Lupa Identitas Diri, Penderita Fugue Disosiatif Sering Bepergian ke Tempat Lain

(0)
14 Aug 2020|Arif Putra
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Penderita fugue disosiatif lupa akan identitas dirinya dan membuatnya bepergian dari tempat asalnyaPenderita fugue disosiatif sering bingung mengenai dirinya dan bepergian tiba-tiba
Lupa mengenai hal-hal kecil dalam hidup menjadi masalah yang lumrah terjadi. Namun, apabila seseorang hilang ingatan, lupa mengenai siapa dirinya, dan bepergian ke tempat yang jauh, tentu akan memerlukan penanganan medis dari dokter karena mengarah pada amnesia. Amnesia jenis ini disebut dengan fugue disosiatif. Walau jarang terjadi, gejala fugue disosiatif tetap perlu dipahami.

Fugue disosiatif, bukan amnesia biasa

Fugue disosiatif adalah tipe amnesia yang ditandai dengan hilangnya identitas diri yang membuat penderitanya bepergian dari rumah atau tempat asalnya.  Penderita fugue disosiatif sering bingung mengenai siapa diri (autografi) mereka dan bahkan mungkin menciptakan identitas baru. Beberapa kasus fugue disosiatif dapat berlangsung selama beberapa jam. Penderitanya bisa saja kembali ke kondisi normal dengan cepat sehingga mungkin tidak disadari oleh orang lain. Namun, beberapa kasus fugue disosiatif juga dapat berlangsung selama berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun.Pada kasus fugue disosiatif yang berlangsung lama, penderitanya juga mungkin untuk meninggalkan kehidupan ‘aslinya’ dan memulai kehidupan baru. Kehidupan baru tersebut biasanya sangat berbeda dengan kehidupan sebelumnya. Sebagai contoh, seorang eksekutif muda di Jakarta menderita fugue disosiatif dan lupa dengan identitasnya. Ia kemudian meninggalkan karirnya dan pergi ke provinsi lain untuk mencari pekerjaan yang sama sekali jauh berbeda.Istilah ‘fugue’ sendiri berasal bahasa Latin yang memang memiliki arti ‘flight’ atau ‘terbang’, di mana bepergian dengan tiba-tiba merupakan salah satu ciri khas gangguan disosiatif ini. Fugue disosiatif, atau dulu dikenal dengan fugue psikogenik, menjadi salah satu subtipe dari amnesia disosiatif. Fugue disosiatif menjadi bentuk amnesia yang parah, namun dianggap jarang terjadi.

Gejala fugue disosiatif

Fugue disosiatif yang berlangsung lama dapat menimbulkan beberapa gejala berikut ini:
  • Secara tiba-tiba melakukan perjalanan jauh yang tidak direncanakan 
  • Tidak mampu mengingat peristiwa masa lalu atau informasi penting dari kehidupannya sendiri
  • Kebingungan atau kehilangan ingatan tentang identitasnya, serta membuat identitas baru untuk mengkompensasi hilang ingatan tersebut
  • Sulit menjalani aktivitas sehari-hari
  • Kebingungan
  • Menghindari tempat-tempat lain yang sering dikunjungi
  • Stres yang parah di tempat kerja atau dari hubungan personal
  • Depresi, cemas, munculnya pikiran untuk bunuh diri, dan masalah kesehatan mental lainnya
  • Ketidakmampuan untuk mengenali orang yang dicintai

Apa sebenarnya penyebab fugue disosiatif?

Fugue disosiatif dapat terjadi akibat stres emosional yang ekstrem pada penderitanya. Amnesia ini diyakini dapat terjadi sebagai pelarian atas stres yang tidak bisa ia kendalikan. Trauma atau sumber stres bisa langsung dialami oleh penderita fugue disosiatif, namun mungkin pula ‘hanya’ menyaksikan trauma orang lain. Beberapa sumber stres yang berisiko memicu fugue disosiatif, termasuk:
  • Trauma seksual
  • Trauma akibat peperangan
  • Trauma kecelakaan
  • Trauma akibat bencana alam
  • Penculikan
  • Penyiksaan
  • Pelecehan emosional atau kekerasan fisik di masa kecil
Selain trauma, ada pula kemungkinan bahwa faktor genetik juga memicu fugue disosiatif.

Penanganan fugue disosiatif

Langkah pertama dokter dalam menangani fugue disosiatif adalah mengidentifikasi kondisi medis yang berpotensi memicu hilang ingatan penderita. Setelahnya, penderita amnesia ini akan dirujuk pada psikiater untuk menjalani wawancara dan pemeriksaan fugue disosiatif. Wawancara untuk fugue disebut dengan Wawancara Klinis Terstruktur untuk Disosiasi atau SCID-D. Penanganan setelah wawancara dan pemeriksaan di atas dapat berupa terapi, termasuk:
  • Terapi keluarga
  • Psikoterapi
  • Terapi perilaku kognitif
  • Teknik meditasi dan relaksasi
  • Terapi musik atau seni
  • Hipnosis klinis
  • Terapi perilaku dialektik (DBT)
Selain terapi, dokter mungkin juga akan meresepkan obat-obatan untuk mengatasi gejala yang dirasakan pasien fugue disosiatif, seperti obat anticemas dan antidepresan.

Pentingnya menemui ahli jiwa jika mengalami trauma

Seperti yang disampaikan di atas, stres akibat trauma merupakan penyebab dari fugue disosiatif. Untuk itu, apabila merasa stres yang dirasakan sangat mengganggu aktivitas sehari-hari, Anda sangat dianjurkan untuk menemui psikolog atau psikiater. Anda juga bisa bertindak sigap apabila merasa orang terdekat baru saja mengalami trauma yang dirasa berat untuk disimpan sendiri. Selain itu, jika sahabat atau anggota keluarga Anda menunjukkan gejala amnesia, membawanya ke fasilitas kesehatan sangat disarankan.

Catatan dari SehatQ

Fugue disosiatif adalah amnesia yang membuat penderitanya melakukan perjalanan jauh dengan tiba-tiba, di samping juga hilangnya memori tentang identitas diri. Fugue disosiatif dapat ditangani dengan beberapa terapi, di samping juga obat-obatan untuk mengatasi gejala yang dirasakan pasien.
traumasering lupaamnesiakekerasan
Healthline. https://www.healthline.com/health/dissociative-fugue
Diakses pada 3 Agustus 2020
Verywell Mind.  https://www.verywellmind.com/an-overview-of-dissociative-fugue-4770158
Diakses pada 3 Agustus 2020
Web MD.  https://www.webmd.com/mental-health/dissociative-fugue
Diakses pada 3 Agustus 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait