Cara Menangani Limbah Nuklir Demi Keamanan Lingkungan


Pengelolaan limbah nuklir di Indonesia ditangani oleh Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Pengolahan limbah dilakukan dengan memperhatikan faktor keamanan, agar tetap menjamin kesehatan serta keselamatan pekerja, masyarakat, maupun lingkungan hidup.

(0)
01 Feb 2021|Maria Yuniar
Ditinjau olehdr. Reni Utari
Limbah nuklir di Indonesia dikelola oleh BATANLimbah nuklir bisa berupa zat padat, cair, maupun gas
Setiap negara, termasuk Indonesia, harus memiliki strategi penanganan limbah nuklir secara menyeluruh dan berkelanjutan. Semuanya demi keselamatan sepanjang proses pengelolaannya dalam jangka panjang.Jenis serta tingkat radioaktivitas dari fasilitas nuklir yang beroperasi di Indonesia pun beragam. Oleh sebab itu, proses penanganan limbahnya pun akan menyesuaikan pengelolaan sekaligus pengolahannya.

Limbah nuklir dan berbagai cara penanganannya

Berdasarkan wujudnya, limbah radioaktif atau limbah nuklir dapat berupa zat padat, cair, maupun gas. Paparan radiasi limbah tersebut ke lingkungan harus selalu dikendalikan. Tujuannya, agar konsentrasi limbah tidak melebihi ambang batas yang diizinkan.
Penanganan limbah nuklir dilakukan sesuai wujudnya
Proses pengolahan limbah nuklir dalam wujud cair dan padat dilakukan dengan mengurangi volume dan melakukan proses solidifikasi. Berikut ini penjelasannya.

1. Penanganan limbah PLTN

Pengoperasian pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) akan menghasilkan buangan berupa limbah radioaktiv dengan tingkat aktivitas rendah dan tinggi. Limbah dengan aktivitas rendah ini bisa disimpan pada fasilitas penyimpanan tanah dangkal. Sementara itu, limbah radioaktif dengan tingkat aktivitas tinggi harus dikelola dengan memperhatikan hasil penelitian serta pengembangan terkait di setiap negara.

2. Penanganan limbah bahan bakar

Berbagai fasilitas yang berhubungan dengan bahan bakar nuklir, termasuk fasilitas pengayaan uranium, fabrikasi bahan bakar uranium, maupun fabrikasi bahan bakar mixed oxide (MOX) serta fasilitas pengolahan ulang, akan menghasilkan limbah radioaktif. Salah satunya adalah limbah transuranium (TRU).
  • Limbah radioaktif dengan aktivitas tinggi

    Pengolahan limbah radioaktif aktivitas tinggi alias high level waste (HLW) ini dilakukan dengan memadatkannya untuk menjaga kestabilan limbah. Selanjutnya, hasil pengolahan limbah ini disimpan selama 30-50 tahun lamanya untuk proses pendinginan. Kemudian, limbah disimpan pada tanah dalam, sebagai bagian dari proses penyimpanan lestari.
    Selain itu, jumlah HLW ini dapat dikurangi dengan proses transmutasi, untuk mengurangi waktu yang diperlukan untuk mengurai limbah. Jadi, limbah dapat terurai dalam waktu yang lebih cepat.
  • Limbah uranium

    Limbah uranium membutuhkan waktu panjang untuk terurai, sebagai akibat dari proses konversi, pengayaan, serta fabrikasi urabium yang mayoritas mempunyai tingkat aktivitas rendah. Oleh karena itu, penyimpanan limbah ini harus mempertimbangkan berbagai pilihan yang sesuai.

3. Penanganan limbah dari fasilitas radioisotop dan laboratorium

Limbah yang muncul dari fasilitas radioisotop maupun laboratorium, memiliki tingkat aktivitas yang beragam. Oleh karena itu, penanganannya pun disesuaikan dari bentuk limbahnya. Berdasarkan waktu terurainya limbah yang bisa dikategorikan pendek, limbah kategori ini bisa disimpan di tanah dangkal sebagai cara sederhana.Tujuannya, untuk menunggu penurunan tingkat radioaktivitas dari limbah. Sementara itu pada limbah dengan tingkat aktivitas tinggi, penanganannya perlu memperhatikan hasil penelitian dan pengembangan di setiap negara.

4. Penanganan limbah hasil dismantling

Limbah radioaktif dari aktivitas pembongkaran alias dismantling fasilitas nuklir, harus ditangani dengan memperhatikan keselamatan dan keamanan. Limbah jenis ini bisa berasal dari PLTN, fasilitas radioisotop dan laboratorium, maupun fasilitas daur bahan bakar. Penyimpanan limbah ini pun harus menyesuaikan strategi pengelolaannya.

5. Pengiriman limbah

Jadwal pengiriman limbah dengan tingkat aktivitas rendah dan tinggi, disusun sesuai perjanjian antara pihak penghasil dan pengolah limbah. Selanjutnya, limbah akan disimpan pada lokasi dan jangka waktu tertentu di fasilitas penyimpanan sementara.

Pengelolaan limbah nuklir di Indonesia

Pengelolaan limbah nuklir di Indonesia dilakukan oleh BATAN
Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang di Indonesia dalam mengelola limbah radioaktif. Setidaknya, ada belasan ribu pengguna maupun pemegang izin radioaktif di Tanah Air, termasuk sektor industri, rumah sakit, instansi pemerintah maupun pendidikan.Dengan membayar jasa pengolahan limbah yang akan masuk sebagai penerimaan negara bukan pajak, limbah tersebut akan dikelola oleh BATAN agar tidak mencemari lingkungan. Dengan fasilitas yang terbilang lengkap, dibanding negara-negara lain di kawasan Asia Tenggara, BATAN melakukan proses pengolahan limbah, hingga menyimpannya dengan mempertimbangkan faktor keamanan.Secara lengkap, ketentuan mengenai pengolahan limbah nuklir diatur dalam Keputusan Kepala Badan Pengawas Tenaga Nuklir Nomor: 03/Ka-BAPETEN/v-99 tentang Ketentuan Keselamatan untuk Pengelolaan Limbah Radioaktif.Keputusan ini ditetapkan antara lain karena pemanfaatan zat radioaktif di bidang penelitian, kesehatan, dan industry semakin meningkat. Oleh karena itu, limbah radioaktf harus dikelola untuk menjamin kesehatan dan keselamatan pekerja, masyarakat, serta lingkungan hidup.
alergi lingkunganhidup sehatpolusi udara
BATAN. http://www.batan.go.id/index.php/id/kedeputian/teknologi-energi-nuklir/teknologi-limbah-radioaktif/1516-kelola-limbah-nuklir-batan-tempatnya-2
Diakses pada 22 Januari 2021
BATAN. http://www.batan.go.id/ensiklopedi/05/01/01/02/05-01-01-02.html
Diakses pada 22 Januari 2021
BAPETEN. https://jdih.bapeten.go.id/unggah/dokumen/peraturan/8-1_(PERATURAN)-1557808204.pdf
Diakses pada 22 Januari 2021
Bagikan
Share Facebook
SHare Twitter
Share whatsapp
Share Email
Terima kasih sudah membaca.Seberapa bermanfaat informasi ini bagi anda?(1 Tidak bermanfaat / 5 Sangat bermanfaat)

Artikel Terkait