Lockdown vs. Karantina Wilayah: Mengapa Negara Lain Memilih Lockdown?

Bola dunia menggunakan masker sebagai perumpamaan lockdown
Lockdown sudah dilakukan beberapa negara di dunia untuk mencegah penyebaran COVID-19

Kata lockdown akhir-akhir ini sering digaungkan, terutama di media sosial. Banyak orang mendesak pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan serupa negara-negara lainnya yang juga terdampak pandemi COVID-19. Namun tahukah Anda, apa sebenarnya lockdown?

Lockdown, secara harafiah artinya dikunci. Jika istilah ini digunakan pada masa pandemi penyakit seperti sekarang, lockdown bisa diartikan sebagai penutupan akses masuk maupun keluar suatu daerah yang terdampak. Tiongkok sudah mengeluarkan kebijakan lockdown untuk kota Wuhan sejak episentrum pertama kasus itu menunjukan lonjakan kasus secara signifikan.

Di saat beberapa negara sudah memberlakukan kebijakan lockdown untuk mencegah penyebaran virus corona, Indonesia malah melakukan karantina wilayah. Sebenarnya apa bedanya?

Beda lockdown dan karantina wilayah

Menko Polhukam Mahfud MD menjelaskan bahwa pemerintah Indonesia sedang merencanakan karantina wilayah. Istilah karantina wilayah ini ternyata memiliki definisi yang sangat berbeda dari lockdown.

Karantina wilayah menurutnya merupakan istilah lain dari social distancing atau physical distancing – dimana masyarakat Indonesia masih boleh berinteraksi asal menjaga jarak aman.

Selain itu, karantina kesehatan ternyata sudah tercatat dalam peraturan di Indonesia, yaitu dalam Undang-undang Nomor 6 tahun 2018 tentang Kekarantinaan Kesehatan.

Dalam undang-undang, karantina wilayah didefinisikan sebagai pembatasan penduduk dalam suatu wilayah untuk mencegah kemungkinan penyebaran penyakit atau kontaminasi.

Selain itu, menurut undang-undang Nomor 6 tahun 2018 pasal 54 dan 55, ada kewajiban yang perlu dilakukan pemerintah dan hak yang harus diperoleh masyarakat, meliputi:

  1. Pemerintah wajib memberikan penjelasan kepada masyarakat sebelum melaksanakan karantina wilayah.
  2. Jika ada yang ditemukan sakit, pemerintah harus segera melakukan tindakan isolasi dan merujuk ke rumah sakit.
  3. Selama karantina, kebutuhan hidup dasar orang dan makanan hewan ternak menjadi tanggung jawab pemerintah.

Negara-negara yang sudah melakukan lockdown

Saat Tiongkok perlahan-lahan sudah mulai bangkit dan kembali ke kesehariannya, beberapa negara di Eropa dan Asia Tenggara justru sedang berjibaku melawan penyebaran virus corona. Pergerakan virus ini secepat kilat. Membuat banyak negara kewalahan untuk merawat begitu banyak orang yang sakit secara bersamaan.

Di Italia, misalnya. Hanya dalam dua minggu angka positif pasien bisa melonjak begitu drastis. Pada tanggal 22 Februari 2020, menurut grafik yang diterbitkan lembaga kesehatan dunia World Health Organization (WHO), negara itu “hanya” memiliki 11 kasus positif.

Lalu dua minggu kemudian, yaitu tanggal 6 Maret 2020, angkanya melonjak menjadi 3.900-an kasus. Terbaru, hingga 18 Maret 2020 atau dua minggu setelahnya, angka pasien positif COVID-19 di Italia sudah mencapai angka 35.713 orang.

Hal ini membuat pemerintah negara itu memberlakukan lockdown secara nasional untuk menahan laju penyebaran virus. Selain Italia, berikut ini beberapa negara yang saat ini sedang memberlakukan lockdown akibat pandemi COVID-19.

  • Spanyol (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 13.716)
  • Malaysia (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 673)
  • Perancis (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 7.652)
  • Denmark (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 1.044)
  • Irlandia (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 292)
  • Belanda (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 2.051)
  • Belgia (jumlah kasus positif per 18 Maret 2020: 1.468)

Apakah lockdown ampuh untuk menahan laju penyebaran virus corona?

Jika melilhat cerita dari Tiongkok, sepertinya memang ampuh. Toh, lockdown sebenarnya adalah perluasan dari social distancing, dalam skala yang jauh lebih besar dan dampak yang jauh lebih luas.

Menurut catatan Bloomberg, per 19 Maret 2020, Provinsi Hubei melaporkan tidak ada kasus infeksi COVID-19 baru di wilayahnya. Provinsi Hubei merupakan area pusat penyebaran virus corona, dengan Wuhan sebagai ibukotanya.

Sebaliknya, secara nasional, angka infeksi virus corona di Tiongkok masih bertambah sebanyak 34 kasus. Namun, sebagian besarnya merupakan imported case atau berasal dari orang yang baru pulang dari luar negeri.

Lantas, apakah ini satu-satunya jalan? Jawabannya adalah belum tentu. Negara seperti Singapura dan Korea Selatan sejauh ini tidak memberlakukan lockdown dan mereka tetap mampu menahan laju persebaran dengan tingkat kematian akibat COVID-19 yang rendah.

Namun, tentu kedua negara tadi juga melakukan pencegahan tersendiri. Korea Selatan misalnya, menjadi negara dengan jumlah pemeriksaan COVID-19 paling banyak per kapita di dunia. Negara ini sudah melakukan tes virus corona pada kurang lebih 290.000 orang warganya.

Cara ini rupanya efektif untuk menekan angka penyebaran. Sebab, banyak kasus bisa diketahui sejak dini melalui langkah ini. Sehingga, pasien positif tersebut tidak sempat menyebarkannya ke orang lain.

Dari data yang dilansir Reuters, jumlah pasien baru positif corona di Korea Selatan per 18 Maret 2020 turun drastis menjadi 93 orang per hari, setelah dua minggu sebelumnya menyentuh angka 909 infeksi baru per hari.

Jadi, jika ditanya manakah yang paling efektif, rasanya itu semua tergantung dari keseriusan langkah pencegahan itu sendiri, apapun metodenya.

Info lengkap seputar virus corona

• LIVE update: Perkembangan terkini situasi penyebaran virus corona di Indonesia

• Untuk yang ingin periksa corona: Prosedur pemeriksaan corona berdasarkan peraturan pemerintah

• Obat virus corona ditemukan?: Avigan Favipiravir, obat flu jepang yang dianggap efektif untuk atasi corona

Dampak lockdown untuk penduduk dari sisi kesehatan

Lockdown ampuh menahan laju persebaran virus. Sebab dengan lockdown, masyarakat mau tidak mau harus berdiam diri di rumah. Toko-toko tutup, kantor, sekolah, hingga pusat ibadah pun sama. Kebijakan ini membuat virus tidak bisa dengan mudah menempel dari satu orang ke orang lainnya.

Namun di balik kebijakan tersebut, juga muncul berbagai masalah baru, mulai dari sisi ekonomi hingga kesehatan. Dilansir dari NPR, Dr. Laura Hawryluck, profesor bidang kedokteran perawatan kritis dari University of Toronto, mengatakan bahwa banyak warga di Wuhan yang sebenarnya tidak sakit secara fisik, mengalami gangguan kecemasan yang parah, perasaan terisolasi dan stres sejak kebijakan lockdown dijalankan.

Laura menambahkan bawah stres yang dirasakan merupakan akumulasi dari rasa takut tertular penyakit, rasa takut menularkan ke orang terdekat, dan kecemasan soal penghasilan yang hilang tiba-tiba, karena mereka sudah tidak lagi bisa bekerja.

Tanpa lockdown pun, pandemi virus corona sudah memicu masalah mental yang cukup serius. Penelitan lain yang dilakukan di Tiongkok menyebutkan bahwa penyebaran penyakit ini memicu naiknya angka berbagai masalah mental, terutama depresi, gangguan kecemasan, dan gangguan panik.

Penelitian ini dilakukan pada 52.730 orang responden dari 36 Provinsi di Tiongkok. Selain itu, penelitan juga mengikutsertakan responden yang berasal dari Macau, Taiwan, dan Hongkong.

Dari total jumlah tersebut, responden yang berusia di bawah 18 tahun memiliki tingkat stres yang paling rendah. Para ahli mengemukakan, hal ini disebabkan oleh dua hal. Pertama, tingkat penularan dan kematian akibat COVID-19 untuk rentang usia tersebut tergolong rendah. Kedua, minimnya paparan terhadap virus akibat kebijakan karantina dari negara.

Sementara itu, tingkat stres paling tinggi, tercatat pada responden berusia 18-30 tahun serta yang berusia di atas 60 tahun. Tahukah apa faktor utama orang berusia 18-30 tahun memiliki tingkat stres yang tinggi terkait corona? Menurut penelitan tersebut, hal ini disebabkan karena mereka secara mudah mendapatkan informasi mengenai penyakit ini dari media sosial, yang sifatnya mudah memicu stres.

Sementara itu pada orang berusia di atas 60 tahun, tingginya tingkat stres disebabkan oleh statistik penyakit yang menyebutkan bahwa lansia lah yang paling rentan tertular dan lebih berisiko mengalami keparahan kondisi, apabila tertular.

Selain dampak secara mental, kebijakan lockdown juga berdampak pada kualitas pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan setempat. Di Tiongkok, misalnya. Saat Provinsi Hubei mengalami lockdown, pemerintah setempat mengirim ribuan tenaga medis ke area tersebut untuk bisa menangani para pasien COVID-19 sebelum virus menyebar lebih jauh.

Akibatnya, tenaga medis di daerah lain berkurang, dan menyebabkan perawatan di fasilitas kesehatan tidak bisa berjalan seefektif biasanya. Padahal kita tahu, COVID-19 bukanlah satu-satunya penyakit yang saat ini ada di dunia.

BMJ Journal, General Psychiatry. https://gpsych.bmj.com/content/33/2/e100213.full
Diakses pada 19 Maret 2020

Washington Post. https://www.washingtonpost.com/world/asia_pacific/locked-down-in-beijing-i-watched-china-beat-back-the-coronavirus/2020/03/16/f839d686-6727-11ea-b199-3a9799c54512_story.html
Diakses pada 19 Maret 2020

Kompas. https://www.kompas.com/tren/read/2020/03/18/195000965/berikut-daftar-8-negara-yang-sudah-tetapkan-lockdown-akibat-virus-corona?page=2
Diakses pada 19 Maret 2020

WHO. https://experience.arcgis.com/experience/685d0ace521648f8a5beeeee1b9125cd
Diakses pada 19 Maret 2020

Tempo. https://nasional.tempo.co/read/1320573/ada-odp-pdp-dan-lockdown-mengenal-istilah-seputar-corona

Diakses pada 19 Maret 2020
Reuters. https://www.reuters.com/article/us-health-coronavirus-testing-specialrep/special-report-how-korea-trounced-u-s-in-race-to-test-people-for-coronavirus-idUSKBN2153BW
Diakses pada 19 Maret 2020

Bloomberg. https://www.bloomberg.com/news/articles/2020-03-19/china-s-virus-epicenter-sees-no-new-cases-after-two-month-ordeal
Diakses pada 19 Maret 2020

Artikel Terkait