Makrosomia adalah Bayi Lahir Terlalu Besar, Bukannya Gemas justru Penyakit

Seorang bayi baru lahir dikatakan makrosomia apabila beratnya lebih dari 4 kg
Makrosomia adalah kondisi bayi lahir dengan berat badan berlebih

Mungkin kita terbiasa melihat bayi gemuk sebagai anak yang menggemaskan. Namun, tahukah Anda jika bayi yang ukuran tubuhnya terlalu besar saat di dalam kandungan, justru bisa berbahaya? Kondisi ini, disebut sebagai makrosomia.

Bayi yang lahir dengan berat badan 4 kg atau lebih sudah bisa dikatakan sebagai bayi makrosomia. Lalu apabila bayi mencapai berat badan 4,5 kg saat di dalam kandungan atau dilahirkan, maka risiko terjadinya berbagai komplikasi akan meningkat drastis.

Makrosomia bisa menimbulkan kesulitan saat persalinan yang membahayakan ibu. Setelah lahirpun, bayi besar ini juga berisiko lebih tinggi terkena berbagai gangguan kesehatan.

Penyebab makrosomia yang perlu diwaspadai

Makrosomia pada janin bisa disebabkan oleh beberapa hal, seperti faktor genetik, gangguan kesehatan saat hamil seperti diabetes atau obesitas, dan gangguan pertumbuhan janin. Namun pada beberapa kasus, ada juga kondisi makrosomia yang tidak jelas penyebabnya.

Berikut ini, adalah beberapa faktor risiko atau hal-hal yang membuat janin berisiko lebih tinggi mengalami makrosomia.

Mengenal tanda dan gejala makrosomia

Sebenarnya, agak sedikit sulit untuk mendeteksi makrosomia saat bayi masih di dalam kandungan. Meski begitu, ada dua tanda yang biasanya dijadikan acuan dokter untuk melihat pertumbuhan janin yang sedang terjadi, masih normal atau sudah berlebih, yaitu:

1. Tinggi fundus uteri sudah melebihi normal

Saat Anda datang ke dokter untuk kontrol kondisi kehamilan, dokter biasanya akan memeriksa tinggi fundus uteri. Tinggi fundus uteri adalah jarak antara puncak uterus atau rahim hingga tulang pubis. Jika tingginya melebihi normal, maka ada kemungkinan bahwa bayi mengalami makrosomia.

2. Cairan ketuban berlebihan

Cairan ketuban atau cairan amniotik yang jumlahnya berlebih disebut sebagai polihidramnion. Jumlah cairan ketuban bisa dijadikan patokan untuk besarnya bayi karena cairan ini bisa menggambarkan jumlah urine yang keluar dari janin. Semakin banyak urine yang keluar, maka semakin besar pula ukuran janin.

Makrosomia bisa sebabkan berbagai komplikasi

Kondisi makrosomia berisiko menimbulkan komplikasi baik bagi ibu maupun bayi. Berikut ini beberapa gangguan yang bisa muncul jika ukuran janin terlalu besar untuk usianya.

• Komplikasi untuk ibu

Komplikasi yang mungkin terjadi pada ibu akibat makrosomia antara lain:

  • Kesulitan saat proses persalinan

Bayi yang berukuran besar akan lebih sulit untuk keluar secara normal melalui vagina. Ia berisiko tersangkut di jalur lahir dan menyebabkan cedera pada ibu.

Saat hal ini terjadi, dokter biasanya akan menyarankan persalinan dengan bantuan vakum atau dialihkan menjadi prosedur operasi Caesar.

  • Sobeknya jaringan vagina

Melahirkan bayi makrosomia bisa membuat jaringan vagina sobek. Selain itu, kondisi ini juga berisiko menyebabkan terjadinya robekan pada otot yang terletak antara anus dan vagina (perineum).

  • Perdarahan setelah persalinan

Kerusakan yang terjadi di jaringan vagina dan otot di sekitarnya, membuat otot-otot rahim akan sulit untuk berkontraksi atau kembali menutup setelah persalinan selesai. Akibatnya, akan ada kemungkinan perdarahan hebat yang terjadi pada ibu.

  • Ruptur rahim

Bagi ibu yang sebelumnya pernah melalui prosedur operasi Caesar atau operasi lain yang melibatkan rahim, maka risiko terjadinya ruptur rahim akan meningkat. Kondisi ini jarang terjadi. Namun jika sampai terjadi, akan menyebabkan sobeknya rahim sepanjang alur luka jahit akibat operasi Caesar sebelumnya.

• Komplikasi untuk bayi

Sementara itu untuk bayi, beberapa hal di bawah ini bisa terjadi akibat makrosomia.

  • Distosia bahu

Distosia bahu adalah kondisi yang terjadi saat bahu bayi tersangkut di jalur lahir, meski kepalanya telah berhasil keluar. Kondisi ini bisa menyebabkan bayi mengalami patah tulang selangka, patah tulang lengan, dan cedera saraf.

Pada beberapa kasus, kondisi ini bisa menyebabkan kerusakan otak atau bahkan kematian bayi. Sementara itu pada ibu, distosia bahu bisa menyebabkan perdarahan hebat, ruptur rahim, dan kerusakan jaringan vagina.

  • Kadar gula darah lebih rendah dari normal

Bayi yang lahir dengan makrosomia, berisiko lebih tinggi memiliki kadar gula darah yang rendah. Bayi yang gula darahnya rendah, harus dirawat khusus di rumah sakit hingga kadar gula darahnya kembali normal dan stabil.

  • Obesitas saat masa anak-anak

Bayi yang lahir dengan berat badan berlebih, juga berisiko lebih tinggi mengalami obesitas di kemudian hari.

  • Sindrom metabolik

Sindrom metabolik adalah kondisi gabungan antara tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, dan tumpukan lemak berlebih di perut serta kadar kolesterol tinggi yang terjadi secara bersamaan. Bayi makrosomia, berisiko lebih tinggi mengalami kondisi ini sejak usia anak-anak.

Cara mencegah terjadinya makrosomia

Makrosmia adalah kondisi yang sulit diprediksi. Sebab, diagnosis baru bisa diberikan saat bayi lahir dan ditimbang berat badannya. Sehingga, penting bagi ibu untuk melakukan hal-hal yang bisa mencegah terjadinya kondisi ini, seperti:

Kondisi bayi yang lahir terlalu besar perlu lebih diperhatikan dan tidak dipandang enteng. Sebab melihat komplikasi yang bisa terjadi, baik ibu maupun bayi bisa sama-sama dirugikan.

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/fetal-macrosomia/diagnosis-treatment/drc-20372584
Diakses pada 18 maret 2020

Healthline. https://www.healthline.com/health/macrosomia
Diakses pada 18 Maret 2020

Cleveland Clinic. https://my.clevelandclinic.org/health/diseases/17795-fetal-macrosomia/prevention
Diakses pada 18 Maret 2020

Artikel Terkait