logo-sehatq
logo-kementerian-kesehatan
SehatQ for Corporate
TokoObatArtikelTindakan MedisDokterRumah SakitPenyakitChat DokterPromo
Hidup Sehat

Makan Cepat vs Makan Lambat, Mana yang Baik untuk Tubuh?

open-summary

Makan terlalu cepat dapat menyebabkan efek buruk jangka panjang bagi tubuh. Usahakan untuk makan secara lambat agar merasa kenyang.


close-summary

14 Mar 2021

| Azelia Trifiana

Ditinjau oleh dr. Anandika Pawitri

Kebiasaan makan cepat dapat membawa efek buruk jangka panjang

Kebiasaan makan cepat dapat membawa efek buruk jangka panjang

Table of Content

  • Bahaya kebiasaan makan cepat
  • Pentingnya makan lambat
  • Catatan dari SehatQ

Berapa kali dalam sepekan, Anda terpaksa makan cepat karena dikejar kesibukan dan keperluan lain? Padahal, otak perlu waktu untuk memproses rasa kenyang. Akibatnya, kebiasaan buruk tidak makan lambat ini bisa menimbulkan masalah baru yaitu berat badan bertambah.

Advertisement

Logikanya sederhana. Ketika seseorang makan terburu-buru, maka tubuh bisa saja merasa belum kenyang. Ada keinginan untuk tambah porsi sehingga kalori yang masuk berlebihan. Padahal, belum tentu tubuh memerlukan itu.

Bahaya kebiasaan makan cepat

Otak perlu waktu setidaknya 20 menit untuk memproses sinyal rasa kenyang. Ketika seseorang terbiasa makan cepat, tentu akan mengganggu proses ini. Jika dielaborasi lebih jauh, bahaya atau risiko dari kebiasaan makan cepat adalah:

1. Tak mengenali sinyal kenyang

Sinyal kenyang membantu tubuh mengendalikan kapan harus berhenti makan. Artinya, di sinilah asupan kalori ditentukan. Perumpamannya adalah ketika seseorang makan sekejap kilat, artinya otak belum menganggapnya kenyang. Secara alami, ada keinginan untuk menambah porsi yang dimakan.

2. Kelebihan berat badan

Kebiasaan buruk makan cepat yang dibiarkan dalam jangka panjang sangat mungkin menyebabkan seseorang kelebihan berat badan. Kelebihan kalori yang masuk ke tubuh dibandingkan dengan yang dibakar tentu akan memicu terjadinya kenaikan berat badan.

Sebuah studi yang dilakukan pada Oktober 2003 lalu membuktikannya. Partisipannya adalah 261 anak berusia 7-9 tahun yang duduk di bangku sekolah dasar. Berdasarkan kuisioner tentang kebiasaan makan, 18,4% anak yang terbiasa makan cepat berisiko kelebihan berat badan. Sementara 70,8% anak lainnya mengalami indikator sindrom metabolik.

3. Risiko obesitas

Lebih jauh lagi, para fast eaters ini lebih berisiko mengalami obesitas akibat kebiasaan buruk yang dilakukannya. Bukan hanya dari durasi makan saja. Pilihan menu, jarangnya bergerak, hingga kurang motivasi untuk beraktivitas turut berperan.

Kombinasi beberapa hal di atas menjadi faktor risiko seseorang mengalami obesitas. Bahkan, kesimpulan dari 23 studi membuktikan bahwa mereka yang makan dengan cepat 2 kali lipat lebih rentan mengalami obesitas dibandingkan dengan slow eaters.

4. Menghambat proses cerna

Idealnya, proses cerna berlangsung optimal apabila makanan sudah dikunyah hingga lumat sebelum ditelan. Namun, jangan harapkan hal ini terjadi pada mereka yang makan dengan terburu-buru. Bahkan bisa jadi, makanan tidak dikunyah sempurna dan terlanjur tertelan karena kebiasaan yang tak baik ini.

5. Risiko diabetes

Makan terlalu cepat juga dihubungkan dengan risiko lebih besar menderita diabetes tipe 2. Bahkan, risikonya lebih tinggi 2,5 kali apabila dibandingkan dengan orang-orang yang makan dengan perlahan serta mindful.

Tak hanya itu, makan ngebut juga bisa meningkatkan risiko terjadinya resistensi insulin. Ciri utama kondisi ini adalah kadar gula dan insulin tinggi.

Baca Juga

  • Bahaya Singkong untuk Lambung yang Perlu Diwaspadai
  • Mengenal Berbagai Macam Pewarna Makanan yang Harus Anda Ketahui
  • Diabetes Hingga Obesitas, Ini Bahaya Refined Grain Jika Dikonsumsi Berlebih

Pentingnya makan lambat

Mengingat ada banyak sekali risiko dan kerugian akibat makan cepat, tak ada salahnya menghentikan kebiasaan itu. Justru sebaliknya, biasakan diri untuk makan lambat. Bukan berarti berlama-lama hingga menghambat aktivitas lainnya, namun makan dengan cara mindful atau benar-benar menjalani secara utuh.

Bukan sekadar kebiasaan baik, makan lambat akan membantu meningkatkan hormon rasa kenyang. Ketika seseorang sudah merasa kenyang, keinginan untuk menambah porsi tentu tidak ada lagi. Dengan demikian, asupan kalori lebih terjaga.

Bonusnya lagi, proses pencernaan juga berjalan lebih lancar karena seluruh makanan sudah benar-benar dikunyah sempurna.

Lalu, bagaimana cara membiasakan diri untuk makan lambat?

  • Tidak multitasking

Apabila terpaksa, multitasking saat bekerja mungkin bisa menguntungkan. Namun, jangan bawa-bawa hal ini ke urusan makan. Hindari makan sambil menonton TV, bekerja di depan laptop, atau melihat ponsel karena akan membuat Anda makan terlalu cepat.

Bukan hanya itu saja, seseorang akan makan tanpa benar-benar menghayati prosesnya. Ini mungkin saja membuat lupa seberapa banyak yang sudah dikonsumsi.

  • Letakkan sendok dan garpu

Apabila ingin mengurangi kecepatan saat makan, coba letakkan sendok dan garpu setiap kali usai menyuapkan makanan. Kemudian, kunyah perlahan hingga benar-benar lumat. Cara ini sederhana namun dapat membantu seseorang agar terbiasa makan lambat.

  • Jangan tunggu kelaparan

Apa yang dilakukan orang saat kelaparan? Makan secepat mungkin agar tidak lagi merasa lapar. Sayangnya, ini akan menyebabkan seseorang terjebak dalam kebiasaan makan cepat. Pilihan makanan pun belum tentu bergizi.

Apabila pekerjaan atau kesibukan Anda kerap bentrok dengan jadwal makan tepat waktu, siasati dengan menyiapkan camilan sehat. Dengan demikian, rasa lapar yang muncul pun lebih terkendali.

  • Kunyah hingga tuntas

Penting untuk mengunyah makanan di dalam mulut hingga benar-benar lumat, setidaknya 20-30 kali. Jangan terburu-buru menelan makanan ketika belum benar-benar lumat. Cara ini efektif membuat Anda makan dengan tempo lebih tertata.

Apabila belum terbiasa terlebih saat mengonsumsi makanan berkuah, coba pilih makanan tinggi serat. Bukan hanya menjaga rasa kenyang lebih lama, perlu waktu lebih lama untuk mengunyah makanan kaya serat seperti buah dan sayur.

Anda juga bisa menyiasati tempo makan dengan minum air putih di tengah-tengah waktu makan. Banyak cara untuk membiasakan diri dengan cara makan yang lebih lambat ini.

Catatan dari SehatQ

Jangan sampai, makan cepat demi menghemat waktu beberapa jam di tengah pekerjaan Anda justru berakibat buruk dalam jangka panjang. Sebut saja meningkatnya risiko mengalami diabetes tipe 2, kenaikan berat badan, hingga obesitas.

Untuk berdiskusi lebih lanjut tentang keluhan yang mungkin muncul akibat makan ngebut, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Download sekarang di App Store dan Google Play.

Advertisement

makanan sehathidup sehatpola hidup sehat

Referensi

Bagikan

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Advertisement

logo-sehatq

Langganan Newsletter

Jadi orang yang pertama tahu info & promosi kesehatan terbaru dari SehatQ. Gratis.

Metode Pembayaran

Bank BCABank MandiriBank BNIBank Permata
Credit Card VisaCredit Card Master CardCredit Card American ExpressCredit Card JCBGopay

Fitur

  • Toko
  • Produk Toko
  • Kategori Toko
  • Toko Merchant
  • Booking
  • Promo
  • Artikel
  • Chat Dokter
  • Penyakit
  • Forum
  • Review
  • Tes Kesehatan

Perusahaan

Follow us on

  • FacebookFacebook
  • TwitterTwitter
  • InstagramInstagram
  • YoutubeYoutube
  • LinkedinLinkedin

Download SehatQ App

Temukan di APP StoreTemukan di Play Store

Butuh Bantuan?

Jam operasional: 07.00 - 20.00

Hubungi Kami+6221-27899827

© SehatQ, 2022. All Rights Reserved