Terlalu Banyak Makan Makanan Berminyak Bisa Menyebabkan Penyakit Kronis

Terlalu banyak makan makanan berminyak bisa memberikan dampak buruk untuk kesehatan
Makanan berminyak mengandung banyak kolesterol jahat

Berbuka puasa merupakan saat bersantap makanan bersama orang-orang terkasih. Seringkali, banyak hidangan lezat yang tersaji merupakan makanan berminyak seperti gorengan. Dibalik kelezatannya, makanan berminyak memiliki kandungan lemak jenuh yang tinggi.

Lemak dalam tubuh akan memengaruhi kadar kolestrol dalam darah. Namun, lemak jenuh sulit untuk dicerna dalam tubuh. Hal ini tentunya bisa menyebabkan berbagai masalah kesehatan, seperti kelebihan berat badan dan memicu timbulnya penyakit-penyakit kronis.

4 Dampak makan makanan berminyak terlalu banyak

Berbagai dampak buruk akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak saat berbuka puasa, antara lain:

1. Kelebihan Berat Badan atau Obesitas

Makanan berminyak merupakan makanan dengan jumlah kalori besar pada porsi makanan yang kecil. Dalam setiap gram yang dikonsumsi, Anda akan merasakan kenyang sesuai dengan pengaruh hormonal, psikologis, dan juga mekanis. Peningkatan volume makanan pada lambung akan memberikan sinyal kenyang dan membuat Anda berhenti makan.

Apabila Anda mengonsumsi makanan berminyak dan tidak berminyak dalam porsi yang sama, jumlah kalori yang Anda konsumsi akan meningkat hingga tiga kali lipat. Kondisi ini akan membuat Anda semakin rentan terhadap kelebihan berat badan atau obesitas. Berat badan berlebih akan meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Mengurangi konsumsi makanan berminyak bisa menjaga Anda memiliki berat badan ideal dan menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung, diabetes, serta masalah kesehatan lainnya.

2. Aterosklerosis dan Penyakit Jantung

Semakin banyak mengonsumsi makanan berminyak, maka semakin tinggi risiko Anda mengalami penyakit jantung. Makanan berminyak memiliki kadar lemak yang tinggi sehingga berperan besar dalam meningkatkan kadar kolestrol dalam tubuh.

Terdapat dua tipe kolestrol dalam tubuh, yaitu low density lipoprotein (LDL) dan high density lipoprotein (HDL). LDL dianggap sebagai "kolestrol jahat" karena mempersempit lumen pembuluh darah, sedangkan HDL merupakan "kolestrol baik" karena fungsinya membawa kolestrol dari sirkulasi darah kembali ke hati dan dipecahkan di sana. Jumlah HDL yang tinggi mampu menurunkan risiko terjadinya penyakit jantung.

Sementara itu, terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak mampu meningkatkan kadar kolestrol LDL dan menurunkan HDL dalam tubuh. Kondisi ini menyebabkan terjadinya aterosklerosis, yaitu kondisi di mana lemak tertimbun pada pembuluh darah dan membentuk plak.

Plak dalam pembuluh darah akan mengeras dan mempersempit lumen pembuluh darah. Kondisi ini dapat memicu robekan pada plak secara tiba-tiba. Robekan tersebut akan menyebabkan platelet darah berkumpul untuk menghentikan perdarahan. Gumpalan darah yang terbentuk akan memperparah penyempitan lumen yang terjadi.

Bergantung pada lokasi terjadinya sumbatan pembuluh darah, Anda bisa mengalami serangan jantung, stroke, ataupun penyakit vaskuler perifer. Sebelum terjadi penyempitan berat atau sumbatan total pada arteri, aterosklerosis umumnya tidak menunjukkan gejala.

3. Diabetes Melitus

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa banyak mengonsumsi makanan berminyak menyebabkan seseorang memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami diabetes melitus tipe 2. Ini disebabkan karena terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak memiliki kecenderungan untuk mengalami resistensi insulin.

[[artikel-terkait]]

4. Gangguan Pencernaan

Dampak terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak juga bisa terjadi pada saluran cerna Anda. Konsumsi makanan berminyak akan memberikan pekerjaan berat bagi sistem pencernaan. Di antara karbohidrat, protein, dan lemak; lemak membutuhkan waktu paling lama untuk dicerna.

Proses pencernaan membutuhkan berbagai enzim untuk membantu prosesnya. Lamanya waktu untuk memecah lemak saat mengonsumsi makanan berminyak dapat menyebabkan Anda mengalami mual, rasa tidak enak, atau kembung pada perut.

Selain itu, setelah mengonsumsi makanan berminyak, Anda bisa mengalami diare dan nyeri perut. Terkadang Anda dapat menemukan feses yang tampak berminyak.

Penelitian menunjukkan bahwa makanan yang Anda konsumsi mempengaruhi mikrobiota yang ada di saluran cerna. Makanan berminyak tidak memberikan efek yang baik bagi bakteri di saluran cerna tersebut sehingga dapat menyebabkan gangguan imunitas dan keseimbangan hormon dalam tubuh.

Livestrong. https://www.livestrong.com/article/427087-why-is-greasy-food-not-healthy-for-you/
Diakses pada Mei 2019

Health. https://www.health.com/syndication/greasy-food-bad-for-you
Diakses pada Mei 2019

National Heart, Lung, and Blood Institute (NHLBI). https://www.nhlbi.nih.gov/health-topics/atherosclerosis
Diakses pada Mei 2019

Healthline. https://www.healthline.com/nutrition/why-fried-foods-are-bad
Diakses pada Mei 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed