Maladaptive Daydreaming, Ketika Seseorang Kecanduan Melamun

Maladaptive daydreaming membuat penderitanya dapat melamun berjam-jam
Terlalu lama melamun bisa menandakan adanya masalah mental

Semua orang memiliki mimpi, mulai dari memiliki harta yang berlimpah hingga hal yang terlihat mustahil dilakukan, seperti punya sayap dan bisa terbang. Ketika mimpi tersebut sampai menyita sebagian besar waktu Anda di dunia nyata, maka Anda dikatakan menderita maladaptive daydreaming.

Maladaptive daydreaming adalah kondisi seseorang yang terjebak dalam lamunan selama berjam-jam sehingga ia mengabaikan hubungan dan tanggung jawabnya di kehidupan nyata. Kondisi mental seperti ini dapat mengakibatkan penderitanya mengalami tekanan klinis dan gangguan fungsi kesehatan.

Maladaptive daydreaming memang tidak termasuk dalam kategori gangguan mental karena tidak terdapat dalam buku Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-V). Namun, banyak ahli kejiwaan yang berpendapat penderita maladaptive daydreaming tetap memerlukan perawatan tertentu untuk mengurangi gejala yang ia alami.

Gejala maladaptive daydreaming

Seorang penderita maladaptive daydreaming mengungkapkan bahwa khayalan yang ia alami memiliki ikatan kuat dengan batinnya. Ia bahkan bisa merasa sedih, senang, hingga tertawa dan menangis ketika tenggelam dalam khayalan tersebut.

Gangguan psikis seperti ini dapat mengakibatkan penderitanya melamun selama berjam-jam sendirian. Tetapi, ia tetap berusaha untuk mengendalikan hasratnya tenggelam dalam mimpi tersebut jika sedang berada di tengah-tengah masyarakat.

Mengidentifikasi gejala maladaptive daydreaming memang tidak mudah, apalagi jika penderitanya tidak menyadari bahwa dirinya memiliki gangguan ini. Meski demikian, beberapa gejala umum yang dialami oleh penderita maladaptive daydreaming adalah:

  • Khayalan yang sangat jelas dan mendalam
  • Khayalan yang berlangsung sangat lama dan sulit dihindari
  • Ketidakmampuan untuk melakukan tugas sehari-hari
  • Melamun akibat dipicu oleh peristiwa atau rangsangan eksternal, seperti menonton film atau mendengarkan musik
  • Gangguan tidur dan insomnia
  • Gerakan yang berulang dan tidak disadari ketika melamun, seperti bergoyang-goyang atau kedutan.

Kadang kala, penderita maladaptive daydreaming juga mengalami gejala seperti fokus yang pendek. Namun, hal ini juga kerap terjadi pada penderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD).

Maladaptive daydreaming kerap disamakan dengan skizofrenia yang memang merupakan salah satu tipe psikosis. Namun, keduanya memiliki perbedaan mendasar pada tingkat kesadaran penderitanya.

Penderita maladaptive daydreaming sadar bahwa khayalannya tidak nyata sehingga dapat membedakan fakta dan mimpi. Sebaliknya, penderita skizofrenia tidak bisa membedakan realita dengan fantasi.

Perlukah penderita maladaptive daydreaming menjalani pengobatan?

Jika Anda merasa mengalami maladaptive daydreaming, tidak ada salahnya menemui ahli kejiwaan. Ia biasanya akan menentukan derajat keparahan kondisi Anda berdasarkan lima faktor, yaitu:

  • Isi dan kualitas khayalan Anda
  • Kemampuan seseorang untuk mengontrol khayalan dan paksaan untuk melamun
  • Tingkat keparahan gangguan yang disebabkan oleh lamunan tersebut
  • Pandangan seseorang tentang kegiatan melamun itu
  • Kemampuan seseorang untuk terus beraktivitas secara normal meski sering mengalami maladaptive daydreaming.

Tidak ada standar pengobatan khusus untuk penderita maladaptive daydreaming. Meski demikian, ada beberapa hal yang dapat disarankan oleh dokter untuk meredakan gejala Anda, yaitu:

  • Mengurangi rasa lelah

Anda wajib memastikan untuk memiliki waktu tidur malam yang berkualitas. Hal ini dapat dilakukan dengan menambah waktu tidur malam atau bahkan mengonsumsi kafein di siang hari.

  • Mencatat pola

Anda bisa menuliskan di buku harian mengenai penyebab maladaptive daydreaming yang Anda rasakan, misalnya setelah menonton film drama. Hal ini dilakukan dengan harapan dapat menghindarinya di waktu mendatang.

  • Memberi tahu orang lain

Jika Anda sudah mengetahui gejala dan pola kemunculan maladaptive daydreaming ini, tidak ada salahnya memberi tahu orang lain agar saat tanda-tanda itu terlihat, ia bisa ‘membangunkan’ Anda dari khayalan tersebut.

  • Terapi

Jangan segan untuk mengunjungi terapis jika Anda merasa maladaptive daydreaming sudah sangat mengganggu. Teknik terapi seperti cognitive behaviour therapy (CBT) disebut-sebut mampu mengendalikan keinginan seseorang untuk terjebak di dunia khayalan.

Dokter beranggapan penderita maladaptive daydreaming tidak perlu mengonsumsi obat apa pun. Meski demikian, beberapa orang yang mengalami gejala ini mengaku terbantu dengan konsumsi obat yang mengandung fluvoxamine.

Meskipun demikian, klaim ini baru berdasarkan testimoni individual. Pemakaian obat apa pun, terutama yang memiliki efek pada psikis Anda sebaiknya hanya dilakukan dengan rekomendasi dan pengawasan dokter.

Frontiers. https://www.frontiersin.org/articles/10.3389/fpsyt.2018.00194/full
Diakses pada 22 Maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/mental-health/maladaptive-daydreaming
Diakses pada 22 Maret 2020

British Psychological Society. https://digest.bps.org.uk/2018/06/25/people-with-maladaptive-daydreaming-spend-an-average-of-four-hours-a-day-lost-in-their-imagination/
Diakses pada 22 Maret 2020

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/319400
Diakses pada 22 Maret 2020

Artikel Terkait