antioksidan yang dapat menangkal pengaruh radikal bebas terhadap tubuh
  • Bersifat antibakteri dan antijamur
  • Mengobati sakit pada telinga
  • Mempercepat penyembuhan luka luar
  • Menstabilkan gula darah dan tekanan darah
  • Menangkal nyamuk karena kandungan minyak atsiri di dalamnya
  • Menghilangkan bau badan
  • Memperlancar air susu ibu (ASI).

Meskipun dipercaya memiliki banyak manfaat, khasiat bunga kecombrang belum terbukti secara medis. Anda tetap disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter bila merasakan keluhan seperti yang disebutkan di atas, termasuk bila ingin mengonsumsi bunga kecombrang bersamaan dengan obat yang diresepkan oleh dokter.

Bagaimana cara mengolah bunga kecombrang?

Manfaat bunga kecombrang bisa didapat dengan mudah, dengan ataupun tanpa dimasak terlebih dahulu. Berikut beberapa cara memanfaatkan bunga kecombrang yang dapat Anda jadikan inspirasi:

  • Sebagai campuran bumbu penyedap pada berbagai makanan, baik yang ditumis maupun dijadikan sayuran berkuah.
  • Direbus dan disajikan sebagai sayuran pada lalapan atau pecel.
  • Diiris halus, kemudian dijadikan campuran pada pembuatan megana (sejenis urap berbahan dasar nangka muda).
  • Dijadikan campuran pada laksa atau sayur asam Karo.
  • Menjadi bahan campuran pada perendaman ikan sebelum dimasak untuk menghilangkan bau amisnya.
  • Dijadikan campuran pada sambal untuk hidangan ikan laut.

Selain bagian bunganya, buah pada tanaman kecombrang juga bisa dimanfaatkan untuk tambahan pada masakan karena rasanya yang asam. Buah kecombrang yang sudah matang dan tidak terlalu asam juga biasa diolah kembali menjadi manisan kecombrang.

Bagaimana, tertarik untuk mencoba?

E-Prints Universitas Muhammadiyah Malang. http://eprints.umm.ac.id/46582/3/BAB%20II.pdf
Diakses pada 20 April 2020

CABI. https://www.cabi.org/isc/datasheet/109802
Diakses pada 20 April 2020

Repository Institut Pertanian Bogor. http://repository.ipb.ac.id/jspui/bitstream/123456789/79203/1/2015dha1.pdf
Diakses pada 20 April 2020

Repository Universitas Sumatera Utara. http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/59891/Chapter%20II.pdf?sequence=3&isAllowed=y
Diakses pada 20 April 2020

Artikel Terkait