Malas Adalah Mitos, Bedah Fakta dan Cara Menghilangkannya

(0)
21 Oct 2020|Azelia Trifiana
Seseorang sedang bermalasan di sofaKonsep malas hanyalah mitos
Berapa kali dalam sehari Anda merasa enggan melakukan apapun karena “malas”? Padahal, malas adalah sebuah mitos. Bentuk kritik ini terus menerus digunakan untuk memberi label pada orang yang tidak berhasil menuntaskan hal tertentu.Sayangnya, label pemalas ini justru mengurangi rasa bahagia serta menurunkan harga diri seseorang. Tak jarang, orang yang dianggap memiliki karakter malas justru menutup diri dari peluang mengembangkan diri.

Fakta dan mitos seputar malas

Orang kerap menghubungkan kemalasan dengan karakteristik seseorang. Padahal, ada banyak mitos yang perlu diluruskan seputar rasa malas, seperti:

1. Mitos malas adalah karakteristik individu

Definisi malas adalah rasa tidak antusias atau enggan mengeluarkan usaha atau energi. Faktanya, tidak ada seorang pun yang benar-benar tidak antusias pada segala hal. Bahkan ketika seseorang menghindari melakukan sesuatu pun, itu sudah merupakan bentuk usaha.

2. Mitos orang malas tidak bisa berubah

Faktanya, malas adalah konsep yang relatif. Mungkin ada orang yang enggan melakukan aktivitas tertentu seperti berolahraga hingga disebut malas oleh orang lain.Padahal, bisa jadi itu hanya masalah prioritas. Ada orang yang menganggap olahraga sebagai prioritas, ada pula yang memiliki prioritas lain dengan tingkat urgensi lebih tinggi. Skala prioritas setiap individu tidak mungkin sama, sehingga menyebut seseorang malas pun tidak pada tempatnya.

3. Mitos malas sebagai hal yang mutlak

Salah ketika ada anggapan bahwa kemalasan seseorang adalah hal yang mutlak. Seringkali, seseorang memberikan label malas kepada orang lain karena kesalahpahaman saat mengobrol. Penyebabnya bisa karena kurang fokus atau berlangsung sepihak.Bisa saja ketika sedang membicarakan sesuatu, lawan bicara sedang kewalahan atau memikirkan hal lain. Dengan demikian, mereka tidak bisa menyusun skala prioritas apa yang harus dilakukan pertama kali. Hal ini dapat membuat seseorang diberi label malas.

4. Mitos rasa malas berarti enggan bergerak

Mitos lain terkait rasa malas adalah ketika menganggap seseorang enggan bergerak meski untuk melakukan hal sederhana. Contohnya menyebut seseorang malas karena tidak juga membersihkan lemari bukunya setelah sekian lama.Padahal, bisa jadi akar masalahnya bukanlah di situ. Ada kemungkinan orang itu merasa sangat jenuh dengan kondisi sekitarnya – termasuk adanya lemari berdebu – sehingga tanpa sadar mulai menghindarinya. Secara mental, hal ini sangat melelahkan.

5. Mitos rasa malas tidak berhubungan dengan kesehatan

Kurang tepat rasanya jika menuding seseorang atau bahkan diri sendiri merasa malas hanya karena enggan bergerak. Ada faktor yang juga harus dipertimbangkan yaitu kesehatan atau kebugaran. Jika kondisi fisik tidak optimal, maka bergerak pun menjadi sulit.Sebut saja ketika seseorang tidak makan teratur dan kualitas tidurnya buruk, maka melakukan hal sederhana akan terasa begitu menantang. Setiap orang bisa memiliki kebugaran berbeda-beda sehingga saat mereka tampak tidak produktif, tidak bisa serta merta disebut malas.

Cara menghilangkan rasa “malas”

Meski malas adalah konsep relatif serta lebih banyak mitos ketimbang faktanya, ada beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menghilangkan hal ini. Apa saja?
  • Buang ketakutan akan kegagalan

Ada orang yang enggan melakukan sesuatu karena dibayangi ketakutan akan kegagalan. Akibatnya, mereka cenderung menunda melakukannya. Buang jauh-jauh rasa takut akan gagal. Tak lupa, kelola target agar bisa tercapai secara realistis. Hal ini dapat membantu menciptakan motivasi untuk memulai sesuatu yang semula dihindari.
  • Pelajari caranya

Rasa enggan melakukan sesuatu terkadang dipicu ketidaktahuan bagaimana cara melakukannya. Bandingkan dengan bagaimana seseorang tak akan ragu melakukan sesuatu jika sudah memahami caranya. Jadi, mulailah dengan belajar bagaimana cara melakukannya.
  • Relaksasi

Terkadang rasa “malas” muncul karena kewalahan dengan seluruh kesibukan dan rutinitas. Belum lagi jika ada masalah pemicu stres yang membuat pikiran sukar fokus. Jika ini yang terjadi, cobalah lakukan relaksasi sesuai preferensi masing-masing. Dengan demikian, pikiran yang semula kusut akan terurai dan bisa menyusun kembali skala prioritas.
  • Evaluasi lingkungan sekitar

Terkadang, label sebagai orang pemalas yang diberikan orang sekitar justru bersifat toxic. Seseorang bisa saja perlahan membenarkan label pemalas itu dan enggan melakukan aktivitas yang semula masih diupayakan dengan antusias.Jika ini yang terjadi, coba evaluasi lingkungan sekitar. Apakah teman, saudara, hingga rekan kerja cenderung memberikan energi negatif? Jika iya, saatnya melakukan kurasi mana yang perlu didengar dan tidak. Apabila bisa dijauhi, coba lakukan agar tak lagi terpengaruh label negatif dari orang lain.
  • Digital detox

Melakukan digital detox bisa menjadi cara untuk mengusir rasa enggan melakukan sesuatu. Utamanya jika apa yang dilihat di media sosial membuat seseorang merasa serba tak puas dengan apa yang dimiliki.Hal ini dapat membuat orang tak bersyukur serta kehilangan motivasi beraktivitas. Terkadang, media sosial dengan segala konten di dalamnya bisa menjadi sumber distraksi yang menyedot sebagian besar waktu.

Orang lain maupun diri sendiri tak punya hak memberikan label pemalas, sebuah konsep relatif yang sebenarnya belum tentu ada. Malas adalah gejala, bukan karakteristik seorang individu.Jika Anda ingin tahu lebih banyak tentang mitos seputar rasa malas, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.
gangguan mentalkesehatan mentalpola hidup sehat
Psychology Today. https://www.psychologytoday.com/sg/blog/contemporary-psychoanalysis-in-action/201510/7-reasons-why-laziness-is-myth
Diakses pada 4 Oktober 2020
Philosophikal. https://philosophikal.com/why-laziness-is-a-myth/#
https://www.healthline.com/health/how-to-stop-being-lazy
Healthline. https://www.healthline.com/health/how-to-stop-being-lazy
https://www.healthline.com/health/how-to-stop-being-lazy
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait