Benarkah Ada Makanan yang Bisa Memicu Kanker Paru-paru?

Pizza, burger, french fries, merupakan makanan yang mengandung lemak jenuh
Junk food merupakan makanan yang mengandung lemak jenuh dan dapat memicu terjadinya kanker

Penyebab kanker paru paru sering dikaitkan dengan perilaku merokok ataupun menghirup zat-zat yang berbahaya dan menimbulkan kanker paru paru. Namun, faktanya makanan juga berdampak terhadap kemunculan kanker paru paru.

Beberapa jenis makanan mampu meningkatkan risiko terserang kanker paru paru. Ditambah lagi jenis-jenis makanan ini mungkin sering dikonsumsi dan dapat ditemukan dengan mudah di sekitar Anda.

Apa saja jenis makanan yang mengakibatkan kanker paru paru?

Makanan berperan penting untuk keberlangsungan hidup dan menjaga kesehatan tubuh, karenanya seleksi jenis makanan sangat perlu dilakukan. Anda harus mulai mengurangi atau menghindari jenis-jenis makanan pemicu kanker di bawah ini:

  • Makanan dengan kadar glikemik yang tinggi

Makanan dengan kadar glikemik yang tinggi merujuk pada jenis karbohidrat yang dapat menaikkan kadar gula darah dengan cepat. Peningkatan kadar gula darah dapat memicu perubahan hormon yang mengakibatkan peradangan kronis.

Peradangan kronis inilah yang mampu meningkatkan risiko kanker. Penelitian menunjukkan bahwa penerapan pola makan yang didominasi dengan makanan yang memiliki kadar glikemik yang tinggi lebih rentan mengalami kanker paru paru.

Makanan dengan kadar glikemik yang tinggi memiliki angka glikemik yang lebih dari 70 serta merupakan makanan yang memiliki karbohidrat sederhana, seperti roti putih, corn flakes, nasi putih, kentang, dan sebagainya.

Oleh karenanya, pilihlah jenis makanan yang rendah kadar glikemiknya atau yang memiliki karbohidrat kompleks. Beberapa alternatif makanan dengan kadar glikemik yang rendah adalah roti dengan biji-bijian utuh, sayur-mayur, buah-buahan, dan sebagainya.

  • Suplemen beta-karoten

Suplemen beta-karoten yang seharusnya menambah asupan beta-karoten dalam tubuh malah bisa menjadi bumerang bagi Anda! 

Sebuah riset mendapati bahwa konsumsi suplemen beta-karoten dalam jangka waktu yang panjang bisa meningkatkan risiko terkena kanker paru-paru, khususnya bagi orang-orang yang merokok.

Bahkan, penelitian lain menemukan bahwa konsumsi suplemen beta-karoten bukan hanya tidak berefek dalam menghambat perkembangan kanker paru paru, tetapi juga menaikkan risiko kematian karena kanker paru paru.

Oleh karenanya, sangat disarankan untuk mengonsumsi beta-karoten dari bahan-bahan alami yang sudah ada, seperti wortel, bayam, labu, dan sebagainya dalam kadar yang secukupnya tanpa harus ditambah dengan suplemen beta-karoten.

Meskipun demikian, bila Anda memiliki kondisi medis tertentu yang membutuhkan tambahan asupan suplemen beta-karoten, maka sebaiknya diskusikanlah dengan dokter terlebih dahulu.

  • Lemak jenuh

Lemak jenuh atau lemak tersaturasi adalah salah satu jenis lemak yang bisa meningkatkan kolesterol dalam tubuh dan menaikkan risiko stroke dan penyakit jantung. Namun, tidak hanya, lemak jenuh ternyata dapat menambah risiko terkena kanker paru paru.

Dalam Journal of Clinical Oncology, konsumsi lemak jenuh bisa meningkatkan kemungkinan terserang kanker paru paru pada perokok ataupun orang yang sudah berhenti merokok.

Makanan dengan lemak jenuh bisa ditemukan dalam daging kambing, lemak sapi, daging babi, daging unggas dengan kulit, mentega, produk susu, dan organ dalam.

Akan tetapi, penelitian tersebut menemukan bahwa mengganti konsumsi lemak jenuh dengan lemak tak jenuh bisa mengurangi kemungkinan timbulnya kanker paru paru. Cobalah untuk mengganti asupan lemak Anda dengan lemak tak jenuh.

Makanan yang mengandung lemak tak jenuh di antaranya adalah ikan salmon, ikan tuna, ikan makarel, walnut, minyak kacang kedelai, minyak jagung, dan biji bunga matahari.

  • Daging olahan

Penelitian di Italia menemukan bahwa daging olahan atau daging yang telah diproses dan daging merah bisa menambah kemungkinan terkena kanker paru paru, terutama pada orang-orang yang tidak pernah merokok. 

Daging ham yang dimasak, diasapi, dan diawetkan merupakan jenis daging olahan dengan penambah risiko kanker paru paru yang tertinggi. Uniknya, daging salami tidak memiliki kaitan dengan peningkatan risiko kanker paru-paru.

Namun, sebaiknya hindari atau kurangi konsumsi daging merah ataupun daging olahan dalam menu harian Anda.

Merokok adalah faktor pertama peningkat risiko kanker paru paru

Beberapa jenis makanan memang bisa menambah kemungkinan terkena kanker paru paru. Namun, menjaga pola makan dengan memasukkan makanan yang bernutrisi imbang dan kaya nutrisi serta menghindari makanan pemicu kanker paru paru tidaklah cukup.

Akan tetapi, jangan lupakan faktor risiko pertama pada kanker paru paru, yaitu perilaku merokok. Tidak memulai perilaku merokok dan berhenti merokok mampu menurunkan risiko kanker paru paru.

Tidak hanya tidak melakukan atau memberhentikan perilaku merokok, tetapi Anda juga perlu menghindari menjadi perokok pasif dengan menghirup asap rokok dari orang-orang sekitar yang sedang merokok.

American Heart Association. https://www.heart.org/en/healthy-living/healthy-eating/eat-smart/fats/saturated-fats
Diakses pada 17 Juli 2019

CDC. https://www.cdc.gov/cancer/lung/basic_info/risk_factors.htm
Diakses pada 17 Juli 2019

Health. https://www.health.com/smoking/lung-cancer-food-causes?
Diakses pada 17 Juli 2019

Journal of Clinical Oncology. https://ascopubs.org/doi/pdf/10.1200/JCO.2017.73.3329
Diakses pada 17 Juli 2019

Mayo Clinic. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/lung-cancer/symptoms-causes/syc-20374620
Diakses pada 17 Juli 2019

MD Anderson Cancer Center.   https://www.mdanderson.org/newsroom/dietary-glycemic-ind.h00-159064767.html
Diakses pada 17 Juli 2019

MedlinePlus. https://medlineplus.gov/ency/patientinstructions/000747.htm
Diakses pada 17 Juli 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2720759/
Diakses pada 17 Juli 2019

NCBI. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15065316
Diakses pada 17 Juli 2019

ScienceDaily. https://www.sciencedaily.com/releases/2016/03/160304091915.htm
Diakses pada 17 Juli 2019

Science Daily. https://www.sciencedaily.com/releases/2009/02/090227080834.htm
Diakses pada 17 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/diabetes/guide/glycemic-index-good-versus-bad-carbs#1
Diakses pada 17 Juli 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed