Makan sambal atau makan makanan pedas lainnya bukanlah pantangan untuk ibu menyusui
Pasti nikmat sekali makan tempe dengan sambal, tetapi apakah busui boleh makan pedas?

Bagi ibu menyusui pecinta pedas, sangat wajar jika ada kekhawatiran apakah makan sambal membuat ASI pedas. Kabar baiknya, ASI tidak akan mutlak 100% berubah rasa mengikuti apa yang baru saja dimakan sang ibu.

Memang benar bahwa rasa ASI seorang ibu menyusui bisa berubah-ubah tergantung pada apa yang dikonsumsi. Itulah sebabnya ada istilah nurslings, yaitu rasa ASI yang berbeda dan justru membuat bayi lebih semangat atau lahap menyusu.

Bahkan, bayi yang sejak dalam kandungan telah mengenali rasa pedas akan lebih terbiasa dengan hal itu saat sudah lahir dan berada dalam fase menyusu. Selama tidak ada masalah atau bayi tetap nyaman menyusu, makan sambal, siapa takut?

Makan sambal bukan pantangan 

Tidak hanya di Indonesia, ada banyak negara di dunia yang dikenal dengan menu-menu pedas dan lezat. Sebut saja Thailand, India, Meksiko, hingga Tiongkok. Para ibu menyusui dari negara-negara tersebut tidak lantas menghindari makan sambal sepenuhnya.

Justru, mengonsumsi beragam jenis makanan saat menyusui menjadi awal perkenalan bayi terhadap rasa-rasa makanan yang nanti akan mulai dinikmatinya saat berusia 6 bulan. Tidak seperti susu formula, rasa ASI bisa berubah-ubah. Mulai dari ASI pedas, beraroma bawang, dan lainnya.

Jika ada reaksi alergi yang dialami bayi usai menyusui, belum tentu itu karena sang ibu baru saja makan sambal. Bisa saja hal itu terjadi karena reaksi terhadap makanan lain yang berisiko menjadi alergen seperti olahan susu, jagung, atau gandum.

Menyusui, fase mengenal rasa

Meskipun pada periode awal kehidupannya di dunia bayi hanya mengenal ASI secara eksklusif, bukan berarti mereka tidak mengenal rasa apapun. 

Peneliti dari University College London mengemukakan hipotesis menarik: bayi yang menyusui akan lebih mudah makan nantinya karena mereka telah mengenali beragam rasa, termasuk urusan makan sambal. 

Bukan berarti seorang ibu menyusui dilarang makan sambal selama menyusui karena kekhawatiran ASI pedas. Justru memperkenalkan beragam rasa adalah cara yang tepat untuk membiasakan anak masuk ke periode makan.

Begini cara kerjanya:

Ketika seorang ibu mengonsumsi sesuatu – termasuk makan sambal – makanan tersebut akan masuk ke perut dan dialirkan lewat pembuluh darah. Sistem pencernaan akan memecahnya menjadi molekul protein, karbohidrat, dan lemak.

Begitu pula dengan rasa makanan tersebut. Tak hanya rasa, molekul volatile yang membawa aroma makanan juga ikut aktif. Ini adalah molekul yang berpengaruh terhadap indera perasa setiap individu.

Semakin beragam rasa makanan yang dikonsumsi saat kehamilan, semakin ‘akrab’ pula bayi dengan rasa tersebut. Hal ini sekaligus mematahkan kekhawatiran makan sambal berarti ASI pedas. 

Justru bisa saja bayi menjadi lebih adaptif kala menyusu berkat aroma dan rasa yang tertinggal di ASI.

Hal ini pernah dibuktikan dari penelitian pada tahun 1991 berjudul “Maternal Diet Alters the Sensory Qualities of Human Milk and the Nursling’s Behavior”. Dalam studi tersebut, yang menjadi responden adalah kelompok ibu menyusui yang diminta mengonsumsi makanan kental dengan aroma dan rasa bawang putih.

Hasilnya, ASI mereka juga beraroma bawang putih. Ketika menyusui, terbukti bayi-bayi mereka tidak merasa terganggu dan justru menyusu lebih lama dari biasanya.

Tidak ada pantangan selama menyusui

Berbeda dengan kehamilan yang memiliki beberapa pantangan makanan seperti sajian mentah dan lainnya, tidak ada pantangan bagi ibu menyusui. Artinya, sang ibu bisa mengonsumsi menu yang biasa dimakannya.

Meski demikian, sebaiknya mengonsumsi menu-menu yang sedikit sensitif seperti makan sambal atau olahan susu sapi tetap dalam porsi wajar. Seseorang yang tidak menyusui saja perlu makan dengan nutrisi seimbang, apalagi seorang ibu menyusui, kan?

Beberapa makanan atau minuman yang sebaiknya dikurangi – bukan dihindari sepenuhnya – ketika menyusui adalah:

  • Kafein

Ibu menyusui tidak dilarang untuk mengonsumsi kopi, hanya saja jangan sampai lebih dari 3 kali sehari. Selain itu, sebaiknya mengonsumsi kopi seusai menyusui atau memompa ASI sehingga kandungan kafeinnya tidak terlalu pekat pada ASI.

  • Peppermint, parsley, sage

Ketiga rempah dedaunan di atas mengandung antigalactagogues. Ketika dikonsumsi terlalu banyak, berisiko mengurangi produksi ASI. 

  • Ikan mengandung merkuri

Sebaiknya ibu menyusui bijak ketika mengonsumsi ikan. Memang ikan merupakan sumber protein kaya omega 3 yang bagus untuk perkembangan otak bayi. Meski demikian, ikan tinggi merkuri seperti king mackerel atau ikan laut todak (swordfish) harus dihindari.

  • Makanan alergen

Setiap bayi tentu memiliki reaksi alergi yang berbeda. Beberapa makanan yang kerap menjadi pemicu alergi atau alergen adalah olahan susu sapi, kedelai, telur, kacang, dan jeruk. Biasanya, reaksi alergi dapat terlihat dalam waktu 12 hingga 24 jam usai menyusu.

Jangan ragu untuk memperkenalkan hal baru pada anak Anda. Trial and error di masa menyusui ini adalah awal dari rangkaian perkenalan bayi pada hal-hal baru lainnya di dunia.

Baby Center. https://www.babycenter.com/404_is-it-okay-to-eat-spicy-food-while-nursing_1931.bc
Diakses 10 Juli 2019

Baby Centre UK. https://www.babycentre.co.uk/x562558/is-it-safe-to-eat-spicy-food-when-breastfeeding
Diakses 10 Juli 2019

New York Times. https://well.blogs.nytimes.com/2016/03/28/how-breast-feeding-can-broaden-a-childs-diet/
Diakses 10 Juli 2019

American Academy of Pediatrics. https://pediatrics.aappublications.org/content/88/4/737.short
Diakses 10 Juli 2019

The Bump. https://www.thebump.com/a/foods-avoid-when-breastfeeding
Diakses 10 Juli 2019

Kelly Mom. https://kellymom.com/nutrition/mothers-diet/mom-foods/
Diakses 10 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed