Loratadine untuk Ibu Hamil dan Menyusui: Fungsi, Dosis, dan Keamanannya


Loratadine untuk ibu hamil maupun menyusui digunakan untuk mengatasi gangguan kulit, termasuk alergi. Meski dijual bebas, konsumsi loratadine sebaiknya atas anjuran dokter.

(0)
10 Jan 2021|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Loratadine untuk ibu hamil diminum sesuai anjuran dokterLoratadine untuk ibu hamil sebaiknya dilakukan dengan anjuran dokter
Loratadine untuk ibu hamil berguna untuk mengatasi gatal-gatal saat hamil dan reaksi alergi umum. Loratadine termasuk dalam kategori obat alergi yang dijual bebas alias over-the-counter (OTC). Lebih dari 90% wanita hamil mengonsumsi obat dengan resep dokter maupun OTC. Lantas, apakah loratadine aman untuk ibu hamil dan bahkan menyusui? Tunggu dulu.Beberapa jenis obat mungkin dapat terserap ke plasenta maupun ASI sehingga terkonsumsi juga oleh bayi. Dengan berkonsultasi, dokter dapat memastikan manfaat obat tersebut akan lebih besar daripada risiko tersebut atau tidak.

Fungsi loratadine untuk ibu hamil dan menyusui

Loratadine adalah obat antihistamin yang berfungsi untuk mengatasi gejala alergi umum, seperti gatal-gatal, bersin-bersin, ingusan (hidung berair), mata berair, dan hidung tersumbat.Obat ini bekerja menghambat efek senyawa histamine di dalam tubuh. Histamine adalah senyawa yang menimbulkan gejala-gejala alergi tersebut.Loratadine juga dapat digunakan untuk mengatasi ruam pada kulit, biduran, gejala pilek, atau, gangguan kulit kronis.

Keamanan loratadine untuk ibu hamil dan menyusui

Pada dasarnya, loratadine tidak berbahaya bagi kehamilan
Loratadine tidak berbahaya bagi kehamilan
Loratadine adalah obat alergi yang masuk dalam kategori B menurut Food and Drugs Administration (FDA), Badan Pengawas Obat di Amerika Serikat yang setara dengan BPOM Indonesia. Obat-obatan dalam kategori B berarti dikatakan cukup aman bagi ibu hamil dan menyusui, dan tidak menimbulkan efek berbahaya bagi janin.Sejauh ini belum ada penelitian memadai yang membuktikan risiko penggunaan loratadine untuk ibu hamil dan menyusui. Penelitian terhadap hewan uji yang ada tidak menunjukkan bukti keracunan pada janin maupun risiko kecacatan pada janin. Di sisi lain, zat loratadine dapat disalurkan ibu ke bayi melalui ASI. Berdasarkan penelitian, bayi akan menerima kurang dari 1% dari dosis yang dikonsumsi ibu. Bahkan, riset dari Journal of Clinical Pharmacology menemukan bahwa dalam 48 jam pascakonsumsi loratadine,hanya ada 0,010% dari dosis loratadine yang ditemukan pada ASI.Jumlah ini dianggap sangat rendah untuk bisa menimbulkan gangguan pada bayi. Maka dibanding obat antihistamin lain, loratadine memiliki lebh sedikit risiko membuat kantuk pada ibu maupun bayi. Namun jika Anda adalah wanita yang sedang hamil dan menyusui, ada baiknya selalu diskusikan penggunaan obat-obatan apa pun terlebih dulu dengan dokter. Jangan gunakan obat ini tanpa memberi tahu dokter jika Anda sedang hamil dan menyusui.Kondisi kesehatan Anda dan rekam penggunakan obat-obatan alergi perlu didiskusikan dengan dokter sejak Anda merencanakan kehamilan. Nantinya, dokter akan mengatur pemberian obat-obatan tersebut supaya aman untuk kehamilan Anda, baik dengan mengatur dosis atau menggantinya dengan obat lain.Dokter hanya akan memberikan loratadine untuk ibu hamil dan menyusui jika manfaatnya dinilai lebih besar dari risikonya terhadap bayi. Dari sini bisa kita simpulkan bahwa loratadine cukup aman untuk mengatasi gatal-gatal keluhan ibu hamil, asal dikonsumsi di bawah pengawasan ketat dokter.

Dosis loratadin untuk ibu hamil

Untuk mengatasi reaksi alergi  dan gatal-gatal pada kulit, dokter akan memberikan dosis loratadin untuk ibu hamil sebanyak 10 mg sekali sehari atau pun 5 mg sebanyak dua kali dalam sehari. Namun, pastikan Anda tetap mengikuti dosis sesuai anjuran yang ditetapkan dokter. Loratadine untuk ibu hamil harus dihentikan setelah gejala alergi menghilang.

Tips mengonsumsi loratadine

Loratadine dapat dikonsumsi tanpa makanan
Loratadine dapat dikonsumsi tanpa makanan
Berikut ini tips untuk mengonsumsi loratadine untuk ibu hamil maupun loratadine untuk ibu menyusui, untuk mendapat hasil perawatan optimal, sekaligus mengurangi risiko efek samping.
  • Loratadine bisa diminum dengan atau tanpa makanan, biasanya satu kali sehari.
  • Meski jarang menyebabkan rasa kantuk, tetap ada risiko efek samping ini setelah mengonsumsi loratadine. Oleh karena itu, jangan mengemudikan kendaraan maupun mengoperasikan mesin jika Anda merasakan kantuk setelah mengonsumsi obat tersebut.
  • Segera cari bantuan medis jika mengalami gatal-gatal, pembengkakan di wajah, tenggorokan, maupun lidah, pusing, peningkatan produksi air liur, kesulitan berbicara, atau sesak napas setelah menggunakan loratadine.
  • Loratadine bukanlah pengganti epinephrine dalam mengobati alergi berat maupun anafilaksis
Segera berkonsultasi kembali dengan dokter apabila kondisi Anda tidak membaik dalam tiga hari setelah mengonsumsi loratadine. Begitu pula jika gatal-gatal masih saja muncul lebih dari enam minggu.

Orang-orang yang sebaiknya menghindari loratadine

Lebih lanjut, pasien yang mengalami alergi terhadap loratadine maupun desloratadine, tidak boleh menggunakan obat ini.Tanyakan pada dokter maupun apoteker mengenai keamanan konsumsi loratadine apabila Anda memiliki kondisi medis tertentu, terutama:Beberapa sediaan loratadine juga mungkin mengandung phenylalanine. Jadi, ketika Anda memiliki kondisi phenylketonuria (PKU), berkonsultasilah dengan dokter sebelum memakai loratadine.Ingat, jangan mengonsumsi loratadine selama masa kehamilan maupun menyusui tanpa anjuran dokter.Untuk mengetahui lebih lanjut tentang penggunaan loratadine untuk ibu hamil maupun menyusui, tanyakan langsung pada dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ.Download sekarang di App Store dan Google Play.
alergikehamilangatalmenyusuiminum obat saat menyusuihamilibu menyusuimasalah kehamilanmengonsumsi obat saat hamilibu hamil
AAFP. https://www.aafp.org/afp/2014/1015/p548.html
Diakses pada 29 Desember 2020
Drugs. https://www.drugs.com/loratadine.html
Diakses pada 29 Desember 2020
Mother to Baby. https://mothertobaby.org/fact-sheets/loratadine-pregnancy/
Diakses pada 29 Desember 2020
Journal of Clinical Pharmacology. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/2966185/
Diakses pada 1 Maret 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait