Vaksin DPT: Tameng Bayi dari Difteri, Pertusis, dan Tetanus

Vaksin DPT termasuk imunisasi wajib yang dapat diberikan sejak bayi berusia 2 bulan
Vaksin DPT dapat diberikan sejak bayi berusia 2 bulan

Salah satu vaksin yang wajib diberikan pada anak sebelum berusia satu tahun adalah vaksin DPT. Pemberian imunisasi ini bertujuan mencegah penyakit difteri, pertusis atau batuk rejan, dan tetanus.

Kapan anak harus diberikan vaksin DPT?

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan pemberian imunisasi DPT dasar sebanyak tiga kali. Berikut penjelasannya:

  • Imunisasi DPT 1 pada umur 2 bulan.
  • Imunisasi DPT 2 pada umur 3 bulan.
  • Imunisasi DPT 3 pada umur 4 bulan.

Selanjutnya, anak diberikan imunisasi ulangan (DPT 4) atau booster pada usia 18 bulan. Terakhir, DPT 5 diberikan saat anak masuk usia sekolah, yakni pada umur 5-7 tahun.

Pemberian vaksin DPT harus dipertimbangkan atau dihentikan apabila anak Anda:

  • Sedang sakit dengan tingkat keparahan sedang atau berat. Anak baru bisa mendapatkan imunisasi setelah kesehatannya pulih. Untuk sakit ringan seperti batuk, pilek, atau demam ringan, pemberian vaksin tetap aman.
  • Mengalami reaksi alergi berat yang mengancam nyawa setelah imunisasi. Pada kondisi ini, anak tidak boleh mendapatkan imunisasi lanjutan.
  • Mengalami gangguan pada otak atau sistem saraf dalam waktu tujuh hari setelah pemberian vaksin. Pada kondisi ini, anak juga tidak boleh menerima imunisasi lanjutan.

Efek samping vaksin DPT

Seperti obat-obatan lainnya, vaksin DPT juga bisa menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang dapat muncul setelah imunisasi meliputi:

  • Demam.
  • Kemerahan atau bengkak di area suntikan.
  • Rasa nyeri di area suntikan.
  • Anak menjadi rewel dan lemas, dan mengalami muntah.

Efek samping tersebut dapat terjadi dalam satu hingga tiga hari setelah pemberian vaksin, namun biasanya akan hilang dengan cepat.

Anda bisa memberikan obat paracetamol untuk meredakan demam dan nyeri anak, tapi pastikan dosisnya sesuai aturan di kemasan. Hindari memberikan aspirin untuk anak-anak di bawah 18 tahun, karena dapat menyebabkan sindrom Reye yang mengancam jiwa.

Meski sangat jarang, gangguan kesehatan serius bisa pula terjadi. Misalnya, penurunan kesadaran, kerusakan otak, dan koma. Segeralah bawa anak ke dokter jika ia mengalami kejang, pingsan, tak berhenti menangis selama tiga jam, dan demam di atas 40 derajat Celsius setelah imunisasi.

Interaksi vaksin DPT dan obat yang perlu diperhatikan

Pemberian vaksin DPT bersamaan dengan konsumsi obat-obatan tertentu bisa mengubah cara kerja obat atau menimbulkan efek samping yang serius. Berikut obat-obatan yang dapat berinteraksi dengan vaksin DPT:

  • Obat-obatan pengencer darah, seperti warfarin.
  • Kortikostiroid, seperti hyrodocortisone dan prednisone.
  • Obat kemoterapi untuk mengatasi kanker.
  • Obat imunosupresan untuk menekan sistem kekebalan tubuh, seperti cyclosporine dan tacrolimus.

Komplikasi difteri, pertusis, dan tetanus pada anak

Difteri, pertusis, dan tetanus sama-sama disebabkan oleh bakteri. Ketiga penyakit ini dapat memicu komplikasi yang serius dan mematikan bila dibiarkan serta tidak diobati. Apa sajakah itu?

  • Difteri

Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang mudah menyebar melalui batuk, bersin, atau kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi (misalnya mainan). Setelah terpapar bakteri, anak bisa mengalami gejala khas difteri yang berupa selaput putih keabuan pada pangkal tenggorokan.

Selain munculnya selaput, masalah pernapasan, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening, dan demam juga bisa mendera anak-anak yang terkena difteri.

Jika difteri tidak ditangani dan bakteri penyebabnya kemudian memasuki aliran darah, kerusakan jantung, ginjal, dan saraf bisa dialami oleh penderita.

  • Pertusis

Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh bakteri yang dapat membuat saluran pernapasan membengkak. Sama seperti difteri, penyakit ini juga menular melalui percikan air di udara ketika penderita batuk atau bersin.

Gejala-gejala pertusis meliputi demam ringan, apnea, muntah, lemas, dan batuk yang disertai suara tarikan napas keras (whooping). Bila terus dibiarkan, batuk rejan bisa menimbukan komplikasi berupa kejang, napas tersengal-sengal, tekanan darah rendah, hingga pneumonia.

  • Tetanus

Disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan di tanah, debu, dan pupuk kandang, tetanus bisa masuk melalui kulit yang rusak atau terluka. Penyakit ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius, seperti kejang, sulit bernapas dan sulit menelan.

Dengan mendapatkan vaksin DPT, anak Anda dapat terlindungi dari ketiga penyakit tersebut. Vaksin DPT berisi komponen bakteri difteri, pertusis, dan tetanus yang sudah tidak aktif lagi. Ini berarti, komponen bakteri tidak lagi dapat menyebabkan penyakit, tetapi justru memicu tubuh untuk menciptakan kekebalan.

Namun sebelum memberikan vaksin DPT, selalu konsultasikan dengan dokter anak terlebih dulu. Dengan ini, dokter bisa menentukan kapan waktu yang tepat dan mempertimbangkan kondisi kesehatan anak Anda.

Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/what-you-need-to-know-about-the-dtap-vaccine-4156747
Diakses pada 11 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/dtap-and-tdap-vaccines#1
Diakses pada 11 Desember 2019

WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-151173/daptacel-dtap-pediatricpf-intramuscular/details
Diakses pada 11 Desember 2019

Jurnal Sari Pediatri. file:///Users/riekesaraswati/Downloads/1057-2403-1-SM.pdf
Diakses pada 11 Desember 2019

Artikel Terkait

Diskusi Terkait di Forum

Banner Telemed