Lebih Banyak Mana, Efek Buruk Ganja atau Manfaat Ganja untuk Kesehatan?

Di satu sisi, efek ganja bisa menimbulkan gangguan pada otak, di sisi lain, manfaat ganja untuk kesehatan juga beragam
Efek ganja untuk kesehatan bisa berbahaya dan menyebabkan gangguan perkembangan otak

Di Indonesia, penggunaan ganja hingga saat ini masih ilegal. Namun, di beberapa negara lain seperti Amerika Serikat dan Belanda, penggunaan ganja legal untuk dilakukan. Bahkan di kedua negara tersebut, ganja pun dimanfaatkan untuk pengobatan.

Hingga saat ini, efek ganja secara negatif dan manfaat ganja, masih sering menjadi perdebatan. Di satu sisi, tumbuhan yang satu ini terbukti dapat menimbulkan berbagai gangguan seperti menyebabkan delusi, merusak paru-paru, hingga penyakit jantung.

Namun di sisi lain disebutkan, manfaat ganja untuk kesehatan pun bisa beragam, mulai dari membantu meredakan rasa nyeri yang kronis, hingga meringankan depresi.

Kandungan ganja yang memengaruhi tubuh

Ganja, terbuat dari tanaman dengan nama yang sama. Tanaman ganja sendiri, disebutkan mengandung lebih dari 500 jenis zat kimia. Tanaman ini juga bisa memberikan efek psikoaktif atau membuat pikiran menjadi linglung.

Pada tanaman ganja, terdapat dua komponen utama, yaitu THC dan CBD. Keduanya dapat memberikan pengaruh yang berlawanan di tubuh.

• THC

THC memiliki nama panjang delta 9-tetrahydrocannabinol. Komponen inilah yang menyebabkan ganja memiliki sifat psikoaktif. Apabila Anda merokok ganja, maka zat ini akan masuk ke paru-paru lalu ke pembuluh darah, dan lanjut hingga ke otak.

THC akan menstimulasi bagian otak yang berhubungan dengan kepuasan, seperti makanan dan seks. Stimulasi ini akan memicu keluarnya dopamin, yang menyebabkan pengisap ganja seringkali terlihat teler.

• CBD

CBD atau cannabidiol, merupakan komponen ganja yang disebut bisa memberikan manfaat untuk kesehatan. CBD tidak akan membuat penggunanya teler. Komponen ini disebut bisa melawan efek yang ditimbulkan THC, serta meredakan perasaan paranoid dan kecemasan.

Efek ganja dalam jangka pendek untuk kesehatan

Efek ganja, bisa timbul dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Sebuah penelitian menyebutkan, beberapa kondisi ini bisa muncul sebagai efek ganja dalam jangka pendek.

  • Gangguan daya ingat. Hal ini yang membuat pengguna ganja mengalami kesulitan belajar dan menerima informasi.
  • Penurunan kemampuan motorik tubuh. Pengguna ganja akan kesulitan mengendarai kendaraan, dan berisiko lebih besar mengalami kecelakaan maupun cedera.
  • Pikiran menjadi kacau. Pengguna ganja berisiko lebih besar melakukan hubungan seksual berisiko tinggi, dan menyebabkan terjadinya penyakit menular seksual.
  • Gangguan mental. Pada dosis yang tinggi, ganja bisa menyebabkan timbulnya psikosis dan paranoia.

Efek ganja untuk kesehatan pada penggunaan jangka panjang

Jika ganja digunakan dalam jangka panjang, maka efek yang ditimbulkannya pun akan berbeda, dari pemakaian untuk jangka pendek. Kondisi-kondisi yang bisa timbul sebagai efek ganja jangka panjang, yaitu:

1. Menimbulkan masalah perkembangan otak

Salah satu efek ganja jangka panjang yang perlu diwaspadai adalah pengaruhnya terhadap kesehatan otak. Apabila seseorang mulai menggunakan ganja sejak remaja, maka zat yang di dalamnya bisa memengaruhi perkembangan otak, daya ingat, serta kemampuan belajar.

Salah satu penelitian bahkan menyebutkan, orang yang sejak remaja sudah menggunakan ganja dan bertahan hingga dewasa, nilai IQ-nya akan berkurang sebanyak 8 poin, pada usia 13-38 tahun.

2. Menyebabkan gangguan pernapasan

Umumnya, ganja digunakan dengan cara dihisap seperti rokok. Sehingga, penggunaan ganja juga bisa menimbullkan iritasi pada paru-paru. Orang yang sering merokok ganja, juga memiliki gangguan pernapasan yang sama, dengan perokok lainnya.

Gangguan yang bisa muncul antara lain batuh berdahak, lebih sering mengalami gangguan yang berkaitan dengan paru-paru, dan risiko infeksi paru yang lebih tinggi.

3. Meningkatkan detak jantung

Salah satu efek ganja yang berbahaya adalah meningkatkan detak jantung, bahkan hingga tiga jam setelah penggunaannya. Peningkatan detak jantung, akan membuat pengguna ganja lebih berisiko terkena serangan jantung.

4. Memengaruhi perkembangan janin dan bayi

Ibu hamil yang menggunakan ganja, bisa menimbulkan bahaya bagi janin. Penggunaan ganja pada ibu hamil bisa membuat bayi lahir dengan berat badan rendah, dan meningkatkan risiko munculnya gangguan pada otak, maupun perilaku anak nantinya.

5. Menyebabkan mual dan muntah-muntah

Penggunaan ganja secara rutin dalam jangka waktu panjang, bisa menyebabkan timbulnya cannabinoid hyperemesis syndrome (CHS). Kondisi ini akan membuat pengguna ganja sering muntah, mual, dan dehidrasi, hingga membutuhkan penanganan medis.

6. Menimbulkan gangguan mental

Efek ganja lainnya yang perlu diwaspadai adalah hubungannya dengan gangguan mental. Pengguna ganja dalam jangka panjang, bisa mengalami kondisi-kondisi mental seperti halusinasi sementara, paranoid, dan memperparah gejala pada penderita skizofrenia.

7. Menimbulkan keracunan

Penggunaan ganja, tidak hanya diiisap. Ada beberapa orang yang menggunakan ganja sebagai campuran untuk makanan maupun minuman. Ganja dengan jenis ini disebut dengan edibles.

Penggunaan ganja dengan cara dimakan, akan meningkatkan risiko keracunan. Pasalnya, efek ganja tidak akan langsung muncul jika Anda mengonsumsinya. Butuh waktu sekitar beberapa jam, hingga efek muncul. Sehingga, tidak sedikit orang yang sudah terlanjur mengonsumsinya secara berlebihan.

Manfaat ganja untuk kesehatan

Penelitian mengenai manfaat ganja untuk kesehatan masih terus dilakukan. Tentu, jenis ganja untuk pengobatan, juga berbeda dari yang digunakan untuk keperluan lain.

Saat ini, telah ada beberapa manfaat ganja yang bisa disebut-sebut berguna untuk kesehatan, seperti:

• Bisa menyembuhkan nyeri kronis

Kandungan CBD yang ada pada ganja, disebutkan dapat membantu mengatasi rasa nyeri kronis di tubuh. Di negara-negara yang melegalkan penggunaan ganja untuk pengobatan, CBD sudah sering dimanfaatkan untuk mengatasi kondisi ini.

• Membantu meredakan depresi, PTSD, dan gangguan kecemasan sosial

Penggunaan ganja juga dipercaya membantu meredakan depresi dan post-traumatic stress disorder (PTSD). Namun, penggunaan ganja tidak disarankan untuk gangguan mental lain, seperti bipolar dan psikosis.

• Meredakan gejala yang timbul akibat kemoterapi

Orang yang menjalani kemoterapi, umumnya akan mengalami gejala seperti mual dan muntah. Penggunaan ganja, disebutkan bisa membantu untuk meredakan gejala tersebut.

• Membantu menangani jenis epilepsi tertentu

CBD pada ganja, disebut bisa membantu mengatasi epilepsi jenis tertentu, yaitu Lennox-Gastaut Syndrome dan Dravet Syndrome. Jenis epilepsi ini masih langka dan sulit untuk dikontrol dengan obat-obatan jenis lain.

Penelitian lebih jauh mengenai efek ganja secara negatif maupun manfaat ganja, masih diperlukan. Pasalnya, mungkin saja di masa mendatang, peneliti menemukan efek baru atau manfaat baru dari ganja, sebagai acuan untuk mengenali lebih jauh mengenai pengaruh tanaman yang satu ini.

National Institute on Drug Abuse. https://www.drugabuse.gov/publications/drugfacts/marijuana
Diakses pada 31 Juli 2019

Centers for Disease Control and Prevention. https://www.cdc.gov/marijuana/health-effects.html
Diakses pada 31 Juli 2019

Medical News Today. https://www.medicalnewstoday.com/articles/320984.php
Diakses pada 31 Juli 2019

WebMD. https://www.webmd.com/mental-health/marijuana-use-and-its-effects#1
Diakses pada 31 Juli 2019

NCBI. https://www.webmd.com/mental-health/marijuana-use-and-its-effects#1
Diakses pada 31 Juli 2019

Artikel Terkait

Banner Telemed