Manajemen Nyeri, Prosedur Saat Rasa Sakit Tak Tertahankan

Manajemen nyeri akan diberikan ketika seorang pasien merasakan sakit yang signifikan atau berkepanjangan
Bila nyeri terjadi berkepanjangan, sebaiknya Anda berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan manajemen nyeri yang tepat

Rasa nyeri adalah cara tubuh memberi sinyal bahwa ada sesuatu yang tidak beres. Idealnya, rasa nyeri hilang setelah penyakit membaik atau mengonsumsi obat. Terlebih, dengan majunya manajemen nyeri, tak ada lagi alasan untuk siapapun merasakan nyeri berlebihan. 

Manajemen nyeri dilakukan untuk memastikan pasien terhindar dari rasa sakit yang tak dapat ditoleransi akibat penyakit tertentu. Dengan manajemen nyeri yang tepat, proses penyembuhan akan jadi lebih cepat dan pasien pun bisa kembali menjalankan aktivitasnya.

Tujuan manajemen nyeri

Manajemen nyeri akan diberikan ketika seorang pasien merasakan sakit yang signifikan atau berkepanjangan. Tim medis akan melakukan evaluasi, rehabilitasi, dan menolong pasien yang merasakan nyeri. 

Idealnya, manajemen nyeri dilakukan menyesuaikan dengan kondisi pasien. Namun terkadang, pengaplikasiannya terhambat sumber daya yang dimiliki rumah sakit. 

Tujuan adanya manajemen nyeri adalah:

Ketiga tujuan manajemen nyeri ini berjalan berkesinambungan dan saling berkaitan erat. Adanya inovasi dan teknologi di bidang medis juga membantu penerapan manajemen medis yang semakin maju.

Prosedur manajemen nyeri

Berbeda kondisi pasien, berbeda pula manajemen nyeri yang diterapkan. Prosedur sebelum dilakukan manajemen nyeri adalah:

  • Evaluasi
  • Tes diagnostik untuk menentukan penyebab utama nyeri
  • Rujukan untuk operasi (bergantung pada hasil tes dan evaluasi)
  • Intervensi seperti pemberian suntik atau stimulasi saraf tulang belakang
  • Terapi fisik untuk meningkatkan kekuatan tubuh
  • Jika diperlukan, ada psikiater untuk mengatasi masalah kecemasan, depresi, atau keluhan mental lain yang dialami saat menderita nyeri kronis
  • Pengobatan komplementer

Tentu tidak sembarang pasien bisa mendapatkan manajemen nyeri. Selain harus melewati serangkaian prosedur di atas, ada kategori yang bisa diringankan dengan manajemen nyeri seperti:

1. Nyeri akut

Jenis nyeri yang terjadi tiba-tiba dan hanya berlangsung singkat dan sesekali. Biasanya, nyeri akut terjadi karena patah tulang, kecelakaan, terjatuh, luka bakar, persalinan, dan operasi

2. Nyeri kronis

Nyeri kronis terjadi selama lebih dari 6 bulan dan dirasakan hampir setiap hari. Biasanya, nyeri kronis diawali dengan nyeri akut namun tidak hilang meskipun cedera atau penyakit telah sembuh.

Biasanya, nyeri kronis terjadi karena nyeri tulang belakang, kanker, diabetes, sakit kepala, atau masalah pada sirkulasi darah. Nyeri kronis  bisa berpengaruh terhadap kehidupan seseorang karena membuatnya sulit melakukan aktivitas fisik. Itulah mengapa bisa menyebabkan depresi atau isolasi sosial.

3. Nyeri yang terjadi tiba-tiba (breakthrough pain)

Breakthrough pain adalah nyeri dengan rasa ditusuk-tusuk yang terjadi dengan cepat. Biasanya, nyeri ini terjadi pada pasien yang sudah mengonsumsi obat untuk mengatasi nyeri kronis akibat kanker atau arthritis.

Breakthrough pain bisa terjadi saat seseorang melakukan aktivitas sosial, batuk, atau stres. Lokasi terjadinya nyeri kerap terjadi di titik yang sama.

4. Nyeri tulang

Ciri-cirinya adalah rasa nyeri dan ngilu di satu tulang atau lebih dan muncul saat berolahraga atau beristirahat. Pemicunya bisa karena kanker, patah tulang, hingga osteoporosis.

5. Nyeri saraf

Nyeri saraf terjadi karena ada peradangan saraf. Sensasinya seperti ditusuk-tusuk dan terbakar. Bahkan banyak penderitanya yang menjelaskan sensasinya seperti tersetrum dan jadi kian parah di malam hari.

6. Nyeri seperti ditusuk, kram, atau terbakar (phantom pain)

Phantom pain terasa seperti datang dari bagian tubuh yang tidak lagi ada di tempatnya. Biasanya, orang yang menjalani amputasi kerap merasakannya. Phantom pain bisa mereda seiring dengan berjalannya waktu.

7. Nyeri jaringan lunak

Terjadi karena ada peradangan jaringan, otot, atau ligamen. Biasanya berhubungan dengan cedera saat olahraga, nyeri tulang belakang, hingga masalah saraf sciatica.

8. Nyeri alih pada bagian tubuh tertentu 

Nyeri alih terasa seperti datang dari titik tertentu namun sebenarnya merupakan dampak dari cedera atau peradangan di organ lain atau lokasi lain. Contohnya masalah di pankreas akan menyebabkan rasa nyeri di perut bagian atas hingga punggung.

Jenis manajemen nyeri akan disesuaikan dengan rasa nyeri yang dirasakan pasien, dengan jenis penanganan yaitu:

  • Suntikan kortikosteroid epidural
  • Blok saraf simpatik
  • Stimulasi saraf tulang belakang
  • Penghisapan cairan dari sendi
  • Kompres es batu atau kompres hangat 
  • Aktivitas fisik berkala
  • Pendampingan psikologis atau relaksasi (meditasi)

Adakah risikonya?

Pada beberapa pasien, manajemen nyeri juga dapat menimbulkan risiko atau efek samping. Namun hal ini bisa berbeda-beda bergantung pada penyakit yang dialami serta metode manajemen nyeri yang diberikan.

Beberapa risiko yang umum terjadi akibat manajemen nyeri adalah:

  • Konstipasi
  • Mual
  • Merasa mengantuk
  • Disorientasi dan bingung
  • Pernapasan menjadi lebih lambat
  • Mulut terasa kering
  • Gatal-gatal 
  • Detak jantung tidak normal

Setiap efek samping yang dirasakan pasien harus disampaikan kepada dokter, sebagai bahan evaluasi tentang prosedur manajemen nyeri yang diberikan. 

Tak kalah penting, manajemen nyeri bukan hanya berkisar pada rasa sakit fisik saja. Munculnya masalah mental seperti depresi, cemas berlebih, atau kecenderungan menarik diri dari masyarakat juga perlu dikelola dengan baik lewat pendampingan ahli.

Hopkins Medicine. https://www.hopkinsmedicine.org/health/treatment-tests-and-therapies/pain-management
Diakses 15 Maret 2020

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/what-is-pain-management-296604
Diakses 15 Maret 2020

Drugs. https://www.drugs.com/article/pain-management.html
Diakses 15 Maret 2020

Artikel Terkait