Imunisasi DPT: Tameng Bayi dari Difteri, Pertusis, dan Tetanus

(0)
11 Dec 2019|Rieke Saraswati
Ditinjau olehdr. Karlina Lestari
Imunisasi DPT wajib diberikan sejak bayi berusia 2 bulanImunisasi DPT dapat diberikan sejak bayi berusia 2 bulan
Imunisasi DPT adalah salah satu vaksin yang wajib diberikan pada anak sebelum berusia satu tahun. Manfaat imunisasi DPT adalah untuk mengatasi penyakit difteri, pertusis atau batuk rejan, dan tetanus.

Kapan anak harus diberikan imunisasi DPT?

Imunisasi DPT diberikan sebelum bayi berusia 1 tahun
Vaksin DPT adalah salah satu jenis imunisasi yang dianjurkan oleh Kementerian Kesehatan. Pemberian vaksin DPT untuk mencegah penyakit ini juga masuk ke kategori program imunisasi dasar lengkap yang harus diberikan sebelum bayi menginjak usia 1 tahun.Jumlah keseluruhan saat memberikan imunisasi DPT sebanyak lima kali, sejak anak usia 2 bulan hingga 6 tahun. Imunisasi yang keempat dilakukan saat bayi berusia 18 dan yang terakhir pada usia 5 tahun.Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menganjurkan pemberian imunisasi dasar sebanyak tiga kali, yaitu pada usia 2 bulan, 3 bulan, dan 4 bulan. Petunjuk yang diterbitkan IDAI juga menyarankan, jarak pemberian imunisasi DPT pada tiga dosis pertama selama 4-6 minggu.Imunisasi DPT diberikan dalam sediaan suntikan. Perlu diingat, satu dosis imunisasi setara dengan satu suntikan setiap jadwal imunisasi.

Apa yang harus dipertimbangkan jika akan imunisasi DPT?

Beri imunisasi DPT pada bayi jika ia tidak sedang sakit
Pemberian vaksin harus dipertimbangkan atau dihentikan apabila anak Anda:
  • Mengalami sakit parah atau sedang. Sebaiknya tunggu setelah kesehatan anak membaik untuk mendapatkan imunisasi. Untuk sakit ringan seperti batuk, pilek, atau demam ringan, pemberian vaksin tetap aman.
  • Mengalami reaksi alergi berat yang mengancam nyawa setelah imunisasi. Pada kondisi ini, anak tidak boleh mendapatkan imunisasi lanjutan.
  • Mengalami gangguan pada otak atau sistem saraf dalam waktu tujuh hari setelah pemberian vaksin. Pada kondisi ini, anak juga tidak boleh menerima imunisasi lanjutan.

Apa efek samping imunisasi DPT?

Ruam terjadi setelah diberi imunisasi DPT
Seperti obat-obatan lainnya, vaksin DPT juga bisa menimbulkan efek samping. Beberapa efek samping yang dapat muncul setelah imunisasi berdasarkan riset yang terbit pada jurnal National Center for Biotechnology Information adalah:
  • Demam
  • Bengkak.
  • Ruam.
  • Nyeri di daerah suntik.
Meski jarang terjadi, ini efek samping yang bisa ditemukan:
  • Kejang.
  • Menangis lama.
  • Episode hipotonik-hiporesponsif, yaitu kekurangan masa otot mendadak, kehilangan kesadaran, dan kulit yang memucat kebiruan.
Efek samping tersebut dapat terjadi dalam satu hingga tiga hari setelah pemberian vaksin, namun biasanya akan hilang dengan cepat.Meski sangat jarang, gangguan kesehatan serius bisa pula terjadi. Misalnya, penurunan kesadaran, kerusakan otak, dan koma. Segeralah bawa anak ke dokter jika ia mengalami kejang, pingsan, tak berhenti menangis selama tiga jam, dan demam di atas 40 derajat Celcius setelah imunisasi.

Bagaimana cara mengatasi demam setelah imunisasi DPT?

Demam merupakan efek samping imunisasi DPT
Demam merupakan salah satu efek samping imunisasi DPT. Meski hal ini tidak bisa dihindari bagi sebagian anak, efek samping demam ini tentu dapat diatasi. Cara mengatasi demam setelah imunisasi ini dibagi menjadi tiga berdasarkan tingkatan suhu demamnya, yaitu:

1. Demam ringan (37,4-38 derajat Celcius)

  • Beri pakaian tipis dan lepaskan pakaian yang dirasa tidak perlu, seperti kaus.
  • Perhatikan suhu ruangan agar senantiasa sejuk.
  • Tingkatkan pemberian minum.

2. Demam sedang (di atas 38-38,9 derajat Celcius)

  • Sama seperti demam ringan, hanya saja beri Ibuprofen atau Paracetamol, tetapi hanya untuk anak usia 6 bulan. Hindari memberikan aspirin untuk anak-anak di bawah 18 tahun, karena dapat menyebabkan sindrom Reye yang mengancam jiwa.

3. Demam tinggi (di atas 39 derajat Celcius)

  • Bawa ke dokter sambil menjaga suhu tubuhnya agar tidak semakin panas dengan pakaian tipis.

Interaksi imunisasi DPT dan obat yang perlu diperhatikan

Pemberian vaksin bersamaan dengan konsumsi obat-obatan tertentu bisa mengubah cara kerja obat atau menimbulkan efek samping yang serius. Berikut obat-obatan yang dapat berinteraksi dengan vaksin DPT:

Komplikasi difteri, pertusis, dan tetanus pada anak

Difteri, pertusis, dan tetanus sama-sama disebabkan infeksi bakteri. Ketiga penyakit ini dapat memicu komplikasi yang serius dan mematikan bila dibiarkan serta tidak diobati. Apa sajakah itu?

1. Difteri

Imunisasi DPT cegah difteri yang menular melalui batuk
Penyakit ini disebabkan oleh bakteri yang mudah menyebar melalui batuk, bersin, atau kontak langsung dengan benda yang terkontaminasi (misalnya mainan). Setelah terpapar bakteri, anak bisa mengalami gejala khas difteri yang berupa selaput putih keabuan pada pangkal tenggorokan.Selain munculnya selaput, masalah pernapasan, lemas, pembengkakan kelenjar getah bening, dan demam juga bisa mendera anak-anak yang terkena difteri.Jika difteri tidak ditangani dan bakteri penyebabnya kemudian memasuki aliran darah, kerusakan jantung, ginjal, dan saraf bisa dialami oleh penderita.

2. Pertusis

Imunisasi DPT cegah pertusis yang membuat bayi lemas
Pertusis atau batuk rejan disebabkan oleh bakteri yang dapat membuat saluran pernapasan membengkak. Sama seperti difteri, penyakit ini juga menular melalui percikan air di udara ketika penderita batuk atau bersin.Gejala-gejala pertusis meliputi demam ringan, apnea, muntah, lemas, dan batuk yang disertai suara tarikan napas keras (whooping). Bila terus dibiarkan, batuk rejan bisa menimbukan komplikasi berupa kejang, napas tersengal-sengal, tekanan darah rendah, hingga pneumonia.

3. Tetanus

Bakteri tetanus masuk melalui luka bisa diatasi dengan imunisasi DPT
Disebabkan oleh bakteri yang banyak ditemukan di tanah, debu, dan pupuk kandang, tetanus bisa masuk melalui kulit yang rusak atau terluka. Penyakit ini dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius, seperti kejang, sulit bernapas dan sulit menelan.Dengan mendapatkan vaksin ini, anak Anda dapat terlindungi dari ketiga penyakit tersebut. Jenis vaksin ini berisi komponen bakteri difteri, pertusis, dan tetanus yang sudah tidak aktif lagi.Ini berarti, komponen bakteri tidak lagi dapat menyebabkan penyakit, tetapi justru memicu tubuh untuk menciptakan kekebalan.

Catatan dari SehatQ

Imunisasi DPT berguna untuk mencegah penyakit difteri, batuk rejan, dan tetanus. Pemberian vaksin DPT bisa dimulai sejak usia 2 bulan dan berakhir pada usia 6 tahun.Jika Anda ingin memberikan vaksin, selalu konsultasikan dengan dokter anak melalui chat dokter di aplikasi kesehatan keluarga SehatQ. Dengan ini, dokter bisa menentukan kapan waktu yang tepat dan mempertimbangkan kondisi kesehatan anak Anda.Jika Anda ingin melengkapi keperluan untuk ibu dan anak, kunjungi untuk mendapatkan penawaran menarik.Download aplikasinya sekarang di Google Play dan Apple Store.
vaksin bayi dan anakdifteritetanusbatuk rejanimunisasi anak
Verywell Health. https://www.verywellhealth.com/what-you-need-to-know-about-the-dtap-vaccine-4156747
Diakses pada 11 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/children/vaccines/dtap-and-tdap-vaccines#1
Diakses pada 11 Desember 2019
WebMD. https://www.webmd.com/drugs/2/drug-151173/daptacel-dtap-pediatricpf-intramuscular/details
Diakses pada 11 Desember 2019
Jurnal Sari Pediatri. file:///Users/riekesaraswati/Downloads/1057-2403-1-SM.pdf
Diakses pada 11 Desember 2019
National Center for Biotechnology Information. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK545173/
Diakses pada 3 November 2020
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait